MALANGTIMES - Kebiasaan buang sampah sembarangan, terutama sampah plastik masih kerap ditemui di Kota Malang. Lihat saja misalnya, di seputar Jalan Ijen usai penyelenggaraan Car Free Day (CFD). Atau juga di pusat-pusat keramaian massa.

Hal tersebut membuat Pemerintah Kota (Pemkot) Malang menerbitkan Surat Edaran (SE) Nomor: 660/829/35.73.307/20 tentang Himbauan Pengurangan Penggunaan Plastik. Surat tersebut diteken Pjs Wali Kota Malang Wahid Wahyudi pada 9 Maret lalu. 

Dalam SE itu, pemerintah mengajak tujuh elemen untuk menjadi pilot project diet plastik alias pengurangan sampah plastik di Kota Malang. Pertama yakni seluruh kepala perangkat daerah atau dinas-dinas di lingkungan Pemkot Malang. Kedua, jajaran samping yakni lembaga TNI dan POLRI. Ketiga, lembaga negara, instansi vertikal, BUMN, dan BUMD.

Imbauan juga disampaikan pada perusahaan-perusahaan swasta dan lembaga masyarakat. Kelima, pada elemen pendidikan baik itu sekolah, madrasah dan pondok pesantren. Keenam, rumah sakit, puskesmas, serta fasilitas kesehatan lainnya. Dan yang ketujuh yakni komunitas-komunitas peduli lingkungan.

Wahid mengungkapkan, penerbitan surat edaran tersebut merupakan pelaksanaan kebijakan nasional tentang pengelolaan sampah berupa pengurangan sampah plastik. Selain itu juga menindaklanjuti surat edaran Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan tanggal 26 Februari 2018 Nomor: SE.3/UM/RT/SET. 1/2/2018 tentang Himbauan Penyediaan Hidangan Rapat Bebas Kemasan Plastik.

"Elemen-elemen tersebut kami harap mengurangi penggunaan plastik di setiap pelaksanaan rapat, koordinasi, sosialisasi atau pelatihan dan kegiatan sejenis di gedung maupun hotel. Kami harap panitia menyediakan hidangan rapat menggunakan bahan organik atau bahan yang mudah terurai, contohnya seperti daun atau kertas," urainya. 

Tak hanya itu, setiap kantin-kantin di kantor dan sekolah juga diminta untuk tidak menjual makanan berkemasan plastik. "Jika gerakan ini dilaksanakan maka akan mengurangi jumlah sampah secara signifikan. Mengingat di Kota Malang setiap harinya memproduksi 630 ton sampah dan hanya 30 persen saja yang dapat di daur ulang," tegas Wahid.

Selain itu, dia juga mengajak masyarakat untuk beramai-ramai memanfaatkan keberadaan Bank Sampah Malang. Sehingga, sampah yang ada juga dapat bernilai ekonomis. "Sampah dari plastik memang perlu diperangi karena butuh 100 tahun untuk mengurainya," pungkasnya.