Suasana di Puskesmas Kendalkerep di Jalan Raya Sulfat beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Suasana di Puskesmas Kendalkerep di Jalan Raya Sulfat beberapa waktu lalu. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



MALANGTIMES - Pemerintah pusat menargetkan seluruh pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) harus terakreditasi pada 2019 mendatang. Namun, di Kota Malang sendiri tercatat baru ada tujuh Puskemas yang terakreditasi dari 16 fasilitas kesehatan tingkat pertama plat merah itu.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dr Asih Tri Rachmi Nuswantari membenarkan hal tersebut. Tujuh Puskesmas yang sudah mengantongi sertifikat dari Komisi Akreditasi Kementerian Kesehatan (Kemenkes) yakni Puskesmas Janti Utama, Puskesmas Pandanwangi, Puskesmas Dinoyo, Puskesmas Kendalsari, Puskesmas Rampal Celaket, Puskesmas Mojolangu dan Puskesmas Mulyorejo. 

Asih menerangkan, jumlah itu akan bertambah dalam waktu dekat. Sebab tim surveyor akreditasi sudah melakukan penilaian pada 12 puskesmas. "Yang sudah disurvei dan dinilai total 12 Puskesmas, tetapi  yang keluar sertifikatnya baru tujuh. Karena survei yang dilakukan bertahap dan mencakup banyak aspek pelayanan," ujar alumnus Universitas Brawijaya itu. 

Terbaru, lanjut Asih, pekan ini tim surveyor melakukan kunjungan ke Puskesmas Gribig. Sementara beberapa puskesmas masih belum didatangi. Di antaranya Puskesmas Kendalkerep, Puskesmas Arjowinangun dan Puskesmas Polowijen.

"Ketiga Puskesmas itu sama sekali belum  dilakukan penilaian. Tapi sudah terjadwal, Insya Allah dalam waktu dekat ini segera dilakukan survei," ujar ibu tiga anak itu.

Terdekat, faskes plat merah yang akan disurvei adalah Puskesmas Kendalkerep. MalangTIMES sempat menjajal pelayanan di puskesmas yang berlokasi di Jalan Raya Sulfat itu. Saat datang pukul 07.00, sudah ada petugas jaga yang menunggu calon pasien di meja pendaftaran. Karena belum memiliki berkas pengobatan dan kartu tanda berobat, petugas meminta mengisi formulir yang berisi data diri sesuai KTP yang menunjukkan sebagai warga Kota Malang. 

Pendaftaran tersebut gratis alias tidak dipungut biaya. Setelah itu, pasien ditanya mengenai keluhan lalu diarahkan ke dokter terkait. Saat itu, MalangTIMES mengaku tengah demam tinggi lebih dari dua hari. Petugas mengarahkan ke dokter umum, namun dokter yang dimaksud baru datang sekkitar pukul 08.00.

Setelah pemeriksaan awal, dokter menduga antara penyakit typhus atau demam berdarah. Lalu dokter tersebut melakukan tes cepat (rapid test) untuk menentukan. Dengan menggunakan tensimeter manual, dokter mengecek adanya perdarahan di bawah kulit. Karena menemukan titik-titik perdarahan, MalangTIMES diminta melakukan tes darah di puskesmas itu. 

Tes darah sendiri dikenai tarif Rp 35 ribu. Setelah hasil keluar, dokter menyebut kondisi pasien masih cukup baik dan bisa dilakukan rawat jalan dengan obat dan istirahat di rumah. Meskipun, sempat ditawarkan untuk mengakses fasilitas rawat inap yang tersedia.

Dari sejumlah obat yang diresepkan, MalangTIMES juga tidak dipungut biaya karena menunjukkan KTP Kota Malang. 

Puskesmas Kendalkerep sendiri merupakan salah satu dari enam puskesmas rawat inap di Kota Malang. Puskesmas rawat inap lain di antaranya Puskesmas Kendalsari, Dinoyo, Pandanwangi, dan Kedungkandang. 

Asih mengungkapkan, pihaknya menargetkan seluruh puskesmas dapat terakreditasi pada 2018 mendatang. Dia menjelaskan, kendala yang dialami dalam percepatan akreditasi ini dikarenakan keterbatasan surveyor.

Surveyor masih kesulitan melakukan penjadwalan penilaian karena terbatas personel sehingga sedikit lambat. "Akreditasi pun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Karena melalui jenjang tertentu. Mulai dari tingkat dasar, madya, utama dan paripurna. Semuanya pun diproses sesuai jadwal," pungkasnya. 

End of content

No more pages to load