Bupati Malang Rendra Kresna: Tentang Agama, Jangan Pakai Translate atau Tanya Mesin

Apr 18, 2018 13:27
Bupati Malang Rendra Kresna menyampaikan untuk persoalan agama dan keimanan. belajarlah kepada kiai, ulama, atau ustad yang keimanannya terjaga, bukan pada mesin. (for MalangTIMES)
Bupati Malang Rendra Kresna menyampaikan untuk persoalan agama dan keimanan. belajarlah kepada kiai, ulama, atau ustad yang keimanannya terjaga, bukan pada mesin. (for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Kemudahan yang dibawa teknologi dalam urusan kehidupan di satu sisi memang dirasa bermanfaat. Tapi,  ada beberapa hal yang tidak serta merta bisa dijangkau oleh keberadaan dan canggihnya teknologi buatan manusia. 

Agama dan keimanan adalah hal yang tidak akan tuntas, apalagi memberikan pencerahan, bagi manusia apabila segala hal yang terkait di dalamnya hanya dipasrahkan kepada kecanggihan teknologi. Contoh keyakinan yang akhirnya menjadi bentuk keimanan bagi pemeluk agama Islam adalah peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW. Peristiwa yang tidak bisa dinalar manusia dan tentunya tidak bisa dijawab oleh mesin secanggih apa pun. 

Saat manusia ngotot mencari pembenaran secara logika dengan bantuan mesin,  misalnya Google, maka tidak akan terkuak bagaimana jasad berdarah dan daging bisa menembus langit ketujuh. Atau kendaraan seperti apakah buraq yang dipakai Nabi Muhammad ber-Isra Mikraj,  baik bentuk, penciptaannya sampai pada kecepatannya membawa Muhammad ke arsy yang jaraknya 10 miliar tahun cahaya. 

Begitulah yang disampaikan Bupati Malang Dr H Rendra Kresna dalam sambutannya di acara peringatan Isra Mikraj di pendapa Kabupaten Malang Jalan Panji,  Kepanjen,  Rabu (18/04). 

Rendra juga menyampaikan, secanggih apa pun teknologi yang bisa menambah pengetahuan manusia,  tidak semuanya bisa secara instan didapatkan di sana. "Apalagi urusannya mengenai agama dan keimanan. Tentu perlu adanya guru yang membimbingnya. Guru ini tentunya bukan mesin,  tapi para ulama,  kiai atau ustad yang keimanannya terjaga," ujar ketua DPW Partai NasDem Jawa Timur (Jatim) ini kepada ratusan orang yang hadir dalam peringatan tersebut. 

Terjemahan atau translate bahasa yang disediakan oleh mesin pun,  kaitannya dengan konteks keagamaan maupun kitab suci Alquran, tidak bisa dijadikan rujukan dalam memahami keislaman secara utuh.

Asbabun nuzul tidak bisa begitu saja diselesaikan oleh mesin translate atau terjemahan.  "Karena sebab-sebab turunnya ayat  Alquran tidak hanya tentang persoalan bahasa yang mudah diterjemahkan. Ada yang tersurat dan tersirat. Ini semua butuh para guru yang secara ilmu dan keimanannya terjaga," ujar Rendra. 

Apabila seluruh persoalan dalam keagamaan dan keimanan hanya didasarkan mutlak pada mesin,  maka akan tercipta kesalahan dalam melakukan penafsiran dan pemahaman yang utuh dalam hal tersebut. 

"Ini tentunya berbahaya. Banyak contoh penafsiran yang salah melahirkan pemahaman kerdil tentang agama. Akibatnya agama yang mengajarkan kebaikan dan kedamaian jadi terlihat menakutkan, " imbuh Rendra yang juga berharap kepada generasi muda untuk terus belajar secara langsung kepada para ahli dalam bidangnya masing-masing, bukan hanya kepada mesin yang juga buatan manusia juga. (*)

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
Berita MalangBUPATI MALANGRendra KresnaPeringatan Isra Mikrajtentang AGAMA jangan translate dan tanya mesin

Berita Lainnya

Berita

Terbaru