Kerajaan Singhasari, peletak dasar kepemimpinan dan persatuan nusantara. Dalam foto wilayah dan pengaruh kerajaan Singhasari. (Wikipedia)
Kerajaan Singhasari, peletak dasar kepemimpinan dan persatuan nusantara. Dalam foto wilayah dan pengaruh kerajaan Singhasari. (Wikipedia)

MALANGTIMES – Sistem kepemimpinan khas Malangan telah lahir sejak abad ke-7 Masehi. Hal ini terlihat dari berbagai bukti yang kini masih ada di berbagai peninggalan sejarah. Baik candi maupun berbagai kitab kuno yang kini terus digali oleh berbagai komunitas dan pecinta sejarah dan kebudayaan.

Bahkan, sistem kepemimpinan kolektif kolegial yang dipakai di zaman modern, ternyata telah hadir di masa tersebut. Dulu, desa-desa di Malang disebut dengan istilah Wanua yang dipimpin oleh pararama (para bapak tetua adat).

Dari Wanua membentuk tatanan pemerintahan bernama Watak yang diteruskan dengan Kadatuan (yang penyebutannya menjadi Kedaton dan Keraton). Dalam sistem tersebut kesadaran untuk mendistribusikan kewenangan (Trias Politika dari John Locke dan Montesquieu) dari para pemimpin Malang telah lahir dan berjalan.

Lantas, siapa sajakah pemimpin Malangan yang karakternya tegas dan mengalir harmonis karena ditempa dan digembleng topografis Malang yang berupa alam pegunungan dan derasnya alir Kali Brantas yang jadi urat nadi utama Kerajaan masa lalu. MalangTIMES merangkumnya untuk anda para pembaca media online berjejaring terbesar di Indonesia.

 Gajayana sang pemimpin legendaris dari Kanjuruhan adalah peletak dasar karakter kepemimpinan khas Malangan yang tegas dan mengalir harmonis dengan rakyat dan sekitarnya ini. Pada masa berikutnya sekitar abad ke-12 lahirlah pemimpin legendaris berikutnya yaitu Ken Dedes, ibu dari semua raja diraja penguasa Jawa-Nusantara.

Kepemimpinan Ken Dedes yang merupakan putri terbaik bumi Malang tepatnya dari Panawijan (Polowijen) menggambarkan kepemimpinan wanita sudah sangat dijunjung tinggi sejak dulu di bumi Malang. 

Patung Ken Arok (flickriver.com)

Kepemimpinan Ken Dedes ini lestari sampai kini dengan adat masyarakat warga Malang yang menganut faham sintesa antara patrilineal dengan matrilineal. Yaitu sama-sama menghormati Bapak dan Ibu yang sering dilambangkan dalam munajat doa tetua adat dengan Bapa Angkasa Ibu Pertiwi. Mengutip ungkapan Cokro Wibowo Sumarsono, seorang penelaah sejarah, lulusan Universitas Negeri Malang.

Di era Ken Arok, pendiri Kerajaan Singhasari dengan sifat kepemimpinan Bhairawa Anoraga. Yang artinya tangguh perkasa secara fisik namun tetap lembut dalam olah spriritual. Sifat kepemimpinan Gajayana dan Ken Dedes yang diperistrinya semakin lengkap. Ken Arok juga memiliki sikap bhumi sparsa mudra, yang melambangkan kepemimpinan yang selalu membumi. Pro masyarakat kecil dan berjiwa sosial dalam bahasa saat ini.

Patung Ken Dedes (Istimewa)

Anusapati, putra Ken Dedes dari perkawinannya dengan Tunggul Ametung merupakan contoh pemimpin yang sangat memuliakan Ibundanya. Selain sifatnya itu, kepemimpinan Anusapati yang tergambar dalam Relief Garudeya pada Candi Kidal, Tumpang, sebagai tempat pendharmaannya menggambarkan ketegasan sikap atas kemerdekaan dari perbudakan.

Di Candi Kidal ini pula asal muasal inspirasi lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila. “Lambang Negara kita tidak menjiplak lambang dari negara lain melainkan berasal dari akar jati diri bangsa pada masa kerajaan Singhasari. Pusparagam dalam kesatuan yang terdapat pada Candi Kidal juga menjadi sumber inspirasi adanya sesanti Bhinneka Tunggal Ika,” kata Cokro Wibowo Sumarsono.

Pemimpin berikutnya adalah dwitunggal Ranggawuni (Wisnuwardhana) sebagai Raja dan Mahisa Campaka (Narasinghamurti) sebagai Ratu Anghabaya. Persatuan dua pemimpin keturunan Ken Dedes dari jalur Tunggul Ametung dan Ken Arok ini diibaratkan dengan istilah dua naga dalam satu liang. Para penjaga kerukunan antara Kerajaan Singhasari dan Kadiri. Sifat kepemimpinan dari Dwi Tunggal ini menjadi tonggak adanya embrio persatuan nasional antara banyak kelompok agama, trah, politik dan kesatuan militer saat itu. 

Kertanegara, pemimpin berikutnya semakin menyempurnakan peletak dasar persatuan nasional yang telah dirintis oleh Wisnuwardhana-Narasinghamurti. Spirit dan doktrin Cakrawalamandala Jawa dan Cakrawalamandala Nusantara Masa Singhasari merupakan embrio Sumpah Hamuktipalapa Masa Majapahit.

Mudzakir Dwi Cahyono peneliti sejarah dan kebudayaan mengatakan, walau pemerintahan Singhasari hanya 70 tahun (1222-1292 Masehi,red), namun telah memberikan kontribusi politik yang penting bagi penyatuan bhumi Jawa dan kemudian penyatuan Nusantara.

Spirit Cakra Mandala juga sebuah doktrin untuk menyatukan seluruh wilayah kepulauan Asia Tenggara di bawah kepemimpinan Singhasari. Artinya pemimpin Malang sejak dulu adalah sosok yang offensive serta berwawasan go international.

Kertanegara juga sosok pemimpin yang menghormati semua aliran agama dan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Seorang satria pinandita, yaitu pemimpin politik dan militer yang memahami juga konsepsi religiusitas,” ujar Dwi Cahyono. 

Lukisan Raden Wijaya (Istimewa)

Raden Wijaya, penerus dinasti Singhasari tercatat sebagai pemimpin yang melanjutkan sifat Kartanegara. Di eranya, pasukan besar Kubilai Khan dari Monggol China Tartar yang telah menguasai di pertiga dunia, dipukul mundur ketika akan masuk nusantara oleh laskar rakyat Jawa-Madura di bawah kepemimpinan Raden Wijaya.

Rendra Kresna Bupati Malang Kesembilanbelas (dok. MalangTIMES)

Kini, Kabupaten Malang dalam dua periode kepemimpinan Dr H Rendra Kresna (Bupati ke sembilan belas, red) yang menyerap berbagai prinsip dan kepemimpinan para leluhurnya, juga telah meletakkan berbagai pondasi kuat. Baik dalam perekonomian untuk kesejahteraan rakyat, politik, budaya, sosial dan agama. Maupun dalam sikap yang tegas tapi tetap mengalir harmonis dalam dinamika perubahan yang cepat di masyarakat.

Dari Berbagai Sumber.