Lukisan untuk Lingkungan, Saat Kresek Plastik Meleleh di Atas Kanvas

Dec 09, 2017 20:55
Seniman kelahiran Malang, Masari Arifin saat ditemui di pameran tunggalnya yang berjudul Unconventional di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Seniman kelahiran Malang, Masari Arifin saat ditemui di pameran tunggalnya yang berjudul Unconventional di gedung Dewan Kesenian Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Eksplorasi material untuk membuat lukisan kerap dilakukan seniman. Termasuk Masari Arifin, perupa kelahiran Malang. Plastik kresek yang selama ini jadi onggokan sampah setelah dipakai, disulapnya menjadi lukisan abstrak yang memukau. 

Karya-karya bergenre abstrak yang disajikan menantang para pengunjung untuk memainkan imajinasi dan cita rasa pribadi. Sebab Masari lebih banyak memainkan warna-warna yang seolah 'tumpah' di atas kanvas. Tidak banyak ditemukan bentuk benda, manusia, atau pola-pola simetris. Plastik kresek yang terbakar seolah bergerak membuat coraknya sendiri. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 80

Misalnya lukisan Image 03 yang terdiri dari tiga lukisan dijadikan satu kesatuan. Hanya ada warna hitam dan putih dalam ketiga lukisan itu. Sementara lukisan Positive Vibration, menampilkan lelehan plastik merah muda yang menyebar ke empat arah dan saling bersinggungan dengan warna-warna lain seperti hitam, putih, dan kuning. 

Yang sedikit berpola, misalnya lukisan Trace yang terbentuk dari kolase tutup botol dan kresek yang dilelehkan. Ratusan tutup botol disusun sesuai gradasi warna dari merah yang hangat ke biru dan putih yang dingin. Polanya menyerupai sebuah galaksi berbentuk spiral. Sedangkan lukisan Hazard, menggunakan warna dominan biru dan seolah-olah menunjukkan tengkorak manusia yang tengah dikenai sinar rontgen.

Selama sepekan, 20 karya lukisannya dipajang di galeri Dewan Kesenian Malang (DKM) di Jalan Mojopahitr. Seniman lukis asal Bareng ini menjelaskan, semua lukisan yang ditampilkan dalam lukisan tunggal itu dibuat dari plastik bekas pakai.

"Proses penyelesaian seluruh lukisannya sekitar tiga bulan, karena saya harus mengumpulkan kresek-kresek dari limbah rumah tangga, di jalan, dan juga bank sampah," ujarnya. 

Masari menyebutkan bahwa lukisan beraliran citra abstrak ini dibuat sedemikian rupa menyerupai lukisan asli yang biasanya terbuat dari cat minyak atau akrilik. Saat dilihat pun warga pasti mengira lukisan abstrak tersebut seperti layaknya lukisan biasa. Akan tetapi ketika dilihat lebih jeli, warna-warni yang ditumpahkan dalam kanvas sepenuhnya terbuat dari plastik.

Dia terinspirasi saat suatu hari mendapat bingkisan selamatan dari tetangga di lingkungan rumahnya. Saat itu, plastik wadah makanan tidak sengaja terbakar oleh lilin yang menyala. "Saya amati lelehan plastik itu, lalu muncul ide memindahkan lelehan itu ke atas kanvas," sebutnya. 

Penemuan itu tak langsung berhasil dilakukan. Masari mengaku membutuhkan waktu sekitar satu tahun hanya untuk riset mengenai jenis-jenis plastik kresek. Termasuk juga uji coba dengan berbagai peralatan untuk melelehkan plastik. "Setelah ketemu teknik dan jenis-jenis plastik yang bisa digunakan, saya baru memulai proyek tunggal ini," terang pria paro baya itu. 

Baca Juga : KITAB INGATAN 77

Dari hasil risetnya tersebut ditemukan tidak semua bahan plastik dapat dilebur dan dibentuk untuk memiliki nilai seni. Masari mengatakan bahwa hanya plastik berbahan termoplastis saja yang bisa digunakan. Seniman yang baru-baru ini menampilkan karyanya di Pulau Dewata itu melanjutkan bahwa teknik yang ia pakai adalah menggunakan teknik 'burning' atau pembakaran.

"Butuh ketelitian dan keselarasan warna leburan saat menggunakan teknik burning. Dibentuk dengan hati yang tulus bagi seni, maka jadilah karya-karya ini. Rohnya adalah menghasilkan karya yang tidak biasa alias ‘unconventional," tuturnya.

Pilihan menggunakan limbah plastik kresek juga disadari dengan penuh oleh Masari. Baginya, karya yang tercipta diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menyelamatkan lingkungan, meski dari langkah yang kecil.

Dia juga ingin ke depan ada workshop-workshop ke sekolah untuk memanfatkan limbah sebagai seni terapan. Sehingga limbah bisa jadi media kreativitas. "Visi saya ini ingin mengurangi limbah-limbah plastik dan mengangkat nilainya dari sebelumnya sederhana," pungkasnya. 

Topik
Lukisan untuk Lingkunganseniman MalangEksplorasi materialMasari ArifinDewan Kesenian Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru