Sunyi Tak Seharusnya Kau Catat Sedemikan Parah

Apr 08, 2018 07:28
Ilustrasi puisi (Istimewa)
Ilustrasi puisi (Istimewa)

Sunyi Tak Seharusnya Kau Catat Sedemikan Parah

*dd nana

1)

Ada yang melambai padaku

Saat sore ditikam gerimis dan secangkir kopi piatu 

Tak terjamah dan dihujat ragu

Atas lambaian tangan dan senyum yang ku kenali akrab dalam mimpi

Sebelum tanganku terangkat dan senyum dipersiapkan

Waktu melabrak lambaian itu. Membawanya jauh

Ke ruang yang tak mampu aku datangi secara utuh.

Bahkan, serpih rindu yang menua di perjalanan, menuju senyummu

Tak lagi mampu mengetuk halus telapak tangan yang melambai itu.

Ada yang melambai padaku

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Kopi yang piatu dan yatim-nya air mata dari sepasang mata

Yang telah dilamurkan catatan-catatan yang tak seharusnya di 

Catat.

2)

Mengingatmu, selalu ada yang lepas

dengan detak yang retak

Air mata yang tak memiliki jalan pulang, walau kelak

Katamu, cinta akan mencari jalannya sendiri.

Aku mengingat ucapmu, walau aku catat dengan nafas serupa 

Peziarah yang disesatkan cinta. Menua dalam rindu yang tak bisa pulang atau

Kembali ke muasal perjalanan.

3)

Daun pintu yang ku ketuk berulang-ulang

Dengan buku jemari berlarik tiga yang hampir sama panjangnya

Membalas dengan suara sunyi paling gigil

Tepat menuju ruang hati tanpa daun pintu

Aku.

Kau semakin bersembunyi pada kewajiban yang melingkar di buku

Jemari manismu yang juga berlarik tiga hampir sama panjangnya.

Padahal, tanpa ada catatan apapun kita mencatat dalam remang cahaya

Cinta adalah ketelanjangan paling kanak-kanak.

Tanpa daun pintu yang harus kita ketuk, berulang-ulang yang 

Membalas dengan suara paling sunyi dari diamnya cinta.

4)

Bukankah kau mahir memainkan sunyi

Kenapa masih membutuhkan air mata dan mencipta

Jalur kesedihan di pipimu yang mulai mengeriput di cumbu waktu.

Samudera telah lama menutup dirinya, tuan

Dari segala alir air dari matamu yang tak tercatat

Dalam buku-buku yang memasangkan pasangan.

Kewajiban-kewajiban wajib diterakan dalam lingkaran

Bukan begitu tuan ?

5)

Sebelum waktu memergoki kita dan bersabda, “pulanglah, remang cahaya bukan untuk kalian,”

Rindu yang berbiak dalam tipis cahaya menyalak

Lebih keras dari dengus nafas kita yang menderu

Menenggelamkan cahaya.

Rindu ini tidak bisa dijinakkan, puan

Walau waktu mencambuknya berulang-ulang dengan cemeti cahaya

Terus menyalak dalam kepalaku yang sunyi

Di mimpi-mimpi panjang yang paling pasi.

Mencari tubuhmu yang meredupkan cahaya

Yang menina-bobokan rindu paling bengal

Di kepala.

Topik
puisiserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru