Namanya Kartini

Apr 22, 2018 09:33
Ilustrasi ( womantalk)
Ilustrasi ( womantalk)

Namanya Kartini

*dd nana

(1)

Dia tidak berkebaya rambutnya tergerai merdeka tanpa tusuk konde dan ia suka. Namanya Kartini. 

Bersuara nyaring serupa tangis bayi yang rindu air susu ibu. Ibu yang tidak bisa dia kenang aroma keringatnya. Ibu yang tidak bisa dia lukis parasnya.

Namanya Kartini serupa dia yang entah kenapa disebut Kartini juga. Serupa kalimat yang dia baca disuatu senja dalam sebuah buku tua. 

Nama disandang untuk dirawat,  nak. Serupa tanaman, serupa rumah yang setiap hari meminta untuk dibersihkan. Agar tidak ada sarang laba-laba,  kecoa,  tikus dan setan berwajah buruk rupa. 

Mereka tidak menyukai namaku,  bapak. Kata mereka,  aku tidak serupa Kartini yang mereka kenal. Rambutku tergerai dan tidak berkebaya. Sikapku sebebas udara yang hinggap dimanapun aku mau. 

Tidak ada pengikat dalam lakuku. Hanya kebenaran yang dituturkan turun temurun yang jadi langkahku. 

Tapi aku tetap Kartini yang benci para setan di rumahku sendiri. Kartini yang melawan saat mereka mencoba menggagahi sesuatu yang dititipkan Tuhan. Sesuatu yang harus kujaga sampai nyawa taruhannya. 

Apakah Kartini yang kau sebut ibuku juga itu,  serupa aku? 

Sang Bapak melengos dan hujan pun turun. Deras mengguyur sejarah beraroma anyir darah. Dari ladang-ladang, hutan pekat, pabrik, sungai dan laut. Bahkan sampai di setiap keropos gubuk Kartini. 

Takdir telah ditetapkan nak. Kartini harus melawan para ular beludak. Walau tanpa konde dan kebaya yang kerap disalahtempatkan. Serupa ibumu yang lenyap di pinggir kali yang airnya mengaliri pedukuhan sepi yang kini hiruk pikuk oleh mesin. 

Namaku Kartini. Perempuan sepi yang dipilih waktu untuk melawan hegemoni. Tapi,  biarkan saja aku dengan diriku,  bapak. Tak ingin aku dibelenggu dan jadi boneka parade semata. 

Tak perlu aku berkonde,  cukup tusuk runcingnya yang aku minta. 

Tak perlu aku berkebaya, bahkan dengan telanjang aku bisa melawan. Saat mata para ular beleduk terlalu lapar dan segala kesopanan yang mereka bawa melalui busana,  entah di buang kemana. 

(2)

Kartini melarungkan kebayanya Yang memanjang menuju cahaya dan mencatat segala yang kini disebut biasa. Kebebasan untuk setara dan bicara sebagai manusia. 

(3)

Bahkan kerasnya batu akhirnya menuju ikhlas pada tetes air yang menimpanya,  tapi tentunya manusia bukan batu. Yang mudah pasrah pada kehendak tetes air mata semata. 

Bahkan alir air mata Kartini yang mengalir melalui ratusan waktu di kali sejarah,  tak menghapus tabiat kita. 

Dari upeti menjelma korupsi. Sedang air mata tetaplah air mata. 

Bahkan air mata kini begitu mudah direkayasa serupa paras para serigala yang menjelma domba. 

Kartini membatu di kebaya berkilau dan konde-konde dalam parade di jalanan dan kantor-kantor pemerintahan. 

Air matanya masih mengalir. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimeskartiniHari Kartini

Berita Lainnya

Berita

Terbaru