Pasangan SAE saat ditemui di depan rumah pemenangan. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)
Pasangan SAE saat ditemui di depan rumah pemenangan. (Anggara Sudiongko/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Pasangan calon wali kota dan calon wakil wali kota, Sutiaji dan Sofyan Edy Jarwoko (SAE), menyoroti persaingan toko modern dan pasar tradisional yang makin ketat. Jika terpilih dalam Pilkada Kota Malang, SAE akan menerapkan strategi pasar dengan sistem zonasi produk.

Sutiaji menjelaskan, dalam penerapan strategi tersebut, pihaknya memiliki tujuan  untuk bisa meminimalisasi bahkan mengatasi persaingan pasar tradisional dengan usaha retail modern yang sudah menjamur di Kota Malang. "Lalu lintas orang dan barang dari dan ke Kota Malang kan makin meningkat. Itu memerlukan pengelolaan rantai produksi dan distribusi barang dan jasa yang lebih efisien, sehingga perputaran ekonomi dapat berlangsung lebih baik," ungkapnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, sistem zonasi tersebut bisa diterapkan di berbagai jenis produk seperti pasar sayur, pasar besi, pasar buah, pasar suku cadang, pasar busana, dan pasar elektronik di lima kecamatan yang ada di Kota Malang.

Namun, penerapannya tidak bisa dilakukan secara serta merta, melainkan harus dengan diawali musyawarah bersama wakil rakyat maupun asosiasi pedagang melalui pendekatan yang lebih rasional dan komprehensif. "Apabila gagasan pasangan SAE tentang zonasi pasar ini dapat diwujudkan, warga kota maupun pendatang akan lebih mudah mengakses pasar sesuai dengan produk barang dan jasa yang diinginkannya," ujar Sutiaji.

Strategi zonasi pasar ini nantinya diharapkan akan menumbuhkan sentra-sentra perdagangan yang ada di Kota Malang dan bisa mendukung tata kelola pasar yang lebih modern, sehat, bersih, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat dengan layanan yang memuaskan.

Sejalan dengan itu, jika dipercaya memimpin Kota Malang, SAE akan melakukan penataan kembali prosedur dan tata cara perizinan yang selama ini menimbulkan biaya ekonomi tinggi. “Malang SAE sangat menyadari posisi strategis Kota Malang di tengah geografi dan topografi kabupaten dan kota lain di sekitarnya yang menyimpan potensi ekonomi yang menjadi barometer bagi eksistensi Provinsi Jawa Timur,” pungkas Sutiaji. (*)