MALANGTIMES - Bencana alam di wilayah Kabupaten Malang terus terjadi sepanjang tahun 2017. Dipicu faktor cuaca ekstrim yang melanda seluruh belahan dunia serta topografi Kabupaten Malang, peristiwa demi peristiwa bencana alam tidak bisa dielakkan lagi.

Bahkan, di tahun 2017 ini secara kuantitas bencana alam yang melanda wilayah Kabupaten Malang melebihi tahun 2016 lalu.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat, peristiwa bencana alam di tahun ini terjadi lebih dari 71 kali.

Di tahun lalu, bencana alam dibukukan oleh BPBD sebanyak 64 kejadian. Artinya, ada peningkatan 7 kejadian bencana di tahun ini. Ini pun masih belum semua angka kejadian tertulis di BPBD.

"Desember belum habis. Jadi belum semua terekam. Tapi semoga tidak ada lagi bencana," kata Kepala BPBD Kabupaten Malang, Bambang Istiawan, Jumat (22/12).

Peningkatan kuantitas bencana alam ini tentunya menjadikan tahun 2017 sebagai tahun bencana alam di Kabupaten Malang. Walaupun tidak terjadi korban jiwa, tapi kerugian material cukup besar dalam melakukan rehabilitasi fasilitas umum dan pemukiman warga yang diterjang berbagai bencana alam tersebut.

Jenis bencana alam yang kerap terjadi di wilayah Bumi Arema ini, menurut data BPBD didominasi longsor. Jumlahnya mencapai 32 kejadian. 

Secara statistik, bencana longsor meningkat sejak bulan Mei hingga Desember 2017. Dari 18 kejadian di awal tahun sampai April, melonjak tinggi dengan adanya 14 kasus longsor sampai Desember 2017. Sebelumnya, posisi bencana alam di awal tahun sampai Mei didominasi angin kencang dan puting beliung yang mencapai 24 kejadian. 

Banyaknya bencana longsor menurut Bambang dikarenakan topografi Kabupaten Malang yang berupa perbukitan dan pegunungan.

"Kita tahu wilayah Kabupaten dikelilingi pegunungan dan perbukitan yang kondisinya juga cukup memprihatinkan. Sehingga setiap kali hujan, tanah perbukitan tergerus," ujar mantan Kasatpol PP  Kabupaten Malang.

Berdasarkan catatan MalangTIMES, bencana alam tanah longsor memang kerap terjadi dan menghiasi media. Misalnya di kawasan Donomulyo yang beberapa hari lalu diterjang longsor. Tepatnya di Desa Tlogosari, Kecamatan Donomulyo. 

Akibatnya, akses dua kecamatan antara Donomulyo dan Pagak terputus. Sebelumnya, tebing dengan ketinggian sekitar 11 meter di Desa Kedungsalam, Kecamatan Donomulyo longsor dan menimpa musala setempat. 

Ada enam wilayah rawan longsor yang patut diwaspadai. Yaitu Donomulyo, Bantur, Poncokusumo, Tirtoyudo, Ampelgading dan Sumbermanjing Wetan. 

Di urutan kedua bencana yang kerap terjadi adalah angin kencang dan puting beliung dengan jumlah mencapai 28 kejadian.  

Sedangkan pada urutan ketiga adalah banjir dengan sembilan kejadian dan dua peristiwa untuk bencana tanah gerak. 

Angin kencang dan puting beliung menjadi bencana yang tidak bisa diprediksi kedatangannya. Dibandingkan dengan bencana longsor, misalnya. Ketidakdugaan bencana angin dan puting beliung ini yang kerap diperingatkan BPBD. 

"Tiba-tiba datang dan porak poranda lah wilayah yang didatanginya. Karenanya kita sering mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan. Terutama yang tinggal dekat pohon besar dan bangunan tinggi," terang Bambang.

Banjir juga ikut mewarnai bencana alam di tahun ini. Wilayah yang kerap diterjang banjir diantaranya Sumbermanjing Wetan, Tirtoyudo dan Ampelgading. 

Tercatat, Oktober lalu Desa Sitiarjo diterjang banjir yang mengakibatkan lebih dari 500 bangunan terendam air. 

Rentetan bencana alam yang melanda Kabupaten Malang ini tentunya patut menjadi refleksi bersama dalam menjaga lingkungan hidup. Penebangan kayu illegal, penggantian tanaman keras dengan sayuran di perbukitan serta perilaku menjaga lingkungan adalah kunci untuk meminimalisir bencana alam.