Gedung Balai Kota Malang di masa kolonial. (Foto: Google image)
Gedung Balai Kota Malang di masa kolonial. (Foto: Google image)

MALANGTIMES - Kantor pemerintahan merupakan salah satu hal yang krusial bagi jalannya roda pemerintahan. Selain sebagai kantor, bangunan yang lebih dikenal dengan sebutan balai kota ini juga menjadi pusat pemerintahan dalam sebuah daerah.

Baca Juga : Tiga Tenaga Kesehatan Positif Covid-19 di Kota Malang Sembuh

Di Kota Malang, kantor pemerintahannya yang lebih kita kenal dengan Balai Kota Malang berada di pusat kota di Jalan Tugu.

Bangunan yang kokoh berdiri ini rupanya sudah ada sejak lebih dari seabad silam. Meski sempat mengalami perbaikan dan renovasi di sana-sini, namun bangunan ini tidak meninggalkan bentuk aslinya. MalangTIMES coba ulas fakta-fakta menarik soal Balai Kota Malang. Yuk, simak ulasan berikut :

1. Pada tanggal 1 April 1914 Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (pemerintah kota) setelah sebelumnya masih menjadi bagian dari Karesidenan Pasuruan.

Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin seorang Burgemeester (wali kota). Semula jabatan wali kota itu dirangkap Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai wali kota pertama HI Bussemaker, yang menduduki jabatannya sampai 1929.

Meskipun wali kotanya telah ditunjuk, tetapi sampai tahun 1926 Kota Malang masih belum memiliki kantor balai kota yang permanen.

2. Alasan untuk membentuk daerah pusat pemerintahan baru membuat pihak kota (Gemeente) membuat rencana perluasan kota kedua (Bouwplan II) yang diputuskan pada 26 April 1920.

Daerah ini dinamakan sebagai Gouverneur-Generaalbuurt. Rencana tersebut baru dilaksanakan pada tahun 1922. Lapangan yang menjadi orientasi utama daerah baru tersebut kemudian dinamakan sebagai Jan Pieterszoon Coenplein (Lapangan JP. Coen).

Karena lapangan tersebut berbentuk bulat (bahasa Jawa: bunder), maka sering disebut sebagai Alun-Alun Bunder.

3. Di tengah Alun-alun Bunder tersebut dibuat kolam air mancur. Di sekitar Alun-Alun Bunder tersebut, kemudian didirikan berbagai bangunan resmi dan monumental seperti Balai Kota Malang, gedung sekolah HBS (AMS), sekarang SMA Negeri, tempat kediaman panglima militer, Hotel Splendid, dan Kantor Dinas Topografi, serta bangunan villa lainnya. Lingkungan baru tersebut kemudian terkenal sebagai daerah yang menjadi ciri khas Kota Malang.

4. Gagasan perencanaan Balai Kota Malang tersebut baru muncul pada akhir tahun 1926. Pada saat itu wali kota H.I. Bussemaker mengadakan sayembara perancangan Balai Kota Malang, yang lokasinya sudah ditentukan di selatan lapangan JP. Coen.

Gemeente Malang menunjuk Ir. W. Lemei sebagai juri dibantu Ir. Ph. N. te Winkel dan Ir. A. Grunberg. Ir. W. Lemei adalah pejabat Landsgebouwendienst (Kepala Jawatan Gedung Negara). Pada sayembara tersebut terdapat 22 gambar yang masuk.

5. Gemeente Malang membuat sayembara pembuatan desain balai kota, namun ternyata tidak satu pun dari peserta sayembara membuat desain dengan baik.

Baca Juga : Tanggap Covid-19, Fraksi PKS DPRD Kota Malang Bagikan Ratusan APD ke Petugas Medis

Oleh karena itu tidak mengherankan jika akhirnya juri memutuskan tidak ada pemenang di antara pengikut sayembara tersebut.

6. Setalah kembali diteliti juri mwmutuskan memilih dua proyek terbaik kemudian mulai dilaksanakan pembangunan yang menelan biaya f 175.000.

7. Namun pada 1927 Dewan Perwakilan (Gemeenteraad) memerintahkan agar rancangan yang dianggap terbaik dapat diwujudkan dengan berbagai perubahan yang diusulkan juri.

Keputusan jatuh kepada rancangan HF Horn dari Semarang dengan motto Voor de Burgers van Malang (untuk warga Malang).

Pekerjaan pembangunan balai kota tersebut dilaksanakan pihak kota sendiri pada 1927-1929, dengan biaya saat itu sebesar f 287.000,- dan perabotannya sebesar f 12.325,-.

Pada November 1929 gedung tersebut baru bisa dipakai. Yang pertama kali menempati gedung tersebut adalah pengganti HI Bussemaker, yaitu Ir. EA Voorneman.

8. Perancang interior Balai Kota Malang adalah C Citroen yang merupakan arsitek terkenal dari Surabaya. Dia merancang balai sidang, ruang wali kota dan sekretaris. Interior balai kota dibuat menggunakan kayu jati dan kursi diberi beklet dari kulit kaleb kuning.

9. Bangunan balai kota terdiri dari dua lantai dengan bangunannya menghadap utara-selatan. Karena letak dan bentuk utama lokasinya, maka balai kota tersebut seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-Alun Bunder) dengan indahnya.

Bentuk utama denahnya sesuai benar dengan kehendak situasinya yang harus mengarah ke lapangan JP Coen. tampak bangunannya berbentuk simetri dengan pintu utama tepat di tengah.

10. Pada tanggal 29 Juli 1947 Belanda menyerbu Malang yang dikenal sebagai Agresi Militer Belanda I. Pada tanggal 31 Juli 1947 pukul 9.30 WIB tentara Belanda menduduki Kota Malang.

Sebelum tentara Belanda memasuki kota, gedung balai kota sudah dibumihanguskan oleh para pejuang. Bukan gedung balai kota saja yang dihancurkan, gedung-gedung penting lainnya meliputi seribu bangunan turut dibakar. Baru setelah perang kemerdekaan gedung Balai Kota Malang kembali dibangun.