Prima, pria yang mengaku menemukan Tuhan setelah buta karena miras oplosan. (Foto: Hezza Sukmasita/ MalangTIMES)

Prima, pria yang mengaku menemukan Tuhan setelah buta karena miras oplosan. (Foto: Hezza Sukmasita/ MalangTIMES)



Cuaca tampak terik di Kota Malang siang itu, Sabtu (17/3). Angin sepoi-sepoi terasa membelai kulit dengan lembutnya. Memasuki gang senpit di antara rumah-rumah di kawasan Sumpil Gang 1, tampak seorang lelaki paruh baya dengan sarungnya tengah menyapu rumah.

Ya, rumah ini diapit oleh rumah-rumah lain baik dari kanan, kiri dan depan rumah. Dengan lincahnya si pemilik rumah membersihkan lantai rumah dengan detail, tak ada sedikitpun debu yang tertinggal. Bahkan dia tau betul dimana letak keset, dimana letak sapu bahkan serok sampah. Sekilas tak ada yang aneh dari si bapak ini.

Tapi jika semakin dekat kita dengannya, Anda akan mendapati bahwa pria ini sesungguhnya mengalami kebutaan. Saat MALANGTIMES berkunjung, pria bernama asli Prima ini menyambut kedatangan kami dengan begitu hangat. Berkisahlah dirinya yang sempat terjerumus dalam dunia kelam di masa mudanya.

"Dulu saya suka mabuk-mabukan. Minum-minuman keras seperti minuman wajib buat saya sejak SMP," ungkapnya mengawali cerita siang itu di ruang tengah kediamannya sembari lesehan.

Di masa remajanya pria berusia 46 tahun ini sempat mendapat julukan 'Preman Malang' oleh rekan-rekannya di masa remaja. Bagaimana tidak, aktivitas seperti mabuk-mabukan, berjudi, hingga berkelahi bukan lagi menjadi hal tabu bagi dirinya.

Hingga tiba masa dimana dirinya harus menerima kenyataan bahwa teman karibnya harus meninggal dunia akibat minum minuman keras oplosan pada tahun 1998. "Satu teman saya meninggal, satu buta, dan saya selamat dari oplosan. Dari situ saya kapok," ujarnya.

Meskipun mengaku kapok, tapi ini bukan puncaknya. Sebab di tahun 2002 saat ayah satu anak ini mencoba peruntungan ke Maluku, 'penyakit' Prima kumat lagi. Setiap hari air haram itu ditenggaknya.

Puncaknya adalah ketika di tahun yang sama dirinya pulang ke Mojokerto ke tempat orang tuanya. Saat itu pria asal Malang ini ditantang oleh rekannya untuk menghabiskan uang senilai Rp 10 juta untuk membeli arak lagi. Tak ayal, Prima menenggak minuman habis-habisan mulai pukul 10.00 pagi hingga 01.00 dini hari.

"Saya nggak sadar. Sadar-sadar sudah dibangunkan istri saya di trotoar pinggir jalan jam 7 pagi. Kondisi saya waktu itu sudah nggak karuan. Anehnya waktu itu saya merasa jalan seperti melayang begitu. Sudah tidak wajar. Karena separah apapun saya mabuk tidak pernah seperti itu," kisahnya.

Tiga hari berselang, Prima mendadak harus dibawa ke rumah sakit lantaran penglihatannya mulai kabur saat itu. "Masuk rumah sakit terus diinfus, nggak lama langsung gelap. Saya buta," ujarnya lagi.

Pulang ke rumah, Prima yang merasa bersyukur lantaran masih bisa hidup meski mengalami kebutaan mulai berbenah diri. Kali pertama air wudhu dibasuh ke wajahnya saat itu sampai membuat orang yang melihatnya tampak seperti lelaki yang menggunakan pupur. Berseri.

Perjuangan Prima mencari Tuhan tak henti sampai di situ. Di masa-masa sulitnya, pria kelahiran 1972 ini sempat diajak untuk berpindah agama. Namun rupanya Tuhan masih melindungi hatinya untuk tetap teguh pada imannya.

Hingga pada tahun 2006, pria ini mulai aktif mencari siraman-siraman rohani dari para Kiai di sekitar tempat tinggalnya. Hingga hari ini, dirinya aktif dalam berbagai majelis dzikir.

Meski sudah 16 tahun dalam kondisi tanpa penglihatan, namun Prima tetap dengan aktivitas rutinnya. Dia menolak untuk dikasihani. Bahkan, tak sedikit muda-mudi yang kerap berkonsultasi masalah kehidupan dengan pria ini. Keahliannya dalam memijat juga menjadi nilai tambah bagi pria ini.

"Saya sudah hafal jalan di sekitar rumah. Dengan keadaan begini satu sisi saya bersyukur karena mengurangi maksiat mata bagi saya. Insting saya dan mata batin saya juga lebih terasah dibanding dengan saat masih normal dulu," ungkapnya. 

"Saya percaya Tuhan bisa membungkus kebahagiaan dibalik kesengsaraan, Tuhan juga bisa membungkus kesengsaraan dalam kebahagiaan," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load