Kejadian pohon tumbang di Jalan Ahmad Yani Kota Malang akibat akar lapuk dan terjangan angin kencang, kemarin (2/12/2017). (Foto: BPBD Kota Malang for MalangTIMES)
Kejadian pohon tumbang di Jalan Ahmad Yani Kota Malang akibat akar lapuk dan terjangan angin kencang, kemarin (2/12/2017). (Foto: BPBD Kota Malang for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Memasuki minggu keempat November lalu, jumlah bencana yang terjadi di Kota Malang mencapai 151 kejadian. Meski nihil korban jiwa, kerugian material yang timbul akibat bencana mencapai Rp 3,7 miliar.

Baca Juga : Musim Melaut, Para Nelayan yang Berlabuh di Kabupaten Malang Bakal Disemprot Antiseptik

Angka tersebut merupakan akumulasi nilai kerugian yang disusun Tim Kaji Cepat (TKC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang sepanjang Januari-November 2017. "Jumlah kerugian tersebut merupakan akumulasi dari seluruh bencana yang terjadi di Kota Malang. Mulai dari longsor, banjir, kebakaran, hingga puting beliung," ujar Kepala BPBD Kota Malang J. Hartono. 

Jika dirinci, nilai kerugian terbanyak ada di bulan Oktober yang mencapai Rp 1,1 miliar. Sedangkan kejadian Maret di angka Rp 1 miliar. "Tentu nilai itu bergantung jumlah kejadian dan juga intensitas bencana yang terjadi. Sepanjang Oktober kemarin memang longsor terjadi susul-menyusul," ujarnya. 

Kalau dirinci, pada Januari total kerugian yang dialami di angka Rp 54 juta. Sementara Februari Rp 56 juta, April Rp 300 juta, dan Mei Rp 96 juta. Angka kerugian yang berbanding lurus dengan angka kejadian bencana menurun pada tiga bulan setelahnya. Yakni pada Juni di angka Rp 10 juta, Juli Rp 27 juta, dan Agustus 10 juta. "Di tiga bulan itu kejadian bencana rata-rata kebakaran," terang Hartono.

Angka kerugian bencana kembali naik pada awal musim penghujan. September, akumulasi kerugian bencana senilai Rp 195 juta. Lalu melonjak hingga Rp 1,1 miliar pada Oktober. Dan, hingga memasuki minggu keempat November, nilai kerugian mencapai Rp 779 juta. "Angka ini tentu akan terus bertambah karena Kota Malang masih masuk siaga bencana," ucapnya.

BPBD Kota Malang menrinci, berdasarkan rekap kejadian bencana mulai Januari hingga Oktober tahun ini mencapai 120 kejadian. Sementara selama November, angka kejadian bencana mencapai 31 kali di minggu keempat. "Total kejadian bencana sementara tahun ini berjumlah 151 kejadian. Minggu-minggu ini, ada sekitar 12 kejadian. Dan itu terjadi berturut-turut," ungkap Hartono.

Hartono menyebut, angka kejadian itu jauh lebih banyak dibandingkan tahun 2016. Menurut catatan BPBD Kota Malang, tahun lalu total ada 97 bencana. Rinciannya, tanah longsor sebanyak 55 kali dan kebakaran sebanyak 21 kali.

Baca Juga : Draft Sudah Final, Besok Pemkot Malang Ajukan PSBB

Hartono menerangkan, tahun ini Kota Malang memang terbilang lebih rawan bencana. Bahkan dalam sepekan terakhir cukup banyak bencana alam yang terjadi. "Rata-rata tanah longsor," bebernya.

Hal itu terjadi seiring intensitas curah hujan yang cukup tinggi beberapa hari belakangan. Oleh karena itu, antisipasi harus terus dilakukan. Apalagi diprediksi puncaknya terjadi pada Desember mendatang. "Potensi bencana selalu ada, tapi belum bisa prediksi apakah besar atau tidak. Selain itu juga ada ancaman abadi, yakni gempa," tuturnya.

Dia pun mengimbau kepada masyarakat untuk terus meningkatkan kewaspadaan. BPBD Kota Malang juga telah membentuk tim kelurahan tangguh. Posko bencana pun telah disiapkan. Saat ini, ada personel tim kaji cepat yang diperkuat sekitar 30 orang serta dibantu oleh pihak swasta.

Terlebih, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi puncak musim hujan di Indonesia akan berlangsung pada Januari 2018. "Adanya beberapa badai tropis, mungkin juga berpengaruh meski tidak langsung," pungkasnya. (*)