Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto (tengah) saat menunjukkan barang bukti baju saat rilis di Polres Batu, Senin (19/2/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)
Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto (tengah) saat menunjukkan barang bukti baju saat rilis di Polres Batu, Senin (19/2/2018). (Foto: Irsya Richa/BatuTIMES)

Kasus kekerasan seksual di Kota Batu sangat mengkhawatirkan. Banyak kasus menimpa kalangan remaja perempuan di Kota Dingin ini. Karena itu, para orangtua yang memiliki anak remaja diharapkan ekstra hati-hari mengawasi anak-anaknya.

Baca Juga : Napi Asimilasi yang Kembali Berulah Siap-Siap Tempati Sel Pengasingan

Terlebih lagi, Polres Batu baru saja menangkap lima orang yang terjerat dalam kasus kekerasan seksual di Polres Batu, Senin (19/2/2018).  "Ini adalah ungkap kasus dalam operasi Bina Kusuma Polres Batu. Kami telah mengamankan dan memproses lima tersangka dalam kasus pencabulan,” ungkap Kapolres Batu AKBP Budi Hermanto saat rilis di Polres Batu.

Ke lima tersangka pencabulan ini melangsungkan aksinya di Desa Beji Kecamatan Junrejo, Villa di kawasan Songgoriti Kelurahan Songgokerto Kecamatan Batu, dan bertempat di salah satu yayasan di Kota Batu. Semua korban pencabulan ini rata-rata usianya dibawah 15 tahun. 

“Semua korbannya dibawah umur. Modusnya macam-macam, ada yang diiming-iming beli paketan data handphone atau pulsa dan penawatan lainnya. Lalu korban dipacari,” imbuhnya.

Dia lantas menyebutkan salah satunya pada tersangka PA,38. Kronologinya pada 9 Januari PA ini melangsungkan niatnya saat sang istri sedang tidak ada di rumah. Korban inisial STA, 15 tahun sedang bermain. "Pelaku merayu korban dan akhirnya dibujuk ke rumahnya," kata dia.

Dalam bujuk rayuannya itu , pelaku menawarkan paketan data gawai. Setelah berhasil merayu, korban pun disetubuhi di rumahnya. “Pelaku sudah menyetubuhi korban sebanyak dua kali sebagaimana laporan dari orangtua setelah mengetahui ada perubahan dari anaknya,” kata pria yang akrab disapa Buher ini.

Kasus lainnya tersangka SFT (22) warga Kecamatan  Tambaksari, Surabaya. Kronologinya SFT membantu sebagai tenaga pelajar di sebuah yayasan di Kota Batu. Setelah mendapatkan simpati dari muridnya dimanfaatkan untuk berbuat cabul. Dia menyetubuhi dua korban inisial E (14) dan I (14) di gudang Yayasan di Kota Batu.

“Kalau kasus ini dilaporkan oleh pengurus yayasan. Pengurus yayasan curiga . Sepertinya mereka ini semi pacaran,” imbuhnya.

Yang lainnya tersangka TAH (38) melangsungkan aksinya bermula dari sosial media. Tersangka memasang foto yang berbeda atau good looking.

Kemudian tersangka TAH dan pelaku YMP (15) warga  Kecamatan Karangploso berpacaran, mengajak bertemu di salah satu Villa di Songgoriti, Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu. 

Baca Juga : Warning Polisi, Napi Pelanggar Aturan Asimilasi Bakal Dapat Tindakan Tegas dan Terukur

Saat di villa itu TAH melangsungkan aksinya dengan menyetubuhi korban. Yang kemudian ada perubahan fisik dari korban, akhirnya orang tua YMP melaporkan kepada Polres Batu. 

Dan kasus yang terkahir pada 15 Februari lalu melibatkan empat tersangka. Dua di antaranya berhasil ditangkap Polres Batu inisial RH (19) dan AYW (20). Sedangkan dua orang lainnya saat ini berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO).

Korbanny adalah YAP (14) warga Kota Batu. Bermula modus berkenalan melalui sosial media. Lalu tersangka mengajak korban bertemu di GOR Ganesha Kota Batu. Di dan RH menyetubuhi YAP, kemudian mengajak ke tiga teman lainnya. 

“Sampai sekarang pelaku yang belum tertangkap masih dalam proses pencarian. Kita akan berusaha untuk mencari terus sampai ketemu. Harus diproses tidak ada toleransi kejahatan untuk anak,” tambah Buher.

Dengan adanya kasus tersebut Polres Batu sangat konsen terhadap kejahatan terhadap perlindungan anak. Karena itu pihaknya Bekerja sama dengan pengelola wisata dengan memasang CCTV sebanyak 500 unit. CCTV itu sudah terpasang di tempat wisata gunanya membantu tugas kepolisian, sekaligus menghindari tindakan pidana khusus anak. 

“Lalu kami juga bekerjasama dengan Dinsos untuk memerangi dan mengatasi anak-anak pengemis punk, gelandang dan orang terlantar,” jelasnya

Buher menghimbau agar tidak percaya dan berkenalan dengan laki-laki melalui media sosial. Sebab 70 persen kejadian bermula berkenalan di media sosial. Selain itu nantinya Polres Batu bersama Polda Jatim akan memberikan perawatan traumatik kepada korban persetubuhan anak hingga tuntas.