Profesi Wartawan Tidak Buat Bahagia? Media Online JatimTIMES Tepis Lewat Ini

Jan 02, 2018 13:29
Kru media online berjejaring nomor satu di Indonesia, JatimTIMES berpose riang di Pantai Pandawa Bali (foto: dok/Jatim TIMES)
Kru media online berjejaring nomor satu di Indonesia, JatimTIMES berpose riang di Pantai Pandawa Bali (foto: dok/Jatim TIMES)

MALANGTIMES - Setiap profesi menyimpan cerita. Menjalani pekerjaan sebagai pemburu berita, banyak wartawan terpaksa melewatkan hidup dengan tekanan. Menyajikan berita dengan cepat, tepat dan akurat tentu bukan perkara mudah. Ada waktu untuk diri sendiri yang harus dikorbankan.

Pun jua kisah percintaan. Sampai ada ungkapan, "Liputan Dulu Baru Kamu". Ngenes, barangkali begitu kata yang tepat menggambarkan nasib seorang wartawan. Bila dari mereka telah membangun biduk rumah tangga, jangan bayangkan bisa duduk santai bareng keluarga. Lagi-lagi, berita mengalahkan segala. 

Tidak ada tanggal merah dalam kalender para pewarta. Hidup dari durasi, hidup dari rangkaian kata, hidup bagi pembaca dan pemirsa.

Lazuardi Firdaus, General Manager Media Online MalangTIMES.com menggelengkan kepala. Baginya, profesi wartawan bukan soal memburu berita. "Tapi mengungkapkan kebenaran. Orang membaca tulisan wartawan bukan hanya senang, tapi juga sedih, tapi juga kecewa. Bukankah begitu kalau kita menyajikan sesuai yang riil terjadi?" kata dia.

Soal jurnalisme, Firdaus memegang filosofi. Tetapi ini soal kebahagiaan. Kata sebagian orang, bahagia tidak ruwet dengan ini itu. Bahagia ya bahagia. Tidak perlu berfilsafat. 

Perusahaan tempat Firdaus bernaung, PT Jatim Times Network, punya belasan wartawan dengan segudang pengalaman. Puluhan tahun menjalani profesi ini, apakah Firdaus dan puluhan wartawan lain bahagia? 

Akhir tahun 2017 tepatnya 27 Desember silam, wajah 37 orang wartawan media online JatimTIMES.com berbeda. Raut muka mereka berseri-seri. Hari itu tidak alat tulis atau alat rekam. Mungkin, handphone mereka hari itu merasakan keanehan sebab bukan lagi membidik berita tapi senyuman dari bibir mereka. Ada apa gerangan? 

Sahrul Hidayah, marketing eksekutif JatimTIMES.com mengatakan mereka pergi ke Pulau Bali. Liburan? Lantas apa kabar berita? Apa mungkin wartawan liburan? 

Sahrul yang ditunjuk sebagai koordinator tour menjelaskan mereka sudah punya berita untuk disimpan jelang keberangkatan. "Rencana kami kembali lagi di Malang tanggal 30," jelasnya. 

Ada 23 orang kru dari MalangTIMES dan sisanya merupakan awak wartawan dari berbagai daerah di bawah naungan PT Jatim Times Network diantaranya Lumajang, Trenggalek, Banyuwangi, Blitar, Jember, dan daerah lainnya. Selama empat hari, punggawa media online JatimTIMES.com menikmati pesona pantai di Pulau Dewata Bali diantaranya Pantai Pandawa, Tanjung Benoa, dan Tanah Lot. 

Sekali lagi apa mungkin wartawan liburan? Pertanyaan soal liburan ini rasanya juga menjawab tanya akan bahagia. Berlibur boleh jadi dihapuskan dari hak wartawan, nyatanya mereka tetap harus kerja keras menulis berita sebelum mereka liburan demi memuaskan pembaca setia. Tapi bahagia tetaplah milik wartawan.

Tawa tak lepas dari mereka. Apalagi kala pemandu wisata mereka selama di Bali, I Wayan Sumerta melontarkan candaan. Tawa riang langsung memenuhi bus pariwisata. Hakim Said dari anak perusahaan JatimTIMES.com tak henti tertawa. Begitu halnya dengan 36 rekannya yang lain. Pria asal Banyuwangi ini tampak menikmati masa-masa istirahat dari profesi wartawan. Meski sementara. 

Rasa-rasanya tak elok melontarkan tanya pada wartawan apakah mereka bahagia atau tidak. Senyuman dengan wajah berbinar-binar saat mereka menikmati keindahan Pulau Bali sudah cukup menjawab semua. Setidaknya bekerja di media online berjejaring nomor satu di Indonesia, wartawan JatimTIMES selama empat hari bisa bercanda penuh kebersamaan tanpa harus menulis berita. (*)

Topik
profesi wartawanmedia online malangJatimtimes NetworkmalangtimesBerita Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru