Menonton La Tortue Rogue

Feb 11, 2018 07:52
Cuplikan film La Tortue Rogue (Istimewa)
Cuplikan film La Tortue Rogue (Istimewa)

dari titik. Garis lahir. Membentuk raganya sendiri. Lingkaran dengan ekor, dua sayatan tipis berwarna merah dadu dan akhirnya tubuh menjelma. Tapi warna belum begitu sempurna difahami mata.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Ada gelegak serupa ombak. Bergulung-gulung. Di tepinya buih putih serupa kocokan soda, menyemut. Membentuk rupa mahkota yang mencari kepala para raja atau orang-orang suci yang tersesat di samudera tanpa nama.

Tapi, itu bukan aku.

Walau buih itu pernah memerihkan mataku. Saat beranjak untuk menaiki kepalaku yang asin di cumbui garam air laut yang birahi. Mendera-dera seluruh liang tubuhku yang asalnya dari titik.

Dari titik juga aku selamat dari ketersesatan gelegak serupa ombak. Titik-titik membentuk persegi empat yang lonjong. Yang memelukku begitu hangat walau aku tahu itu rapuh. Serupa percintaan kita. Di hempasnya aku di garis yang telah digarami waktu dan melahirkan batu-batu perkasa. Yang menonjol menutup lebatnya pepohonan bambu.

Waktu, batu, desir dedaun bambu. Sesekali aku mendengar desis ular dan pekik rindu camar. Selain tentunya fatamorgana. Orgasme yang lahir dari ngilu sepi dan sendirinya raga.

Itu sebelum kau ada. Atau tepatnya mengada. 

Walau aku tahu, kita telah ada sejak titik belum ada.

Awalnya begitu takut aku atas hadirmu. Sebilah bambu selalu siap di tanganku. Seratus bambu telah kau hancurkan hanya dengan sentuhan punggung terbukamu. Di balik bebatuan perkasa, rerumpun bambu mulai berdo’a. mengenal do’a.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Bahkan sepi yang pernah merenggutku tak pernah membuat titik di tubuhku menggigil. Serupa anak bayi terkena demam tinggi.  Kau, yang mahir berenang serupa kura-kura merah, menggodaku. Dalam permainan kanak-kanak petak umpet. Aku mencarimu, kau sembunyi di balik garis-garis serupa noktah-noktah lagu asing. Aku menggigil putus asa dan bersembunyi di kotak-kotak bambu, kau hadir dengan senyum. Tarikan garis ke atas langit.

“Kita berasal dari atas sana, bukan?”

Aku menggigil.

Itu sebelum kau melepas cangkang warna merahmu. Dan mengambil jemariku. Membawaku ke savanna dengan beberapa ceruk berair paling jernih, di beberapa titik yang mencipta garis panjang. Kau yang mengajariku cara memamah dan menghangatkan tubuh. Dari waktu dan batu berparas dingin.

“dekatkan tubuhmu ke tubuhku, lelaki,”.

Pecahlah sepi. Runtuhlah titik-titik di tubuhku. Rasa takut yang asing menjadi begitu akrab. Menjadi simphoni yang aku dengar dalam mimpi panjang orang-orang yang tersesat.

Di belakang bebatuan, pepohonan bambu masih terus berdo’a. semakin mahir berdo’a.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru