Pengunjung melihat lukisan berjudul Hallo Caleg karya perupa Effendy S atau Goweng yang ditampilkan di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Pengunjung melihat lukisan berjudul Hallo Caleg karya perupa Effendy S atau Goweng yang ditampilkan di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Dinamika kehidupan masyarakat di tengah pesta demokrasi menjadi sorotan seniman asal Malang, Effendy S atau yang akrab disapa Goweng.

Menghadirkan sekitar 20 karya, seniman yang tinggal di Jalan Jaksa Agung Soeprapto itu mengkritik perilaku politis melalui simbol-simbol dalam goresan lukisannya.

Salah satu simbol yang ditampilkan adalah angka-angka yang tersebar di beberapa lukisan. Ada serangkaian nomor acak ditulis di bidang warna lingkaran menyerupai nomor di bola biliard. Lukisan tampak seperti meja bergambar dengan sebaran bola warna-warni disertai angka. 

Misalnya lukisan berjudul Hello Caleg. Menunjukkan wajah mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama, dalam lukisan itu Goweng menggunakan teknik semi pop art.

Potret Obama ditampilkan dalam tiga warna dasar, yakni merah, biru dan kuning serta gradasi biru dan hitam untuk memberi efek dimensi.

Juga lukisan Merayakan Golput. Dalam politik, golput merupakan singkatan dari golongan putih atau kelompok yang tidak memihak dan tidak menggunakan suaranya dalam satu ajang pemilihan.

Berlatar warna biru langit, lukisan itu menunjukkan sekumpulan sosok pria tengah berupaya mendirikan atau malah merobohkan tiang dengan bendera putih berkibar di ujungnya. 

Ada juga lukisan berjudul Catatan, menampilkan hewan kerbau jantan dengan tanduknya yang gagah tengah memamah dasi. Ada pula lukisan-lukisan lain yang tidak memunculkan elemen angka. Misalnya yang berjudul Dream, Kesaksian, Eling, Lucifer Friend, dan lainnya. 

Lukisan-lukisan tersebut bisa dinikmati para pecinta seni di dua ruang pajang Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jalan Mojopahit. Goweng mengungkapkan, pameran tunggal tersebut bakal digelar hingga 30 Januari mendatang.

Mengangkat tajuk Belum Selesai Tumbuh, perupa kelahiran 11 Maret 1960 itu menghadirkan catatan-catatan pribadi berupa respons estetik terhadap berbagai isu yang tengah berkembang di masyarakat. 

"Saat ini di dunia seni, angka bukan lagi sekadar simbol. Tetapi sudah hadir sebagai bagian dari visual. Angka juga menjadi satu elemen penting dalam dunia politik," ujar pria yang juga menjadi pengajar seni di beberapa lembaga itu. 

Selain itu, karya yang ditampilkan merupakan rekaman proses kreatif sejak tahun 2000 silam hingga 2017 atau sekitar 17 tahun. Karya-karya Goweng memang tampak tak seragam dan memiliki perbedaan ditiap kurun waktu. Misalnya lukisan yang digarap sekitar 2000-2003 yang menggunakan media pensil di atas kertas. 

Goweng banyak menghadirkan sosok manusia, terutama laki-laki dengan elemen api. Lalu pada sekitar 2009-2010 Goweng menampilkan lukisan akrilik di atas kanvas dengan memasukkan unsur angka.

Sementara pada lukisan yang muncul belakangan, Goweng banyak bermain warna dengan memadukan warna-warni pelangi yang berani. 

Lamanya proses menuju pameran tunggal itu, menurutnya juga terpengaruh dengan tuntutan dunia kerja.

"Proses kreatif saya sebagai seorang perupa yang juga pengajar sekaligus seringkali menempatkan dalam posisi yang ambigu. Kompleksitas antara persoalan dan tanggung jawab, keduanya harus menjadi bermartabat," urainya.