Rumah warga di Kepanjen roboh akibat hujan dan angin kencang. (Nana)

Rumah warga di Kepanjen roboh akibat hujan dan angin kencang. (Nana)


Pewarta

Nana

Editor

Yunan Helmy


MALANGTIMES - Tahun 2017 bencana alam berupa banjir dan longsor kembali menghiasi media massa. Terakhir Kabupaten Pacitan menjelma menjadi daerah mati. Akses transportasi tertutup dan korban jiwa berjatuhan.

Cuaca ekstrem sepanjang tahun ini juga melanda Kabupaten Malang yang termasuk 10 daerah rawan bencana secara nasional. Tercatat, tahun 2017, bencana alam yang melanda wilayah Kabupaten Malang, baik kecil maupun besar, telah mencapai 74 peristiwa. Beberapa bulan terakhir, kita juga melihat banjir dan longsor melanda Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan (Sumawe). Banjir itu melumpuhkan aktivitas warga setempat dan membuat akses transportasi lumpuh.

Tapi, ternyata cukup kerapnya bencana alam yang melanda Kabupaten Malang tidak berbanding lurus dengan anggaran yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Malang. Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang Bambang Istiawan, anggaran untuk bencana alam yang disiapkan tahun 2017 sampai saat ini baru terserap sekitar 40 persen. "Tidak terserap semua. Dari total anggaran Rp 2,7 miliar, tersisa sekitar 900 juta rupiah," ujar dia, Jumat (01/12).

Artinya, dengan puluhan jumlah bencana alam yang melanda, ternyata tidak sampai menguras anggaran yang ada dalam upaya penanganan paska-bencana.

Bambang menyampaikan, anggaran bencana tersebut merupakan dana taktis yang hanya bisa diambil saat terjadi bencana alam. Jadi, tidak bisa peruntukkannya dialihkan atau dipakai kegiatan lainnya. "Karena itu apabila terdapat sisa dana,  ya kembali ke kas daerah," ucapnya.

Angin puting beliung dan banjir serta longsor merupakan jenis bencana alam yang kerap terjadi di berbagai wilayah Kabupaten Malang. Tapi, secara intensitas kerugian yang diakibatkannya, memang tergolong kecil dan tidak menimbulkan kerusakan parah. 

Misalnya, awal tahun ini, dari 11 kasus bencana alam, yang dihitung menyebabkan kerugian sekitar Rp 171.250.000. Sedangkan sisanya relatif cukup kecil. Kondisi inilah yang membuat anggaran bencana alam sebesar Rp 2,7 miliar sampai akhir tahun 2017 ini tidak terserap secara penuh.

Selain itu, masyarakat yang berdomisili di daerah rawan bencana alam juga telah terlatih dalam menghadapi setiap kemungkinan terjadinya bencana. "Desa tangguh bencana terus tumbuh dan relawan dari berbagai komunitas selalu siap untuk saling membantu dalam menghadapi bencana. Ini menjadi modal besar kita," ujar Bambang yang juga terus mengintensifkan berbagai pos pantau bencana yang ada.

Berbagai kelebihan yang dimiliki oleh seluruh elemen di Kabupaten Malang dalam menghadapi bencana alam tersebut ternyata secara tidak langsung juga berpengaruh terhadap anggaran bencana alam yang masih tersisa cukup banyak ini.

"Harapan kita tentunya bencana tidak terus terjadi. Walaupun kita tidak bisa melawan datangnya bencana alam,  minimal bisa mengurangi korban dan kerugiannya," pungkas Bambang. (*)

End of content

No more pages to load