Ingatan Tak Perlu Disajikan Seutuhnya, Sayang

Apr 15, 2018 08:00
Ilustrasi puisi (nusantaranews.co)
Ilustrasi puisi (nusantaranews.co)

*dd nana

(1)

Pulanglah, waktu yang diperjanjikan telah usai,  sayang. 

Pesta telah mengatupkan matanya,  walau kita tak pernah bosan untuk terjaga. Membaca segala rindu yang tak tandas di tubuh kita. 

Pulanglah. Tapi kumohon, segala peristiwa yang kau masukan dalam ingatan,  pilah dan sajikan secara proporsional. Jangan lupa tambahkan dengan sedikit kebohongan. 

Karena tidak semua kabar akan menyuburkan kebahagian. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Bahkan kepada mereka yang telah menjadi bebatang dan ranting pohon yang kau namakan rumah. 

Pulanglah,  karena tubuh kita butuh pintu dan celoteh kanak-kanak di dalamnya. Tapi simpanlah lukamu,  sayang. Dengan rapi dengan sedikit kebohongan. 

Karena peristiwa yang kita tuliskan,  tak perlu untuk diperbincangkan. Biar Tuhan yang menerakan jawaban di kotak-kotak bersilang yang menunggu untuk diisi. 

Sedang kita, tak pernah mampu untuk memenuhi kotak itu. "Rindu telah membuat kita sibuk untuk memikirkan yang lainnya. Dan waktu selalu saja begitu gegas untuk memberaikan raga, ". 

Pulanglah,  sayang. Jangan lupa bawa sedikit kebohongan,  agar kita bisa menanggung luka dengan senyum pagi. Yang mengetuk ketuk jendela rindu dengan lembut. 

(2)

Di secangkir kopi,  batang rindu menguat. Warnanya terlihat biru dengan gurat urat pekerja. 

Aku terkesima sebelum ingatan menamparku keras. Dorong rindumu hingga ke ujung paling tepi, lantas seretlah lagi. 

Hingga kau serupa biji kopi. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Larut bersama dzat lain dan tawakal karenanya. Tak perlu aduh gaduh. Tak perlu ada air mata yang jatuh. 

(3)

Jangan kau rumahkan ingatan. 

Biarkan saja dia tergeletak sunyi di ceruk-ceruk batu yang tak kau kenali. 

Percayalah, ingatan akan tumbuh sendiri dan kelak kau lah yang akan disapanya. 

Disebuah tempat yang tak ingin kau rumahkan,  kau namakan. 

Cinta? 

(4)

Bangunlah sayang. Matahari telah terang. Dan kewajiban harus gegas untuk diselesaikan. 

Tanamlah rindu di almanak kamar. Jangan kau bawa pulang.  Kelak, kita petik lagi di sini. 

Semoga rindu tumbuh melebat di almanak yang tahunnya tak penting untuk kita ingat. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru