Lima Tanaman Langka Ini Ternyata Mampu Tumbuh di Sumber Brantas

MALANGTIMES - Titik nol Brantas yang berada di Desa Tulungrejo Kecamatan Bumiaji, Kota Batu menjadi salah satu tempat favorit untuk berkemah.

Selain dekat sengan sumber mata air, di kawasan ini juga memiliki begitu banyak flora yang tumbuh sehingga membuat suasana menjadi semakin asri.

Saking banyaknya flora yang tumbuh, tak disangka juga banyak flora langka mampu hidup di sini. MalangTIMES merangkum lima tanaman langka yang mampu hidup di sekitar titik nol Sungai Brantas atau kerap disebut dengan Arboretum ini.

1. Kayu Manis (Cinnanonum Burmani)

Pohon kayu manis yang langka. (Foto: Google Image)​

Spesies tanaman yang bisa tumbuh hingga 15 meter ini berasal Indonesia dan wilayah Asia Tenggara. Bagian batang dan kulit Kayu Manis bisa dijadikan sebagai obat.

Tak hanya itu, kayu manis juga memiliki aroma khas. Tanaman ini juga cukup terkenal sebagai bahan rempah-rempah untuk makanan maupun obat. Dalam istilah Jawa, Kayu Manis dikenal dengan sebutan Keningar.

2. Pinus Parana (Araucaria Angustifolia/Pinheiro-do-Paraná/Candelabra Tree)

Pinus Parana yang dibawa langsung oleh Roedjito Dwidjomestopo dari Bazil 1992 lalu. (Foto: Google Image)​

Jika Anda akan melintasi bangunan utama di kawasan titik nol Brantas, Anda akan mendapati tiga pinus Parana yang tinggi menjulang.

Tanaman ini dibawa langsung saei Brazil oleh pimpinan Arboretum saat mengikuti konferensi Bumi pada bulan Juni 1992 silan di Rio de Janeiro.

Pinus Parana banyak ditemui di Brazil Selatan, Argentina maupun Australia Timur. Memiliki batang besar dan berdiri tegak serta kulit pohon yang kasar. Tanaman berdaun mirip jarum ini bisa tumbuh hingga lebih dari 30 meter. IUCN Red List memasukkan Pinus Parana sebagai tanaman yang terancam punah.

3. Taksus (Taxus Sumatrana)

Pohon Taksus yang tidak bisa tumbuh di sembarang tempat. (Foto: Google Image)​

Jika Anda beekunjung ke Arboretum, Anda akan melewati 'lorong pohon'. Lorong ini terbentuk dari dahan-dahan pohon yang menjuntai membentuk kanopi.

Pohon Taksus lah yang memiliki batang menjuntai dalam beberapa tingkatan ini mampu menghasilkan oksigen selama 24 jam meski daunnya hanya berdiameter 2 hingga 2,5 mm dan panjang 1,2 hingga 2,7 cm.

Taksus sering disebut sebagai Cemara Semak, dan banyak ditemukan di beberapa negara seperi Afghanistan, Vietnam, Taiwan maupun China. Taman Nasional Taroko di Taiwan memasukkan spesies ini dalam kategori dilindungi.

4. Kina (Cinchona Ledgeriana atau Quinine)

Tanaman Kina yang kaya manfaat dan langka (Foto: Google Image)​

Quina atau Kina dikenal sebagai tanaman obat untuk Malaria. Mampu tumbuh hingga 15 meter, tanaman tropis ini menghasilkan bunga berwarna putih, merah muda atau kuning. Memliki daun bulat telur dengan panjang berkisar 10 - 35 Cm dan lebar 9 - 25 Cm.

Obat untuk sakit malaria diambil dari kulit pohon Kina. Habitat aslinya dari sekitar dataran tinggi Andes (1500 - 3000 Mdpl) di Amerika Latin sebelum akhirnya dibawa seorang Charles Ledger untuk ditanam di India dan Jawa di Indonesia.

4. Puspa (Schimawallichii)

Kembang Puspa yang mulai sulit dijumpai. (Foto: Google Image)​

Tanaman asli Indonesia ini terkenal sebagai bahan bangunan rumah yang berkualitas dan memiliki tekstur yang halus. Masuk dalam kelas awet III, Puspa cukup tahan terhadap serangan Rayap kering namun kurang tahan terhadap jamur pelapuk.

Dalam istilah Jawa disebut pohon Seru, atau Madang Gatal (Kalimantan). Disebut madang gatal karena memiliki semacam miang yang berhamburan ketika digergaji, dan menimbulkan rasa gatal di kulit.

Puspa juga mampu hidup di berbagai kondisi habitat dan iklim. Pohon yang selallu hijau memiliki ukuran sedang hingga besar, mampu tumbuh hingga 40 Meter lebih.

Top