Cerita Mata Kancing di Baju Pengantin

Dec 10, 2017 08:59
Ilustrasi Puisi Pendek
Ilustrasi Puisi Pendek

Cerita Mata Kancing di Baju Pengantin 

-dd nana

(1)

Aku mata kancing dan kamu lingkaran terbuka di sebuah baju.

Menunggu untuk menyatu dan saling pagut. Saling mengunci dan menutupi.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Karena, kata moyang kita, yang baik itu yang bisa saling meremas dan memasuki tanpa ada aduh dari salah satu pihak. "Mengisi tepat sesuai wadahnya. Erat menutupi segala lendir purba yang diturunkan dari masa paling purba kita, manusia,".

Aku mata kancing dan kamu lingkaran terbuka di sebuah baju.

Baju yang dirangkai sejak mereka masih rajin melantunkan doa. 

Tanpa meminta surga dan meneriaki neraka sebagai tempat paling durjana.

Baju pengantin untuk sepasang mempelai yang kelak akan sibuk belajar tentang bahasa baru bernama penyatuan.

Maka, aku dicipta jadi mata kancing di baju pengantin bagi mempelai itu. Agar mereka bisa membaca bahwa jadi satu tidak bisa sendiri. Bahwa untuk tegak, diperlukan pijak. 

Sebelum sampai pada pemahaman lingkaran.

Kau, yang diutus jadi lingkaran terbukanya. Menjadi garis tipis di baju pengantin dan siap untuk dimasuki-ku. Malu-malu yang membuatku bernafsu untuk mencengkram lubang-mu.

"Tunggulah..sampaikan dulu pengajaran tentang lubangku di baju pengantin itu.." ucapmu dengan mengatupkan lipatan tipis yang hanya aku yang bisa membacanya utuh.

Mata kancing-ku meremang. Tapi ini titah dengan imbalan yang akan melengkapi wujudku yang dulu sebagai mata kucing.

Di lingkaran terbuka itu, hei tuan dan puan, kau akan mengetahui bahwa rasa hanyalah bentuk permainan. Kerlip mata api yang pasti padam. Yang nyata dalam lingkaran itu doa.

Doa. Doa. Doa.

Baca Juga : KITAB INGATAN 96

Selimut setiap mempelai yang akan bersiap mengenakan baju pengantin ini.

Jangan lupa satukan mata kancing kepada lubangnya, wahai mempelai.

Ijinkan aku turut berbahagia dalam proses penyatuan kalian. Dengan melihat rona lubangnya saat mataku memasukinya.

(2)

Parak pagi

Buku terlentang, terbuka memperlihatkan auratnya.

Dimana mata yang selalu memasukinya. Menelusuri setiap inci tubuh buku setelah menghidunya.

Parak pagi

Buku yang terlentang, terbuka itu pasrah. Membakar dirinya sendiri.

Dengan syahwat sinar matahari.

Topik
puisi karya dd nana

Berita Lainnya

Berita

Terbaru