Mencintai Hujan Bulan Desember

Dec 17, 2017 09:49
Ilustrasi puisi pendek hujan desember (pinterst.com)
Ilustrasi puisi pendek hujan desember (pinterst.com)

Mencintai Hujan Bulan Desember

dd nana

(1)

“Tidak ada yang abadi, kekasih. Hujan bulan Desember hanyalah rengekan. Serupa kau saat meminta persetubuhan,”.

Baca Juga : KITAB INGATAN 101

Kita yang menulis. Hujan telah memangku tanah dan memindahkannya sesuka hati. Sebelum pecah tangisan. Sebelum kita menghabiskan satu puisi yang basah oleh air mata. Di café yang tidak ingin kita kenali namanya itu. Karena, katamu, peristiwa hanyalah lintasan yang tidak bisa ditolak. “tapi jangan kau ingat-ingat. Usiamu mulai senja, perbanyak saja doa,”.

Di luar orang-orang kembali mengungsi. Mencari tempat tertinggi dari sergap jemari hujan desember. Aku membayangkan simurgh yang terbang mencari surga.

Desember memang basah. Walau bibirmu yang masih terbasah. Walau belum terkulum dan tercium. Yang membawa ingatan tak tertampung, meruah. Menuju berbagai ruang yang bukan milikku. Menetap sementara dengan lumpur hasrat. Yang aksara menuliskannya dengan nama dosa. Karena ini berwarna hitam atau kecoklat-coklatan. Lengket dan merubah warna semula.

Serupa bandang. Yang beranak bah dan menggenangi segala yang terbuka. Karena rahim tak lagi bisa menampung. Karena cinta ternyata hanyalah sebutan di makalah, berita dan omongan pengusir dingin di café yang tak ingin kita kenali namanya itu.

“Kenapa kau salahkan hujan desember yang melecuti busanamu itu, kekasih. Bukankah kita menyukai peran adam dan hawa yang paling awal. Saat semua berjalan dengan kakinya masing-masing. Tanpa syahwat. Tanpa rengekan yang menyembunyikan hasrat,”.

Cintai saja hujan desember.

Serupa yang kita tulis. Tentang sepasang kupu-kupu yang ingin abadi di taman. Bercinta, bercerita tentang warna cahaya matahari dan rintik hujan desember yang lembut menyentuh penuh setiap lubang yang terbuka. Cintai saja. “Mudah, bukan? Ini tak serumit bait puisi”.

Tapi, di luar orang-orang terus mencari tempat tertinggi. Berjalan kaki. Atau mencoba meniru Nuh yang mencipta perahu. Hujan desember masih saja merengek-rengek. “Bagaimana cara mencintainya, kekasih,”.

Dengan tabah. 

Dan, aku pasrah. 

Karena, seperti kau ucapkan, tiada yang abadi di hujan desember ini.

“Pun Cinta !”.

(2)

Kantuk, kau dekap rapat.

Di luar hujan desember masih bersetia dengan lakonnya. Membasahi segala yang terbuka dan menyusuri setiap celah tertutup.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Sepi meninggi. Tidak ada yang diburu-buru. Sebelum secangkir kopi memintamu untuk kembali.

Menjadi manusia yang gegas. 

Sebelum dering dan pesan membanjiri gawaimu.

Hujan desember kau rengkuh. Dan cinta kau lipat erat di lemari kamar.

 (3)

Kita berdua saja, di sini, di kepung hujan desember

Tidak ada suara atau tatap mata yang beradu.

Aku memesan rindu yang melaut. Kau, asyik dalam sepimu. Yang merengut segala desah dan basah tubuh.

Kita berdua saja, di sini, di kepung rasa asing yang akrab

Sepi yang sebentar lagi dilarung hujan desember. Entah kemana, entah bermuara di mana.

Topik
puisi pendekserial puisipuisi malangtimes

Berita Lainnya

Berita

Terbaru