M Yekti Pracoyo Kabid Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang menyatakan sinkronisasi dengan OPD lain penting dalam membuat program kerja yang tepat, Rabu (25/04) (Foto: Nana/ MalangTIMES)
M Yekti Pracoyo Kabid Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang menyatakan sinkronisasi dengan OPD lain penting dalam membuat program kerja yang tepat, Rabu (25/04) (Foto: Nana/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Malang, tidak hanya bergulat dengan persoalan Pekerja Migran Indonesia (PMI) saja. Tapi juga serius melakukan beberapa terobosan dalam menciptakan peluang kerja masyarakat melalui berbagai pelatihan berkelanjutan. 

Baca Juga : Ahmad Riza Patria Resmi Dilantik Wakil Gubernur Jakarta, Kerja Mulai Besok

Bukan sekedar pelatihan saja yang terus dilahirkan oleh Disnaker Kabupaten Malang. Tapi, pelatihan yang difokuskan pada kebutuhan masyarakat riil serta peluang besar yang kini terus menggeliat di berbagai wilayah, yaitu di dalam sektor pariwisata. 

Sinkronisasi di beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait pun menjadi keniscayaan dalam meracik program kerja tersebut. Maka, lahirlah beberapa program kerja berbentuk pelatihan berbasis pariwisata dari tubuh Disnaker Kabupaten Malang. 

M Yekti Pracoyo Kepala Bidang (Kabid) Pelatihan dan Produktivitas Disnaker Kabupaten Malang, secara lugas menyampaikan hal tersebut kepada MalangTIMES. Lewat sinkronisasi kerja dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappenda), dihasilkan program kerja pelatihan yang lebih efektif serta sesuai dengan kebutuhan masyarakat. 

"Lewat koordinasi kita mengetahui potensi apa saja yang perlu diperkuat oleh Disnaker sesuai tupoksinya. Dan kita telah melakukan hal tersebut dengan Disparbud maupun Bappenda," kata Yekti kepada MalangTIMES, Rabu (25/04). 

Yekti melanjutkan,  dari hasil sinkronisasi tersebut, pihaknya memiliki data potensi mengenai pariwisata yang memerlukan penguatan melalui pelatihan di dalam masyarakatnya. Hal ini didasarkan geliat pariwisata yang  didongkrak dengan berbagai pembangunan infrastruktur,  khususnya di Malang Selatan,  belum berbanding searah dengan masyarakat di sekitarnya. 

"Misal kemampuan berbahasa asing di masyarakat. Ini yang kita fasilitasi melalui pelatihan yang akan kita laksanakan di Desa Gubuk Klakah, Ngadas, Poncokusumo," ujar Yekti.

Baca Juga : Target Agustus, Mal Pelayanan Publik Kota Malang Dimungkinkan Molor

Lahirnya jenis pelatihan tersebut merupakan hasil koordinasi dan sinkronisasi pihaknya dengan OPD lain. Selain pelatihan bahasa asing, ada juga pelatihan kerajinan tangan anyam bambu di Boonpring,  Turen. Atau pelatihan mengenai keahlian mengolah makanan dan minuman yang akan melengkapi sektor pariwisata. 

Jenis pelatihan ini didasarkan pada geliat pariwisata yang begitu besar di ruang tersebut. Tercatat Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) pariwisata di bidang tersebut mencapai Rp 2,4 triliun. Padahal,  ini belum secara maksimal tereksplorasi di masyarakat wisata yang ada di berbagai wilayah Kabupaten Malang. 

"Potensi luar biasa lebar inilah yang kita masuki melalui program pelatihan berbasis kepariwisataan," ujar Yeti yang juga menegaskan dengan koordinasi dan sinkronisasi  lintas OPD,  maka program kerja kepada masyarakat akan semakin terstruktur. 

"Dan tentunya ini juga yang diamanahkan dalam visi misi Kabupaten Malang dalam menyukseskan tiga pilar kerja strategis di seluruh OPD yang ada," pungkas Yekti.