Seniman Ini Beber 'Sasmita Alam' atas Tiga Bakal Calon Wali Kota Malang, Sesuaikah?

Jan 17, 2018 20:03
Samsul Subakri atau Mbah Karjo saat merangkai wayang dari bahan mendong. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Samsul Subakri atau Mbah Karjo saat merangkai wayang dari bahan mendong. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Ibarat wayang, para bakal calon wali kota Malang tengah melakoni narasi yang digagas pengusung masing-masing. Seniman asal Kota Malang, Samsul Subakri menerjemahkan kondisi ketiga calon tersebut dalam wujud wayang mendong. 

Hadir dalam kegiatan Dialog Reboan yang digelar Komunitas Malang Peduli Demokrasi (MPD) siang tadi (17/1/2018) di Rumah Makan Kertanegara, seniman yang akrab disapa Mbah Karjo itu menyerahkan tiga sosok wayang buatannya pada timses masing-masing calon. 

Baca Juga : Kilas Balik Jejak Covid-19 di Kota Malang Hingga Pengajuan Status PSBB

Yang pertama, wayang berukuran sekitar 20 sentimeter itu diberikan pada perwakilan timses Ya'qud Ananda Gudban. "Saya serahkan wayang yang menggambarkan ksatria berkerudung, karena saya melihat sosok Ananda Gudban ini perempuan muslimah. Ada dua tali di belakang pakaiannya yang menggambarkan ada dua hal yang tidak boleh ditinggal," ujar Mbah Karjo.

Wayang kedua diberikan pada timses Sutiaji. Dia menuturkan sosok wayang tersebut mengambarkan seorang ksatria. Lengkap dengan pakaian yang biasa dikenakan di medan perang. Termasuk kampuh, yakni tali atau selendang di sisi kanan-kiri tubuh. "Fungsinya kampuh ini saat bertanding satu lawan satu, para kesatria akan saling mengikatkan kampuhnya. Artinya siap bertanding sampai titik darah penghabisan," urainya. 

Secara teknis mirip pola duel Suku Bugis yang baku tikam dalam sarung. "Tapi di situ tergambar, kampuh atau tali itu membelit dirinya sendiri. Jika tidak diurai maka ketika maju perang, senjata yang harusnya jadi andalan malah memunculkan kerepotan," tuturnya.

Sementara sosok wayang yang diserahkan untuk timses Moch Anton ditampilkan perpaduan atara sosok ksatria dengan brahmana atau pemuka agama. "Ini gambaran yang menunjukkan ambigu, atributnya menandakan kalau dia resi atau pimpinan umat karena mengenakan jubah. Tapi hanya separo, separonya lagi pakaian kesatria," ujar pria yang tinggal di Jalan Mayjen Panjaitan itu.

"Artinya, kalau mau perang jangan bawa isu kerohanian. Demikian pula kalau mau urusan kerohanian yang spesifik ya tinggalkan dunia yang ini. Nggak bisa dicampur," ujar Mbah Karjo. Menurutnya, hal tersebut perlu dijadikan pertimbangan apakah akan benar-benar maju kembali atau tidak.

Meski demikian, dia menyerahkan seluruh tafsir atas wayang yang dibuat itu pada masing-masing calon dan masyarakat. "Saya ini menangkap getaran saja. Sasmita alam yang saya tangkap saat menganyam daun mendong menjadi wayang ini, (tangan) seperti tergerak dengan sendirinya," terang Mbah Karjo. 

Baca Juga : Umumkan Tenaga Medis Terpapar Covid-19, Wali Kota Malang Menangis Terisak

Termasuk dalam urutan membuat wayang. Mbah Karjo mengaku pertama membuat wayang untuk Ananda Gudban, lalu Moch Anton, baru untuk Sutiaji. "Kalau ada yang tanya, apa itu pertanda nomor urut? Ya saya tidak tahu. Seperti soal kaki wayang ini, punya Abah (Moch Anton) postur orang melangkah dengan tumpuan kaki kanan. Kalau Sutiaji, tumpuannya kaki kiri seperti baru mau melangkah," urainya.

Mbah Karjo mengaku mulai merangkai wayang itu lepas tengah malam dan selesai tepat saat adzan Subuh berkumandang pagi ini. Dia menyiapkan bahan dengan jumlah dan panjang yang sama untuk tiga sosok wayang itu. Untuk masing-masing wayang, disediakan tujuh lembar batang mendong dengan panjang seratus ruas jari atau sekitar 105 sentimeter.

"Kan bahan wayang ini jumlah dan panjangnya sama, yang membedakan ketiganya hanya satu. Calon Sutiaji menyisakan bahan baku sekitar 15 persen, kalau wayang yang lain (bahannya) habis. Hal seperti ini kan nggak bisa dirumuskan," ujarnya. Meski demikian, sebelum merangkai dia mengaku tidak melakoni ritual khusus. Dia hanya mengaku menangkap 'getaran alam' saat merangkai batang mendong. 

Mbah Karjo sendiri menekuni pembuatan wayang sejak 2001 silam.  Dia tidak hanya menggunakan bahan mendong, tetapi bahan-bahan lain yang ramah lingkungan. Mulai dari daun, kresek plastik, hingga serabut kelapa. "Arti dari sosok-sosok ini saya serahkan sepenuhnya pada para calon. Yang pasti, jika dianggap penanda semoga bisa dimanfaatkan sebagai petunjuk langkah yang harus diambil," pungkasnya. (*) 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari JatimTIMES.com. Mari bergabung di Grup Telegram , caranya klik link Telegram JatimTIMES, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.
Topik
senimanPasangan Calon Kota Malangpilkada kota malang 2018

Berita Lainnya

Berita

Terbaru