MALANGTIMES- Sosok Wali Kota Malang (Non Aktif) H. Mochammad Anton layak kiranya mendapat predikat tokoh publik yang multi talenta. Suka atau tidak suka, sebagai Wali Kota Malang, Abah Anton sapaan akrabnya berhasil meraih berbagai penghargaan atas beragam prestasi yang telah diukir pemerintah Kota Malang di bawah kepemimpinannya.

Ayah tiga anak ini pun dia dinilai cakap serta mampu berkiprah di pemerintahan dan birokrasi. Sebelumnya, Suami Dewi Farida Suryani itu juga dinilai sukses sebagai seorang pengusaha. 

Selain itu, ternyata Abah Anton pun pandai dalam melantunkan tembang. Musik memang tak bisa dilepaskan dari sosok pria 52 tahun ini. Selain kerap melantunkan lagu melayu hingga dangdut di beberapa kesempatan, pengidola Rhoma Irama itu ternyata juga seorang seniman.

Tak banyak yang tahu, Abah Anton juga piawai menyanjikan tembang religi “Rindu Cahaya Rasul” yang mulai diperdengarkan kepada publik bersamaan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, akhir 2016 lalu. 

Dalam Single religi berjudul ‘Rindu Cahaya Rasul’ yang berdurasi 5 menit 28 detik tersebut, dia berperan sebagai lead vokal. Sesuai judulnya, lagu ini bercerita soal kerinduan mendalam yang dirasakan seorang hamba Allah SWT kepada Rasulullah SAW. Pengerjaan single Rindu Cahaya melibatkan para musisi Malang, salah satunya dari d’Kross Band.

“Hatur kasih kuucapkan pada Rasul junjungan kita. Tak akan pernah hilang rinduku, kuharapkan berjumpa denganmu. Allahumma Shalli Alaa Sayyidinaa Muhammad junjunganku yang menuju jalan hidupku,” demikian sepenggal lirik yang dibawakan dengan syahdu olehnya.

Sementara itu, guna memfasilitasi karya dan kreativitas musisi - musisi Kota Malang, serta menjawab kebutuhan akan wadah musisi di Kota Malang untuk berekspresi, Abah Anton menyampaikan gagasan pembangunan gedung yang representatif yaitu Malang Art Center di kawasan Kedungkandang.

Selain dipergunakan sebagai tempat konser, Malang Art Center tersebut menurut Anton bisa digunakan untuk pertunjukan seni budaya lain. Terutama mengakomodir pegiat seni muda di Kota Malang.

"Ini bukti keseriusan untuk menggali, dan ingin membangkitkan kembali, Malang sebagai barometer musik nasional. ini harus bisa diteruskan oleh anak-anak muda kita sekarang," kata Abah Anton saat ditemui di sela - sela aktivitasnya, Jum'at (9/3). 

Selain itu, menurut Abah Anton pihaknya akan mengembangkan Malang Art Center sebagai pusat edukasi dan pelestarian budaya. Menurut dia keberadaan Malang Art Center, bukan semata satu tempat megah untuk tempat pertunjukan seni budaya, tapi diharapkan lokasi ini sebagai simpul bagi bertemunya semua elemen masyarakat dalam upaya menghidupkan budaya. 

"Tentu keberadaannya perlu didukung berbagai festival dan forum seni budaya, dan mengintegrasikan muatan lokal di sekolah dengan fungsi pelestarian budaya," tandas Anton.

Sebelumnya Pemerintah Kota Malang di bawah kepemimpinan Abah Anton, selain rutin memfasilitasi musisi-musisi Kota Malang untuk unjuk gigi, melalui festival tahunan pada peringatan HUT Kota Malang dan Momentum Kemerdekaan Republik Indonesia, juga rutin menyelenggarakan Workshop Musik yang menjadi satu bagian dari Festival Mbois,  yang rutin diselenggarakan MCF (Malang Creative Fusion) bekerja sama dengan Pemerintah Kota Malang. 

Abah Anton juga memfasilitasi tempat Museum Musik Indonesia. Museum data arsip musik satu-satunya di Indonesia itu kini berlokasi di Gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusa Kambangan 19 Malang. 

“Ini luar biasa bahkan satu satunya di Indonesia. Kami berterima kasih kepada pendiri Museum Musik yang luar biasa ini. Musik itu bahasa universal. Karenanya dengan musik akan bisa menyatukan ragam perbedaan," ujar dia.

Istimewanya, dalam Gelaran Rakernas Apeksi ke 12 di Kota Malang Juli 2017 lalu sebanyak 35 wali kota turut menyumbangkan alat instrumen musik khas daerah masing-masing kepada Museum Musik pertama di Indonesia itu. Penambahan sebanyak 47 alat instrumen musik daerah dari 35 wali kota makin memperkaya koleksi yang ada.

Jenis alat instrumen musik daerah seperti Sasando, Gong, hingga Rebana, dan lain sebagainya menambah koleksi yang ada di MMI. Tercatat total koleksi museum saat ini berjumlah sekitar 23 ribu, termasuk koleksi piringan hitam, kaset, CD dan sebagainya.

Abah Anton juga berharap dengan adanya MMI selain mampu mendongkrak wisatawan ke Kota Malang juga berkontribusi nyata bagi tumbuh dan berkembangnya dunia musik di Tanah Air.