Kematian Seekor Anjing Part 4

Jan 28, 2018 08:45
Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)
Ilustrasi puisi kematian seekor anjing (Istimewa)

Kematian Seekor Anjing Part 4

dd nana

“Terberai di kota-kota yang hilang dan yang tumbuh bak helaian rambut di kepala bocah s eumur jagung. Aku menetap dan menatap. Pagi, maut, dan percintaan di bawah bulan yang kesepian,”.

1. Menara Babel

tuhan ingin  beristirahat. Setelah ia kirimkan air bah ter-bah. Yang melumat dataran dan pegunungan yang mengunggulkan diri paling tinggi. Saat air turun dan menggulung gunung, aku berada di sisi paling pojok sebuah perahu manusia suci. Perahu yang bergurat-gurat di lapisan paling bawahnya dengan para kisah manusia. Yang lampau dan yang akan  datang.

Yang lampau, kau sudah faham. Walau selalu membuatmu abai. Saat maut datang, dan akulah makhluk terkutuk, penyaksi yang kantuk, menatap maut menuliskan kisah yang sama. Kau, yang hanya membaca, percayalah, tak akan mampu menuliskan betapa derita para pemilik mata malam. yang merekam segala petaka paling jahanam. “aku ingin tidur, tuan,”.

Mata yang merekam jemari maut menuliskan abjad-abjad yang membuat kebingunan ribuan pekerja. Ah, aku ingat Shinar, Nuh, air bah yang menyusut. Dan Menara yang ujungnya (hampir) menusuk surga. Merobek lantai perahu Nuh kembali. Peristiwa berulang sama dengan kisah yang sedikit berbelok.

Gerbang Tuhan, milik sang Maha Pencemburu, tuan.

Ingatan yang kekal milik para nabi atau mereka yang dikutuk. Seperti aku. Yang mati tak terbilang dan hidup kembali. Di kota-kota yang sekarang hilang. Di kota-kota yang tumbuh serupa helaian rambut di kepala bocah seumur jagung.

Merekam dalam kantuk paling pedih. “Aku ingin tidur saja, tuan,”.

2. Percayalah Pada Perempuan

Ini sabdaku. Sebelum pagi direbut terik berisik dunia. Sebelum maut mengajakku ke kota lain yang serupa di mata kantuk-ku. 

“Percayalah pada perempuan. Percayalah pada rasa takutnya. Percayakan saja hidupmu dalam benang yang diikatkan ke tubuh lelakimu,”.

Bahkan, tuan dan puan, seorang pahlawan berdarah dewa sekalipun, tunduk pada sabda ini. Dan selamatlah jiwanya, setelah tubuh lelakinya masuk dalam labirin tak berpintu. Setelah duel seru dimenangkannya. Manusia berkepala banteng, mati di tangannya.

Keperkasaannya yang membuatnya di catat hingga kini, berkat benang yang terikat di tubuhnya. Benang milik seorang perempuan yang mencinta.

3. Jangan Percaya !

: Aku telah mengenal sesuatu yang tak dipahami manusia: ketidakpastian dan rasa kantuk yang tak menghasilkan dengkur.

: kau, mencari apa ?

Aku mencari tuhan.

tuhan-mu ada di suatu huruf pada salah satu halaman buku. Carilah ?

dan, mataku buta sejak saat itu.

:Cinta akan menjemputmu. Dari ruang sunyi ke sunyi yang lain. Percayalah.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru