Merebak Jualan Kuliner Online, Pengusaha Restoran Harus Jeli Lakukan Ini

Jan 22, 2018 14:57
Ilustrasi makanan yang disajikan di salah satu kafe di Jalan Bogor. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi makanan yang disajikan di salah satu kafe di Jalan Bogor. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Maraknya layanan online melalui perangkat ponsel pintar di bidang kuliner menjadi tantangan tersendiri bagi pengusaha restoran. Sedikit banyak, hal tersebut memicu persaingan bisnis, baik sesama penjual online maupun restoran konvensional. 

Baca Juga : Nongkrong Suasana Asri, Sejuk, dan Tenang Tak Jauh dari Pusat Kota Malang

Meski demikian, Ketua Asosiasi Pengusaha Kafe dan Restoran Indonesia (Apkrindo) Malang Indra Setiadi mengimbau agar kehadiran teknologi tak dianggap sebagai saingan. Sebab, setiap pengusaha sudah memiliki bidikan pasar masing-masing.

"Memang di tengah online yang merebak ini ada kekhawatiran pasar yang berkurang. Tetapi restoran masih akan tetap diminati. Misalnya yang ingin makan besar, menghabiskan waktu dengan keluarga, atau pertemuan bisnis pasti memilih ke rumah makan," ujar Indra.

Pria yang juga pemilik Rumah Makan Kertanegara itu menjelaskan, kecanggihan teknologi sudah tidak bisa dibendung. Sehingga, pengusaha restoran pun perlu beradaptasi dan memunculkan inovasi agar bisa terus berkembang. "Salah satunya seperti memberi layanan delivery order (pengantaran pemesanan), kan ada pelanggan yang terhalang kesibukan, cuaca, atau mager (malas gerak)," sebutnya. 

Indra menekankan, pengusaha kuliner tidak perlu takut dengan adanya pesaing melalui online. Apalagi, bisnis kuliner di wilayah Malang Raya tiap tahunnya terus tumbuh dengan pesat. "Tidak perlu cemas, baik online maupun restoran kan juga menumbuhkan bisnis kuliner. Sebenarnya bergantung cara pengelola kafe dan restoran memaksimalkan pelayanan agar tidak ditinggalkan," paparnya.

Menurutnya, bisnis kuliner di Malang Raya masih sangat potensial. Terlebih peluang untuk membidik segmen mahasiswa maupun pelajar karena Kota Malang merupakan kota pendidikan. "Belum lagi bisnis dan industri yang juga terus berkembang. Kan intinya, selama ada kerumunan, di situ ada nilai jual," tegasnya. 

Baca Juga : Punya Rasa Manis, Pahit dan Legit, Ciri Khas Durian Kunir dan Bajol Desa Jombok

"Bagi yang ingin buka usaha restoran misalnya, harus benar-benar jeli melihat pasar. Juga soal lokasi, hingga segmentasi yang dibidik," tambahnya. Dia berharap, nantinya ikon Kota Malang sebagai kota pariwisata juga bisa terdongkrak dengan keberagaman kuliner yang ditawarkan. 

Sementara itu, saat ini penjualan online baik melalui media sosial maupun teknologi aplikasi diakui cukup mendominasi penjualan. "Saat ini penjualan lewat online bisa sampai 55 persen per hari. Lebih banyak dibanding yang datang," ungkap Aisyah Rahadian, pengelola Best Fried Chicken (BFC) Sawojajar. 

Pengusaha kuliner lain, Sakinatun Najwa mengungkapkan saat ini pihaknya masih belum menggandeng jasa teknologi aplikasi untuk memasarkan produknya. Dia masih banyak berpromosi melalui media sosial seperti Facebook dan Instagram. "Tapi melihat peluang online, dalam waktu dekat akan ikut juga dipasarkan di aplikasi. Banyak masukan kalau itu juga bisa mendatangkan pelanggan tersendiri," papar owner Waroeng Tujuh Sambal (WTS) itu. 

Topik
Berita MalangKuliner Malangkuliner online
Townhouse-The-Kalindra-foto-The-Kalindra-P80c5928dba440a88.jpg

Berita Lainnya

Berita

Terbaru