Anak Usia 15 Tahun Penderita Penyakit Langka di Turen Dipercaya Ngajar Ngaji di Pesantren

Jan 09, 2018 22:34
Bima Maulanasa penderita penyakit kulit langka asal Desa Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang sedang membaca Alquran dengan kondisi penglihatan yang kabur. (foto : imam syafii/MalangTIMES)
Bima Maulanasa penderita penyakit kulit langka asal Desa Sanankerto, Turen, Kabupaten Malang sedang membaca Alquran dengan kondisi penglihatan yang kabur. (foto : imam syafii/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Di balik kelemahan dan kekurangan seseorang Tuhan selalu menitipkan kelebihan khusus pada diri seseorang. Hal ini terjadi pada Bima Maulana, anak berusia 15 tahun yang menderita penyakit langka berupa bintik hitam yang menutup beberapa bagian tubuhnya. 

Tak hanya menderita penyakit bintik hitam di kulitnya saja, warga  Desa Sanankerto RT 23 RW 03, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang ini juga terkendala dengan penglihatan matanya yang kabur saat melihat benda di sekitarnya. Sebab, sebagian bintik hitam tersebut menutupi selaput matanya.

Baca Juga : UM Sebut Ada Sejumlah Dosen yang Kontak dengan Dosen Positif Covid-19

Namun, di balik  kekurangan itu, anak ketiga dari pasangan Agus Ari Wibowo dan Dwi Harini (alm) tersebut tak putus asa untuk tetap melakukan ibadah dan aktivitas mulia lain dalam hidupnya.

Saat ditemui MalangTIMES pukul 15.30 WIB di rumahnya, Bima baru saja selesai menunaikan Salat Ashar. 

Ayahnya, Agus Ari Wibowo mengaku  sangat bangga terhadap anaknya karena meskipun memiliki kekurangan penglihatan dan menderita penyakit kulit langka putranya ini terus berupaya agar bisa memberi manfaat kepada oranglain.

Meski anaknya hanya mengenyam pendidikan hingga kelas 4 SD, dirinya sangat bangga melihat potensi ilmu keagamaan yang dimilikinya.

"Saya terharu dan senang dengan mendengar kabar Bima mengajar ngaji di pondoknya langsung ditunjuk pengasuhnya Ustad Dikrun," kata Agus sembari mengusapkan air matanya.

Menurut Agus, dia membolehkan anaknya mengajar ngaji di pondoknya di atas pukul 16.00 WIB karena kondisi sinar matahari sudah berkurang.

"Jadi anak saya itu tidak boleh keluar rumah di atas pukul 08.00 hingga 16.00 WIB. Pasalnya, kalau terkena sinar matahari secara langsung penyakit bintik di kulitnya akan semakin parah," ucapnya.

"Jadi saya bolehkan mengajar ngaji mulai pukul 16.00 WIB hingga usai maghrib," lanjut pria 56 tahun itu.

Baca Juga : Bergerak Mandiri, Baitul Mal Ahad Pon Salurkan Bantuan Bagi Masyarakat Terdampak Covid-19

Kepada MalangTIMES, Bima mengaku senang dirinya dipercaya mengajar gaji di pondoknya. "Saya  mengajar ngaji kelas anak-anak mulai kelas 2 sampai 6 SD," jelas Bima.

Hanya saja, dengan keterbatasan yang dimilikinya ia tidak bisa berlama-lama ngajar ngaji para muridnya di pondok.

"Saya mengajar ngaji sekitar satu jam saja, mata saya capek dan tidak kuat kalau melihat tulisan yang sangat kecil dan pancaran cahaya yang terlalu terang. Biasanya saya langsung pusing," beber Bima.

Usai melakukan wawancara dirinya mengambil Alquran dan mempraktekkan kemampuannya mengaji dengan membaca Surat Al Kautsar. Ia membaca ayat demi ayat dengan fasih dan jelas sesuai makhorijul huruf (tempat keluarnya huruf) dan tajwidnya (tata cara membaca Alquran dengan baik). 

Keseharian itulah yang ia lakukan di luar rumah. Saat berada di dalam rumah dirinya hanya bisa menonton televisi dengan waktu terbatas dan bermain gitar.

"Saya ingin penyakit kulit dan mata saya cepat sembuh dan bisa segera berobat," harap Bima sembari menoleh ayahnya sembari mengatakan,"Ayah aku ingin sembuh," celetuknya. 

Topik
anak derita penyakit langkaturen kabupaten malangBerita MalangDesa Sanankerto

Berita Lainnya

Berita

Terbaru