Pasangan calon nomor 2 Moch. Anton-Syamsul Mahmud saat doa bersama dan silaturahmi dengan warga RW 14 Kelurahan Bunulrejo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Pasangan calon nomor 2 Moch. Anton-Syamsul Mahmud saat doa bersama dan silaturahmi dengan warga RW 14 Kelurahan Bunulrejo. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Calon wali kota Malang Moch. Anton yang juga masih berstatus wali kota non-aktif cukup dikenal masyarakatnya dengan program blusukan atau sambung rasa. Dalam agenda temu warga di RW 14 Kelurahan Bunulrejo, Rabu (7/3/2018) malam, pria yang akrab disapa Abah Anton itu membeberkan sejarah dan filosofi programnya itu. 

Menurut Anton, blusukan merupakan pengejawantahan atas amanat kyai dan ulama sebelum dia menjabat. "Jadi awalnya saya ini maunya ngurus majelis dan pengajian saja, tapi dapat amanah menjadi wali kota. Ada pesan khusus dari para kyai, alim ulama dan habib-habib agar terus dekat dengan rakyat. Jadinya ya blusukan itu," terang Anton. 

"Selain itu juga sesuai amanah ibu saya. Kalau jadi wali kota harus ada manfaatnya, kalau nggak ada mending berhenti. Itu juga yang jadi doa saya," ujarnya. Blusukan, menurutnya menjadi upaya untuk mengetahui program yang sudah berjalan maupun belum.

Dalam blusukannya kala menjabat wali kota, Abah Anton kerap mendatangi beberapa warga yang tidak mampu. "Kalau pemerintah tidak dekat dengan rakyatnya, bagaimana bisa memperbaiki kesejahteraan rakyatnya," ungkap Anton yang datang bersama calon wakilnya Syamsul Mahmud. 

Akhirnya blusukan ke kampung-kampung di Kota Malang sudah menjadi giat wajib yang tak bisa dipisahkan dari suami Dewi Farida Suryani itu. Umumnya dilaksanakan pada hari Sabtu setiap dua pekan sekali.

Anton menguraikan bahwa di awal kepemimpinannya pada 2013 silam, program tersebut tidak langsung disambut hangat oleh pimpinan dan staf organisasi perangkat daerah (OPD). "Dulu tidak gampang ngajak aparat untuk blusukan di hari libur, hari keluarga. Tapi itu justru esensi melayani bahwa pemerintah harus siap kapan saja," papar calon nomor urut 2 itu.

"Apalagi kenyataan, kalau hari kerja, aparat bisa melayani di kantor. Tapi yang nggak bisa masyarakatnya, karena mereka juga kerja," tambahnya. Sehingga saat agenda blusukan, Anton juga selalu membawa petugas lapangan untuk melayani warga. Mulai dari administrasi kependudukan, kesehatan, pajak, dan lain-lain. 

Menurut Anton, selama dia blusukan selalu mendapat sambutan hangat dari warga. "Ini bukti kalau masyarakat sangat rindu dan butuh perhatian. Banyak masyarakat yang bilang, kalau seumur-umur wali kota tidak ada yang mau jalan ke lompongan (gang tikus) hingga ke dapur-dapur rumah warga. Sampai saya nggak percaya," urainya. 

Blusukan tersebut selain untuk bersilaturahmi langsung dengan masyarakat, sekaligus melihat progres pembangunan infrastruktur, dan lingkungan di masing-masing wilayah. "Tapi ada juga yang bilang saya cuma pencitraan. Kalau pencitraan itu kan di awal saja, lha ini sepanjang tahun," ujarnya yang disambut tepuk tangan riuh warga. 

"Jadi bukan hanya saat butuh turun ke masyarakat, foto-foto tapi tanpa solusi. Tapi turun karena sudah punya program dan harus tahu, program itu jalan atau tidak. Tahunya dari laporan masyarakat langsung," terangnya. Anton menegaskan bahwa jika dia kembali terpilih maka program blusukan masih akan dilakukan. 

Terlebih, hingga saat ini belum semua wilayah kelurahan dia datangi langsung. "Dari total 57 kelurahan di Kota Malang, baru 45 yang saya datangi. Awalnya saya pikir pas, lima tahun. Ternyata tahun terakhir ini harus cuti dan blusukannya sudah beda karena juga kampanye," terangnya. 

Sementara itu, Ketua RW 14 Kelurahan Bunulrejo Harum Buchori mengungkapkan bahwa wilayahnya sempat didatangi Anton saat awal kepemimpinan. "Pada 2014 lalu sudah ke sini. Kami mengeluhkan soal jembatan penghubung antar RW yang masih berupa bambu. Karena itu dibuat lalu lintas anak sekolah, akhirnya langsung dapat bantuan pembangunan dari dinas pekerjaan umum," ujarnya. 

Pada 2017 lalu wilayah tersebut juga mendapat bantuan pembangunan balai RW senilai Rp 400 juta. "Alhamdulillah setelah diusulkan ke Musrenbang Kota Malang disetujui dan gedung itu bisa dibangun. Saat ini yang rutin dilakukan ya pelatihan ibu-ibu dan anak-anak," pungkasnya. (*)