Dokumentasi pembersihan Ranu Pani antara TNBTS bersama masyarakat setempat pada Maret lalu. (Foto: TNBTS for MalangTIMES)
Dokumentasi pembersihan Ranu Pani antara TNBTS bersama masyarakat setempat pada Maret lalu. (Foto: TNBTS for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Keindahan Ranu Pani kini tak dapat lagi dinikmati wisatawan. Pasalnya, permukaan salah satu danau yang berada di kaki Gunung Semeru ini tertutup gulma air berupa kiambang atau Salvinia molesta. Tak hanya mengurangi daya tarik, gulma juga mengganggu ekosistem di kawasan tersebut. 

Untuk mengatasi permasalahan ini, Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) menggelar event bertajuk 'Berpacu Menyelamatkan Ranu Pani di Kaki Semeru' pada Minggu (29/4/2108) mendatang. Pada kegiatan ini,  BB TNBTS mengajak masyarakat luas dan pecinta lingkungan untuk berpartisipasi secara sukarela bergotong royong ikut membersihkan Ranu Pani dari kiambang.

Kepala Balai Besar TNBTS John Kennedie mengatakan, persoalan yang terjadi di Ranu Pani harus menjadi perhatian para pihak baik  pemerintah daerah maupun kementerian terkait dan juga masyarakat luas. "Saat ini Ranu Pani menghadapi permasalahan tertutupnya permukaan Ranu oleh kiambang atau lebih dikenal dengan Salvinia molesta. Ini menjadi tanggung jawab bersama dalam rangka pembersihan," kata John Kennedie, hari ini (27/4/2018) melalui rilis resminya.

Untuk diketahui, Salvinia molesta merupakan salah satu jenis invasive asing yang berasal dari Amerika Selatan. Hingga saat ini, belum diketahui penyebab penyebaran invasive asing itu sampai menutupi permukaan danau. "Enam ekosistem ranu harus dijaga karena menjadi daya tarik khas yang dimiliki oleh TNBTS. Meliputi Ranu Regulo, Ranu Pani, Ranu Kumbolo, Ranu Darungan, Ranu Tompe dan Ranu Kuning," papar dia.

Selain event tersebut, di tahun 2018 TNBTS telah berupaya melakukan kegiatan pembersihan bersama masyarakat pada Maret lalu. "Kegiatan tersebut menggunakan metode manual alat sederhana berupa bambu, garpu sampah, tampar dan perahu untuk mengangkut Salvinina ke tepi ranu, dengan menggerakan partisipasi masyarakat Ranu Pani setiap harinya," ungkap John.

Dengan peralatan manual dan pelibatan masyarakat tersebut, sambungnya, kiambang yang berhasil dibersihkan dari permukaan Ranu Pani mencapai sekitar 50 persen. "Penggunaan alat manual ini  terbukti efektif dibandingkan dengan  menggunakan  alat katrol atau alat mekanis lainnya yang memakan biaya lebih besar," imbuhnya.

John menambahkan, upaya pembersihan Ranu Pani dari kiambang juga dilakukan di tahun 2017 lalu. Namun dikarenakan gulma tersebut tumbuh dengan cepat, pertumbuhannya sulit diatasi. "Untuk mengatasi permasalaham ini, kami juga menyiapkan kegiatan pengendalian salvinia dengan konsep patroli seputaran Ranu Pani  yang akan dilakukan berkelanjutan setiap dua bulan sekali untuk memantau sekaligus pembersihan jika masih terdapat sisa-sisa salvinia," tuturnya.

Selain aksi di lapangan, saat ini TNBTS sedang menyusun Rencana Pemulihan Ekosistem Ranu Pani yang akan menjadi pedoman dalam penanganan jika masalah serupa kembali terjadi di kemudian hari. Selanjutnya rencana aksi itu juga akan dibahas dalam kegiatan workshop yang melibatkan pemerhati TNBTS, akademisi dan praktisi pemulihan ekosistem. "Persoalan Ranu Pani faktanya tidak hanya pada tertutupnya permukaan dari Salvinia molesta. Namun ada pemicu lain, yaitu sedimentasi Ranu Pani karena adanya aktivitas buangan pertanian yang bermuara di sana," tandasnya.

Untuk itu, dua persoalan besar yang dialami Ranu Pani tersebut dinilai menjadi tantangan TNBTS untuk diselesaikan bersama. "Kegiatan pemulihan ekosistem ini tidak hanya berhenti, tetapi akan terus di dilakukan sampai permukaan Ranu Pani bersih 100 persen dari  gangguan kiambang," pungkas John.