Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Asih Tri Rachmi Nuswantari saat ditemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr Asih Tri Rachmi Nuswantari saat ditemui awak media. (Foto: Nurlayla Ratri/ MalangTIMES)



MALANGTIMES - Keberadaan ular beracun masih kerap ditemui di wilayah perkotaan, termasuk Kota Malang. Bahayanya, hingga saat ini serum anti bisa ular (SABU) keberadaannya masih terbatas. 

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Asih Trirachmi Nuswantari mengakui bahwa SABU belum terdapat di seluruh pusat kesehatan di wilayahnya. "Ketersediaan SABU hanya di rumah sakit dan jumlahnya terbatas, tidak ada di apotek. Padahal idealnya ada di seluruh faskes (fasilitas kesehatan)," ujarnya saat ditemui di gedung DPRD Kota Malang.

Terlebih, lanjut Asih, jenis SABU yang ada belum mencakup seluruh jenis ular beracun yang ada di Indonesia. Menurutnya, hinggi kini tercatat 76 ular berbisa yang dapat berakibat fatal bila racunnya masuk ke tubuh manusia. Namun, anti bisa ular yang dimiliki pemerintah belum memadai untuk menangani jumlah yang besar tersebut.

"Kementerian Kesehatan baru mampu mencakup tiga jenis ular dalam satu anti-bisa ular," sebutnya.

Prihatin akan kondisi tersebut, Asih memulai gerakan penggalangan dukungan secara online melalui situs change.org dengan petisi berjudul Selamatkan dari Gigitan Ular. "Dengan petisi ini kami harap pemerintah pusat memperhatikan soal ketersediaan SABU di seluruh wilayah Indonesia. Juga pengembangan penelitian-penelitian untuk produksi anti bisa ular dalam negeri," tambah alumnus Universitas Brawaijaya (UB) Malang itu. 

Selain itu, lanjut Asih, pembuatan petisi itu juga ditujukan untuk sosialisasi pada masyarakat. Sebab menurutnya masih banyak masyarakat yang salah dalam memberikan pertolongan pertama pada korban gigitan ular.

"Sebenarnya kalau digigit ular, itu tidak boleh ditekan. Kan biasanya diikat supaya racun tidak menyebar di darah, ternyata itu malah salah," sebutnya.

Ibu tiga anak itu menguraikan, saat tergigit ular, racun masih berada di permukaan kulit. Justru jika dibebat terlalu erat, racun ular akan merusak jaringan sekitar luka gigitan. "Jadi cukup dibebat saja dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat," tuturnya.

Nah, bagi pembaca yang ingin mendukung petisi yang dimulai Asih, bisa mengklik link www.change.org/p/snakebite-selamatkan-dari-gigitan-ular. "Petisi ini kami harapkan juga membangun kesadaran agar produsen obat di Indonesia bisa lebih masif memproduksi SABU," pungkasnya.

End of content

No more pages to load