Lewat Tulisan, Para Bupati Ini Tuangkan Intelektualitas, Siapa Saja Mereka?

Jan 22, 2018 08:37
Ilustrasi tradisi Petekan di Desa Ngadas, Poncokusumo yang menjadi perhatian Bupati Malang Rendra Kresna hingga menjadi sebuah buku menarik. (Istimewa)
Ilustrasi tradisi Petekan di Desa Ngadas, Poncokusumo yang menjadi perhatian Bupati Malang Rendra Kresna hingga menjadi sebuah buku menarik. (Istimewa)

MALANGTIMES – Di tengah kesibukannya, para pemimpin daerah ini masih meluangkan waktu. Untuk merenung dan menuliskan berbagai gagasannya dalam sebuah tulisan. Tulisan yang akhirnya menjelma sebuah buku. Bukti intelektualitas seseorang yang tentunya patut diapresiasi. Terutama yang lahir dari pikiran dan tangan para bupati yang waktunya terbilang terbatas.

Baca Juga : Tundukkan Rasa Takut untuk Kemanusiaan, Ini Kisah Bripka Jerry yang Banjir Apresiasi

Siapa sajakah para bupati yang pernah menulis sebuah buku dan mengantarkannya menjadi sosok berbeda di tengah kepala daerah lainnya di Indonesia. Simak beberapa intelektual dari kalangan bupati hasil penelusuran MalangTIMES.

1.  Bupati Malang Rendra Kresna

Launching buku Tradisi Petekan karya Bupati Malang Rendra Kresna (Dok MalangTIMES)

Melalui serangkaian pengalamannya blusukan ke seluruh wilayah desa di Kabupaten Malang, Bupati Malang ke Sembilan belas ini akhirnya terpesona dengan salah satu tradisi yang ada di Desa Ngadas, Kecamatan Poncokusumo yaitu Petekan. Petekan merupakan salah satu tradisi yang telah ada sejak dahulu kala dan bertahan sampai kini. Petekan merupakan suatu tes untuk melihat apakah seorang gadis sudah kehilangan mahkotanya atau belum.

“Petekan telah ada sejak lama dan bertahan sampai saat ini. Dimana seks bebas telah menjadi budaya yang mencemaskan. Tradisi ini menjadi menarik sehingga saya tuliskan. Awalnya untuk tulisan disertasi, kemudian di bukukan dengan judul Tradisi Petekan Tes Keperawanan dari Negeri Khayangan,” kata Rendra.

Buku Tradisi Petekan Tes Keperawanan dari Negeri Khayangan selain mengangkat persoalan krusial yang melanda generasi muda saat kini yaitu sek bebas juga mengulas berbagai tradisi suku tengger dengan keelokan Gunung Bromo-nya. Buku Bupati Malang Rendra Kresna ini bisa diakses di www.malangtimes.com.

2. Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Soekirman

Bupati Serdang Bedagai (Sergai) Soekirman saat launching buku karya tulisnya(Ist)

Dari Serdang Bedagai Kampung Kami, hingga Onderneming Van Sergai merupakan judul dua buku yang ditulis oleh Bupati Sergai Soekirman. Buku-buku Soekirman lebih pada pengenalan secara detail mengenai potensi dan data lengkap tentang wilayah yang dipimpinnya.

Dalam buku Onderneming Van Sergai, Soekirman menuliskan secara detail mengenai perkebunan yang ada di Kabupaten Sergai. Lokasi perkebunan, ekspor hasil perkebunan, sampai pada perusahaan-perusahaan yang melakukan pengelolaannya. Bahkan Bupati Sergai kelahiran Perbaungan Serdang Bedagai, 6 April 1966 ini juga menuliskan secara lengkap alamat perusahaan-perusahaan perkebunan. “Ini untuk memudahkan investor yang tertarik dalam perkebunan. Di buku itu lengkap. Sampai pada email perusahaan yang dapat dihubunginya,” kata Soekirman seperti dilansir media lokal Sumatera Utara.

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

Buku lainnya berjudul Serdang Bedagai Kampung Kami berisikan tentang kehidupan dan keberadaan Masyarakat Desa di Kabupaten Sergai. Sejarah seluruh desa di Kabupaten Sergai beserta nama kades sejak tahun 1940 juga ditulisnya dalam buku tersebut. 

3. Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi 

Kang Dedi Bupati Purwakarta dengan tulisannya yang sempat menjadi kontroversi

Kang Dedi sapaan Bupati Purwakarta yang kini kembali bersiap mencalonkan dirinya kembali dalam Pilkada, tergolong bupati yang gemar menulis buku. Sebut saja judul buku Kang Dedi Menyapa Jilid I, Kang Dedi Menyapa Jilid II, dan Spirit Budaya yang pernah dilaporkan oleh kelompok pengajian Manhajust Sholihin Purwakarta atas dugaan melakukan penistaan agama. Walaupun akhirnya dugaan tersebut mentah karena tuduhan adanya tindakan pidana tersebut tidak terbukti setelah Polda Jawa Barat melakukan serangkaian pemeriksaan dan keterangan saksi ahli seperti ahli bahasa, akademisi, dan Majelis Ulama Indonesia.

Bagi kang Dedi, tulisan di dalam buku merupakan kerja intelektual dalam menuangkan gagasan-gagasan berpikir.

4. Bupati Malinau Kalimantan Utara Yansen Tipa Padan

Revolusi dari Desa,  buku Bupati Malinau Yansen (Ist)

Yansen Tipa Padan adalah sosok kuat di Kabupaten Malinau. Selain kepemimpinannya, Yansen juga ternyata penulis buku yang menjadi dasar dari pembangunan di wilayah desanya. Buku berjudul Revolusi Dari Desa, Sebuah Gerakan Desa Membangun (Gerdema) Ala Bupati Yansen. Buku ini menjadi sangat relevan dengan hadirnya Undang-Undang Desa di tahun yang sama dengan terbitnya buku Yansen.

Buku Revolusi dari Desa ini merupakan gagasan yang digeluti melalui proses perenungan panjang dan mendalam Yansen. Terutama mengenai pertanyaan: “mengapa elite-elite lokal dan birokrasi pemerintahan daerah yang selama ini telah bekerja keras belum membuahkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat, khususnya masyarakat desa di Kabupaten Malinau?” Bertolak dari pertanyaan inilah Yansen mengemundangkan Revolusi melalui Gerdema.

Topik
karya tulis para bupatikarya buku bupatiBUPATI MALANGRendra Kresna

Berita Lainnya

Berita

Terbaru