Komunitas Pelukis Kepanjen: Gedung Kesenian Sudah Saatnya Ada Di Kepanjen

MALANGTIMES - Kepanjen memiliki sejarah cukup panjang sebagai wilayah yang melahirkan berbagai seniman besar. Khususnya di dunia seni lukis dan gambar. Sebut saja misalnya Teguh Karya yang membawa Kepanjen sebagai wilayah industri komik di tahun 1970-an. 

Seni lukis Kepanjen pun terus terawat di tengah berbagai profesi seni lainnya. Seniman-seniman Kepanjen terbilang banyak dan produktif dalam berkarya. Sayangnya, keberadaan aset besar di ibu kota Kabupaten Malang dalam seni lukis belum terlihat menggeliat. Misalnya dibandingkan dengan beberapa kota lain yang mulai terlihat marak dengan adanya galeri lukis sampai pada ruang-ruang pameran yang terbilang representatif. 

"Kalau galeri pribadi di sini  tidak ada. Apalagi galeri atau gedung khusus. Yang ada ya rumah pelukis yang kadang disulap jadi sanggar mengajar gambar atau lukisan. Sekaligus untuk menyimpan hasil karya," kata Arif Budiman, salah satu pelukis yang bernaung di Komunitas Pelukis Kepanjen, saat ditemui dalam pameran lukis dan gambar di Pendopo Kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang. 

Ketiadaan galeri atau ruang khusus dalam mewadahi hasil karya lukis para seniman,  membuat Komunitas Pelukis Kepanjen yang telah berdiri sejak tahun 2005 dan memiliki anggota sebanyak 50 orang seniman, kerap terkendala dalam memamerkan hasil karya lukisnya dalam suatu pameran. 

Kalau pun berpameran,  mereka memanfaatkan moment hari nasional serta fasilitas pemerintahan daerah. Seperti pameran lukis dan gambar di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Malang yang dilaksanakan dalam menyambut Hari Kartini. 

Arif beserta seniman lukis lainnya memiliki impian besar terhadap adanya ruang atau gedung kesenian yang berada di ibu kota Kabupaten Malang ini. 

"Sudah saatnya Kepanjen memiliki gedung kesenian yang bisa dipergunakan oleh para seniman. Baik untuk pameran lukisan,  pementasan atau diskusi seni. Selain Kepanjen sebagai pusat kota,  juga memiliki sejarah seni yang panjang juga. Saatnya miliki gedung kesenian," ujarnya kepada MalangTIMES. 

Senada dengan Arif,  Ateng Sanjaya juga menyatakan hal serupa. Ketidakadaan gedung kesenian membuat seni lukis di Kepanjen tidak bisa tumbuh pesat dibanding kota lainnya. 

"Kalau pameran di ruang pemerintahan seperti ini,  masyarakat jarang yang datang. Ada perasaan sungkan atau takut, mereka datang ke lokasi pemerintahan," ujarnya saat ditemui MalangTIMES di lokasi pameran lukis dan gambar yang sepi pengunjung.  

Impian Ateng juga sama dengan beberapa seniman lukis Kepanjen,  yang berharap besar kepada pemerintah untuk bisa mewujudkan kembali Kepanjen sebagai kota seni seperti masa jayanya dulu. 

Salah satu jalannya adalah dengan adanya prasarana kesenian yang memadai bagi hasil karya lukis Kepanjen. Gedung kesenian bisa menjadi awal akan kebangkitan para seniman lukis Kepanjen yang telah lama bermimpi memiliki ruang tersebut. 

"Dengan adanya gedung kesenian,  para seniman bisa lebih leluasa memamerkan karyanya. Kalau di ruang terbuka memang rada riskan. Ini pula bisa jadi ruang menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap kesenian," pungkas Ateng. 

Top