Sertu Heri Purnomo, babinsa Desa Taji 0818/23 Jabung saat berada di kebun kopi. Pengabdiannya terhadap petani kopi membuatnya diganjar penghargaan Bukan Babinsa Biasa. (Heri for MalangTIMES)

Sertu Heri Purnomo, babinsa Desa Taji 0818/23 Jabung saat berada di kebun kopi. Pengabdiannya terhadap petani kopi membuatnya diganjar penghargaan Bukan Babinsa Biasa. (Heri for MalangTIMES)


Pewarta

Nana

Editor

Yunan Helmy


MALANGTIMES - Sosok babinsa (bintara pembina desa) dari Koramil 0818/23 Jabung ini terbilang unik dan tentunya berbeda. Perbedaan inilah yang mengantar Sersan Satu (Sertu) Heri Purnomo diganjar penghargaan sebagai Bukan Babinsa Biasa, baik oleh Korem 083/Baladhika Jaya maupun Kodim 0818 Kabupaten Malang sebagai juara I dalam lomba HUT Ke-54 Korem 083.

Penghargaan Bukan Babinsa Biasa bukan sekadar formalitas. Pergulatan dan perjuangan Heri sebagai babinsa memang luar biasa dalam melakukan tugasnya. Baik sebagai seorang tentara yang kini dipacu untuk semakin memberi kontribusi nyata dalam masyarakat desa, maupun sebagai bagian dari warga negara yang hidup berbaur dengan kondisi nyata di lingkungannya. 

Dari tangannya,  Heri yang mengabdikan dirinya sejak tahun 2011 sampai sekarang telah mampu mengembalikan semangat bertani masyarakat. Khususnya bagi petani kopi di  lereng Gunung Bromo. 

"Saat saya terjun di dunia perkopian, kondisi kopi di lereng Gunung Bromo bisa dikatakan mati. Padahal potensinya luar biasa dalam menggerakkan perekonomian warga. Ini yang membuat saya bergerak melakukan pendampingan petani kopi, " kata Heri kepada MalangTIMES, Senin (05/03). 

Sertu Heri Purnomo (dua dari kanan) saat mendapat anugerah Juara Pertama Bukan Babinsa Biasa dari Dandim 0818 Letkol Inf Ferry Muzawwad (for MalangTIMES)

Hasilnya,  bunga-bunga kopi kembali mekar di berbagai lereng Bromo. Lahan yang dulu terbilang gersang  kembali menghijau. Konsep mempertahankan eko-lingkungan hutan terjaga dan memberikan nilai plus berupa peningkatan kesejahteraan petani kopi,  khususnya di Desa Taji,  Kecamatan Jabung. 

"Konsep pemberdayaan kepada petani kopi memang membutuhkan waktu lama. Masyarakat akan bergerak saat mereka melihat contoh yang telah berhasil, " ujar Heri yang dalam melakukan pendampingannya dengan cara memberikan contoh keberhasilan bertani kopi di lahan miliknya sendiri. 

Heri menceritakan, Desa Taji,  Jabung,  sejak tahun 1970-1990 merupakan penghasil kopi yang cukup diperhitungkan di pasar kopi. Tapi,  dengan potensi melimpah tersebut,  kenyataannya di tingkat petani kopi sendiri berbanding terbalik. "Kopi bisa dibilang mati di Taji. Petani kopi banyak yang beralih profesi bercocok tanam, " ujarnya. 

Pada titik inilah Heri sebagai babinsa Desa Taji memulai pergulatannya dengan tanaman kopi. Tahun 2011 dia mulai menanam kopi sampai akhirnya di tahun 2014, hasil kopi dari lahan Heri menghasilkan sesuatu yang membuat para petani kopi kembali melirik potensi lahan dan komoditi yang pernah membuat harum Kabupaten Malang sebagai produsen kopi. 

"Saat itu di pikiran saya sederhana. Kalau kopi lereng Bromo bangkit,  rakyat pasti mendapatkan penghasilan yang lebih baik," ucap Heri yang telah membawa kopi lereng Bromo di berbagai lomba kopi, baik di tingkat Jakarta sampai di beberapa daerah di Jawa Timur (Jatim). 

Tidak berhenti di titik membawa warga Taji,  Jabung,  kembali ke kopi,  Heri juga mendampingi para petani kopi untuk membentuk desa  ekowisata yang kini telah berjalan dan semakin mendongkrak pendapatan warga. "Kita bahkan memiliki produk kopi yang kita namakan Kopi Babinsa Lereng Gunung Bromo, " imbuhnya. 

Disinggung mengenai kendala dalam pendampingan petani kopi,  Heri menyatakan,  secara prinsip tidak terdapat kendala berarti. "Kalau pun ada kendala, hanya pada petani yang berusia di atas 50 tahun ke atas. Mereka cukup sulit diajak bersama membangun kopi, dan memilih bercocok tanam sayuran yang cepat panen, " terangnya. 

Heri Bukan Babinsa Biasa ini melanjutkan, kendala tersebut tidak menjadikan dirinya patah semangat mengawal warga dalam meningkatkan taraf kesejahteraannya. "Karena kini,  para pemuda berusia rata-rata 20 tahun,  mulai bergerak menanam kopi. Ada regenerasi di dunia kopi, " pungkasnya.(*) 

End of content

No more pages to load