Suasana kegiatan Dialog Reboan yang digelar Komunitas Malang Peduli Demokrasi (MPD) siang tadi (17/1/2018) di Rumah Makan Kertanegara. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Suasana kegiatan Dialog Reboan yang digelar Komunitas Malang Peduli Demokrasi (MPD) siang tadi (17/1/2018) di Rumah Makan Kertanegara. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Jelang penetapan pasangan calon (paslon) wali kota dan wakil wali kota dalam Pilkada Kota Malang 2018, masing-masing tim sukses tengah merancang strategi untuk meraih kemenangan. Namun, tampaknya massa berlatar belakang agama masih menjadi 'rebutan'. 

Hal tersebut terlontar saat perwakilan tim sukses tiga paslon hadir dalam Dialog Reboan yang digelar Komunitas Malang Peduli Demokrasi (MPD) siang tadi (17/1/2018) di Rumah Makan Kertanegara. Di sesi kedua diskusi, seniman Samsul Subakri atau Mbah Karjo menyerahkan satu sosok wayang pada masing-masing tim sukses (timses). 

Paslon Moch Anton -Syamsul Mahmud (ASIK) diwakili Arief Wahyudi. Sementara paslon Ya'qud Ananda Gudban -Achmad Wanedi (Menawan) diwakili Dito Arief. Sedangkan paslon Sutiaji-Sofyan Edi Jarwoko (SAE) diwakili M. Noorwahyudi. Masing-masing sosok wayang yang diserahkan Mbah Karjo memiliki gambaran berbeda. 

Untuk paslon Menawan, wayangnya adalah sosok ksatria berkerudung dengan dua tali di belakang pakaiannya. Sedangkan untuk paslon SAE, yakni ksatria yang akan berperang tetapi masih terlilit kampuh (tali/selendang) yang umumnya berada di sisi kanan-kiri pakaian wayang. Sementara untuk paslon ASIK, ditampilkan sosok yang tampilannya separo brahmana separo ksatria. 

Menanggapi simbol-simbol yang muncul dalam sosok wayang itu, penasihat timses SAE M. Noorwahyudi mengungkapkan bahwa pasangan tersebut memang siap bertarung. Simbol ksatria yang muncul itu, menurut dia, sudah diketahui masyarakat Kota Malang. Namun, dia menuturkan masih ada yang belum selesai di dapur timses. Utamanya soal dukungan dari masyarakat berbasis agamis. 

"Masyarakat Malang saya rasa tahu simbol kesatria sesuai untuk Sutiaji dan Sofyan Edi. Tetapi kalau ada taliyang masih membelit ini mungkin tali NU (Nahdlatul Ulama). Ya mudah-mudahan dalam waktu dekat bisa diudari (diurai) dan semua elemen masyarakat Kota Malang bisa kami ikat dengan tali ini," ujar Noorwahyudi. 

Sementara itu timses paslon ASIK Arief Wahyudi mengungkapkan bahwa pihaknya menilai tanda-tanda yang muncul itu karena wayang dibuat dengan sepenuh hati dan rasa. Namun, dia menegaskan bahwa Moch. Anton akan memilih menjadi kesatria. "Abah Anton tetap jadi satria dengan melakukan koreksi diri. Yang buruk diperbaiki, yang baik ditingkatkan. Jadi tidak ambigu lagi," tegasnya. 

Perwakilan timses paslon Menawan, Dito Arief menanggapi dengan diplomatis. Menurut dia, wayang tersebut menunjukkan keberagaman kekayaan potensi seni dan budaya di Kota Malang. "Wayangnya ini harus diapresiasi. Sementara simbol-simbolnya ini akan jadi perhatian serius tim Menawan," ujarnya.

Dito menjawab bahwa dua tali yang ada dibelakang pakaian wayang untuk Nanda itu adalah simbol untuk keluarga dan barisan pendukungnya. Dia menegaskan bahwa paslon tersebut tidak akan meninggalkan keluarga.  Karena support utama dari keluarga menjadi modal untuk maju ke gelanggang Pilkada Kota Malang. "Selain itu di belakang Menawan ada partai pendukung, komunitas, restu ulama kiai yang juga tidak akan ditinggalkan," paparnya.

Sementara itu, Mbah Karjo sendiri menitipkan pesan saat menyerahkan tiga sosok wayang itu. Dia mengharapkan Pilkada Kota Malang berjalan dengan damai dan aman. "Wayang ketika tampil hanya di pakeliran. Sesudah selesai wayangnya masuk kotak. Nggak ada cerita wayang berkelahi ulang setelah pentasnya selesai. Ya intinya jangan ada gejolak," tegasnya.

"Kami ini, seniman, masyarakat, semua ikut bertaruh. Bukan dalam artian judi, tapi yang menjadi taruhan kami adalah nasib Kota Malang lima tahun ke depan. Jadi kalau pimpinannya menang dengan jujurdan adil, tentu akan membawa Kota Malang lebih baik," pungkasnya. (*)