Owner LakonLokal Ovan Setiawan (Hendra Saputra/MALANGTIMES)

Owner LakonLokal Ovan Setiawan (Hendra Saputra/MALANGTIMES)



MALANGTIMES - Malang tampaknya tidak pernah sepi dengan aksi-aksi kreatif. Salah satunya dengan munculnya brand kaus LakonLokal yang fokus pada kalimat yang menggelitik. Meski  usianya masih tergolong muda, kaus tersebut mampu menarik perhatian pasar, baik lokal maupun nasional

Salah satu yang paling banyak diminati adalah kaus yang bertuliskan  ‘Malang Butuh Orang Lucu’. Secara tidak langsung, kaus ini diartikan masyarakat  menyindir pelaksanaan Pilkada Kota Malang. Di tengah munculnya calon-calon dengan beragam visi dan misi, LakonLokal justru hadir dengan keinginan yang sederhana, yakni Malang butuh orang lucu.

“Kalau itu mungkin tanggapan masyarakat saja karena kami mengeluarkan kaus tema itu bersamaan menjelang pilkada. Tetapi secara umum dalam hal apa pun, kami memang membutuhkan orang-orang yang lucu agar suasana menjadi lebih fresh dan tidak tegang,” ujar Ovan Setiawan, pemilik LakonLokal.

Tema lain yang tidak kalah menggelitik adalah kaus bertuliskan ‘Curhat Boleh, Hutang Jangan’. Kaus ini menjadi representasi dari kehidupan masyarakat sehari-hari yang kadang tidak bisa lepas dari urusan utang-piutang.

“LakonLokal memang berusaha hadir sebagai gambaran dari kehidupan bermasyarakat. Kami coba mengambil kesimpulan dari kejadian sehari-hari, mengolahnya ke dalam bentuk kata-kata kreatif yang diaplikasikan dalam kaus,” sambung alumnus Ilmu Komunikasi Universitas Brawijaya Malang ini.

Ovan beranggapan bahwa kaus saat ini bukan sekadar pakaian sederhana yang biasa dipakai dalam kegiatan nonformal. Tetapi lebih dari itu, kaus juga sebagai bentuk ungkapan personal yang menggambarkan citra diri seseorang.

“Kalau boleh bicara lebih dalam lagi, kaus adalah bentuk dari personal branding seseorang. Dari beberapa tema yang kami angkat, terbaru ada kaus dengan tulisan Tidak Punya Jadwal Tetap. Itu artinya adalah orang-orang yang tidak memiliki jadwal regular dalam bekerja. Seperti wartawan misalnya, atau freelancer, bisa juga pengusaha,” ujar pria asal Tumpang, Kabupaten Malang, ini.

Dalam menjalankan strategi promosi dan penjualannya, LakonLokal saat ini fokus  di ranah online dengan memanfaatkan sosial media. Namun mereka juga tidak sekqdar berjualan, tetapi dalam setiap caption selalu memunculkan kata-kata  bijaksana yang menginspirasi.

“Ini bedanya jualan online dan jualan konvensional. Ketika bicara jualan konvensional, kita tidak bisa berkreasi dalam hal konten. Beda dengan online yang harus kuat dalam hal konten jika produknya ingin dilihat banyak orang,” paparnya.

Dengan berusaha menghadirkan kualitas konten yang jenaka dan menginspirasi dalam setiap caption di instagram @LakonLokal, tidak heran jika follower LakonLokal cukup banyak. Yakni mencapai 14 ribu follower.

Kendati murni menjual produk secara online, pengalaman-pengalaman ketika bertemu dengan pelanggan-pelanggan baru, menurut Ovan, adalah pengalaman yang paling menyenangkan karena bisa membangun kedekatan emosional.

 “Meski bergerak di bidang online, bukan berarti nilai-nilai dalam bersosialisasi di dunia nyata kami abaikan. Kami berusaha menjalin kedekatan dengan pelanggan. Pernah juga kita sedikit nakal dengan pelanggan yang  minta kaus dikirim di pagi hari. Kebetulan pelanggan ini bekerja sebagai tukang parkir di salah satu bank. Sebelum memberikan kaus, kami berikan dulu satu kresek roti goreng. Si pelanggan bingung dan bertanya lho LakonLokal bukannya jualan kaus? Kemudian kantong berisi kaus kami serahkan dia langsung tertawa dan merangkul saya. Saya rasa inilah yang dinamakan kedekatan emosional dengan pelanggan,” ujarnya lalu tertawa.

Dalam menjalankan bisnisnya, Ovan tidak sendirian. Dia dibantu oleh dua orang rekannya, yakni Teguh Prasetyo dan Anjar Fahru Imansyah. Teguh  adalah seorang desainer grafis. Sedangkan Anjar bertugas mengurusi sosial media dan promosi.

“Tidak mungkin saya melakukan ini sendirian. Ada dukungan banyak pihak. Saya dibantu oleh teman saya yang  cukup andal di bidangnya. Sering inspirasi konten itu  datang dari mereka,” ungkapnya.

Terkait antusiasme pembeli, untuk ukuran produk yang baru muncul, menurut Ovan, cukup menggembirakan. “Alhamdulillah, awalnya ini adalah iseng-iseng untuk mengisi kesibukan. Tetapi  ternyata responnya luar biasa. Dalam satu bulan sudah ada 50 pcs kaus yang terjual,” ujar dia.

Ke depan LakonLokal akan banyak mengeluarkan kata-kata jenaka yang akan segera diluncurkan. Bukan hanya kaus, tetapi juga produk lain seperti sweater atau tas. “Saat ini masih dalam proses produksi, ke depan akan ada produk lain. Ada tas, sweater atau bahkan pernak-pernik seperti mug,” pungkasnya. (*)

End of content

No more pages to load