Sisi yang Ingin Diingkari

Mar 04, 2018 08:53
Ilustrasi puisi by Pata Areadi (Ist)
Ilustrasi puisi by Pata Areadi (Ist)

Sisi yang Ingin Diingkari

dd nana

1)

Akhirnya,  pada secangkir kopi dilarungkan sepi. Agar setiap yang mati,  tenang mengabdi. Pada waktu yang menanti.  Pada janji, sebelum cinta begitu rewel meminta segala yang presisi. 

2)

Awalnya,  gerimis. Tertatih menuju bukit puisi yang masih tergambar separuh. Di lembar kertas lusuh seorang lelaki bermata senja. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Baru ada akar yang mulai tumbuh,  tumpukan abjad yang belum kompos. Dan matahari yang terlalu tinggi untuk dicipta. Masih gerimis. Masih sepi dan jemari yang masih saja kikuk. 

Pulanglah, kau masih memiliki satu tiket. Berlayarlah. Di sini hanya ada sepi dan gerimis yang tak gigis oleh rindu. 

Bukit puisi hanya omong kosong ku,  puan. 

3)

Malam hadir bersamamu. Cahaya berkedip, sebelum kembali mati. Di tidur ku, kau tetap abadi. Di terang pagi,  aku kerap membujuk bayang mu pergi. 

4)

Sering kita lupa menyiapkan ruang kosong. Hingga nyeri kerap membuat kita frustasi. Tapi kita tak pernah ingin pergi. 

5)

Pagi buta,  kau seduh kopi. Katamu, agar larik matahari seharum tubuh cinta. Agar kau selalu ingat ada sepasang tangan yang kerap melingkar di sepi sedihmu. Tangan yang menyeduh kopi sebelum pagi merangkak di tubuh mu. Menuju pikuk,  menuju segala yang asing di buku cinta. 

6)

Percayakan pada titik. Agar kau bisa memilih,  untuk pergi atau tetap bersetia. Pada nyeri biji kopi yang akhirnya menetap di cingkir-cingkir yang terbuka. 

7)

Pulanglah. Kita bersepakat untuk tidak mengulang hari. Menenggelamkan waktu dan membungkus cahaya. Hanya untuk menyuburkan rindu. 

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru