Di Pojok Waktu, Di Hati Yang Tak Lagi Merah Dadu

Mar 25, 2018 10:19
Ilustrasi Puisi by Nana
Ilustrasi Puisi by Nana

Di Pojok Waktu, Di Hati Yang Tak Lagi Merah Dadu 

*dd nana

(1)

Jangan ganggu, aku sedang mencari Tuhan. Dalam kesedihan seorang anak kecil yang meminta makanan lewat kecrek di tangan. 

Aku ketuk pintu. Disambut talu. Dari suara tumbukan tangan dengan kayu. Suaranya mengirimkan rasa haru.  yang tak pernah aku baca di buku-buku. 

Serupa rasa perih di lambung yang meminta untuk diisi. 

Baca Juga : Hati-hati di Jalan, Sundal

Atau,  mungkin serupa kesedihan yang aku temui di pojok waktu yang digaungkan oleh kecrek yang sember di tangan anak kecil itu. 

Tangannya hanya menampung keringatnya sendiri. 

Tidak ada lagu. Hanya sepi menghuni di perih mataku. Aku sedang mencari Tuhan,  waktu itu. 

Hatimu tidak lagi merah madu. Diingkari waktu, yang setia mengiringi setiap keluh yang menurut para wali itulah madu paling murni. 

Jangan ganggu Tuhan,  tuan. 

Tapi aku masih mencari Tuhan lewat setiap kesedihan yang terbuka di tangan anak-anak itu. Yang tangannya tetap sibuk membunyikan kecrek di pojok waktu. 

Aku mencari tuhan dengan mata perih anak-anak yang lambungnya ditikam lembing. 

Tidak ada penyaliban di pojok waktu pencarianku ini. 

Hatimu tidak lagi merah dadu,  ingatlah itu, tuan. Jangan ganggu Tuhan. 

(2)

Cucilah di alir gangga hatimu,  tuan sebelum kau menulis cinta di setiap kulit para perempuan. 

Atau bakarlah dalam api suci yang diagungkan.      

Setelah rimba meminangmu dengan tanduk emasnya dan kau lelap dalam pangkuan tangan yang aku cemburui. 

Karena aku sang maha pencemburu. 

(3)

Setelah hatiku mengawinimu masihkah kita bicara cinta di ketiak waktu,  puan. 

Biji kopi mencinta rasa panas tanpa mendesiskan keluhnya,  bukan? 

(4)

Yang takut pada syahwatnya sendiri akan terpenjara pada hati yang selalu marun. 

Kenapa kau murung dengan itu,  tuan. 

(5)

Kau kecup bibirku,  pelan

Hari telah terang,  sayang, bangunlah. 

Cinta memekar dalam ruang gelap mataku. Sebelum kau kembali di telan waktu yang bukan milik kita. 

(6)

Aku kirim pesan rindu 

yang pecah sebelum mengetuk pintu rumahmu. 

Mungkin,  kau masih berselimut di atas ranjang. Tanpa mimpi atau isyarat yang dikirim hujan tadi malam. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru