Karena Kau Anak Lelakiku

Mar 11, 2018 07:27
Ilustrasi Puisi by Nana
Ilustrasi Puisi by Nana

Karena Kau Anak Lelakiku

dd nana

(1)

Anakku lelaki, yang lahir dari gerimis malam dan degup lautan. 

Dengan sesajen dan lelaku empatpuluh hari tanpa pejam

     kau mengada, lahir dengan kemauanmu

menantang waktu memanggul lintang takdir.  

maka, aku ajari kau  hal pertama di dunia yang semakin menua ini. 

 

meraunglah nak, setelahnya meruanglah

hingga mampu kau anakku lelaki menikmati luka di ruang duka

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

memahami hasrat pasrah yang tak diawali rasa sendu dan sedu sedan itu.

 

Dengan sesajian dan lelaku empatpuluh hari

anakku lelaki mulai meronta, lepas dari lingkaran yang ada

terbata-bata kau eja alam, terengah-engah kau hapal kata

tersuruk-suruk kau raih makna

hingga butiran masa kau anakku lelaki meraung lagi. 

maka ingatlah pada ruang-ruang dalam tubuhmu saat nyeri tak lagi bisa kau larungkan

dalam alir air mata.

 

Tapi, memang hidup tak perlu menangisi perih

karena luka hanya sejengkal rasa dalam pikiran nak,

Peluk saja pikiranmu, peluklah rasamu. 

Lantas persetankan masa lalu yang meminta-minta romantisme ;

Bayang gelap yang tak akan merubah degup lautan dan panas api jadi gemerisik bebunga di taman.

 

Karena kau anak lelakiku

yang lahir disambut api

[aku ingat saat kau gigit setan dalam mimpimu suatu senja]

kau tertawa, lihatlah ayah mereka berdarah-darah, tak bisa apa-apa,.

 

Dengan sesajian dan lelaku empatpuluh hari

anakku lelaki kini menanggung api dua puluh enam warna

bahumu gosong nak. Parasmu kini serupa waktu

yang tak lagi milikku.

 

Maka, percayalah nak, hidup memang terlalu cerewat untuk kau genggam erat. 

Maka, lepaskanlah satu persatu yang membuatmu terikat. 

Tetaplah meraung nak, lantas meruanglah.

 

(2)

Mampuslah kau rasa

Yang menziarahi dan ingin kekal menetap di kecupan tak bertepi.

Cinta bukan untuk mainan kanak-kanak bermata pagi.

 

(3)

dititik ngilu mu

aku menjadi batu

dititik resap

aku menjadi ratap

dititik rasa

aku menjadi karma

dititik mu, aku tak bisa kemana-mana

senyap membatu.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru