O yang Bukan Milikmu

May 06, 2018 09:17
Ilustrasi Puisi by Nana
Ilustrasi Puisi by Nana

O yang Bukan Milikmu

*dd nana

1)

Dia menatap dengan mata yang masih diingatnya dulu. 

Mata kelinci serupa O yang ditikam ngeri. Mata yang membuatnya ingat. Tentang lingkaran yang masih gulita dan dimasukinya. Tentang angka dan huruf berserak yang dia raup,  sebagian jatuh dari saku celana yang dipakainya. 

Rumus-rumus yang akhirnya mengalir menjadi belantara di jutaan kepala. Petaka. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 49

Itu sebelum dirinya datang. Dengan mata O yang utuh walaupun terlihat rapuh. 

Ini cinta. Bukan rumus dari gua. Ini cinta. Yang membuat gigil mereda. Ini cinta yang akan membuatmu tertawa. 

Tapi mata O mu waktu itu, puan, terlihat sepia. Tertangkap ngilu dalam keindahan yang tak ada dalam rumus-rumusku. 

Formula apa yang membentuk cinta. Mata yang seperti O yang bagaimana bisa memahaminya. 

Dia menatap dengan mata yang masih diingatnya dulu. Tapi,  tak lagi disodorkannya cinta. Padahal,  dia mulai menapakkan kaki ini di garisnya. 

Tuan, cinta memang berasal dari formula asing. Tak beraksara,  tak berangka. Aku gila karenanya. Maka aku serahkan ini saja. O. 

Kau pun terisak,  terisap dalam lingkaran yang dulu pernah dimasukinya. Dan garis yang mulai samar itu perlahan melenyapkan dirinya. Samar menuju gulita yang sempurna. O. 

2)

Baca Juga : KITAB INGATAN 49

Dia percaya,  bahwa bumi ini serupa donat. Bahkan sebelum galileo berdebat dengan para pemuka agama. Atau sebelum colombus berlayar dan meniru perahu nuh yang dipenuhi doa kehidupan. 

O, O, O... Itu yang kau lisankan dan mereka tercengang dengan mata bulat ke langit yang tidak dikenal. 

Sebelum seseorang yang meredam O, menyalibnya di sebuah bukit gersang dengan langit bolong serupa O. 

tuhan tidak ingin diusik orang gila. 

3)

Dia lukis lingkaran 

Nol atau O? 

Lidah samudera akhirnya menghapusnya. Dia lukis lagi lingkaran di setiap tepi yang rapuh sepanjang pikiran dan hatinya yang terbakar. 

Lidah samudera rajin menghapusnya dan mengantarkan pesan lewat debur ombak. 

Pulanglah, ada waktu untuk kita bersekutu. Kini,  aku sedang menjalankan skenario lain untukmu. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru