90 Persen Bencana Alam Kabupaten Malang Terkategori Hidrometeorologi

Nov 01, 2017 12:21
Sungai Pujiharjo yang pernah menjadi lokasi sekolah sungai pertama. Di tahun 2017 ini kembali sekolah sungai akan dilehat dengan mengambil lokasi di Sungai Panguluran, Sitiarjo, Sumawe. (Dok. MalangTIMES)
Sungai Pujiharjo yang pernah menjadi lokasi sekolah sungai pertama. Di tahun 2017 ini kembali sekolah sungai akan dilehat dengan mengambil lokasi di Sungai Panguluran, Sitiarjo, Sumawe. (Dok. MalangTIMES)

MALANGTIMES - Berdasarkan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sepanjang tahun 2002 hingga 2016, bencana alam terus terjadi dengan grafik yang terus naik tiap tahunnya.
Bencana alam dalam kurun waktu tersebut terjadi secara merata di berbagai daerah. Tak terkecuali Kabupaten Malang yang secara topografi termasuk kategori wilayah rawan bencana alam.

Menurut Bambang Istiawan, kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang, bencana alam yang kerap melanda wilayah Kabupaten Malang 90 persen merupakan bencana hidrometeorologi. "Kita kategorikan seperti itu. Jadi. bencana alam yang sering terjadi di sini diakibatkan oleh air semisal banjir, longsor, gelombang pasang dan kekeringan," kata Bambang kepada MalangTIMES, Rabu (01/11).

Baca Juga : Quraish Shihab Tegaskan Wabah Covid-19 Bukan Azab Allah

Bencana hidrometeorologi kerap terjadi karena, selain wilayah Kabupaten Malang dikelilingi 18 sungai besar, seperti Sungai Brantas yang merupakan sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Timur, juga dipengaruhi semakin gundulnya perbukitan dan gunung-gunung yang mengitari juga wilayah Kabupaten Malang. "Topografi yang seperti itu dan dipicu dengan kondisi iklim ekstrem yang melanda dunia. Hal ini membuat bencana kerap terjadi, terutama banjir dan longsor," ujar mantan kepala Satpol PP Kabupaten Malang ini.

Kondisi tersebut yang membuat Pemerintah Kabupaten Malang kerap melakukan berbagai terobosan program kerja dalam meminimalisasi dampak bencana alam hidrometeorologi. Sekolah sungai adalah salah satu program kerja yang kini kembali akan digelar. 

Sekolah aungai sebagai program penanggulangan kerusakan sungai yang mengakibatkan bencana kerap hadir di berbagai wilayah dirasa cukup memberikan efek positif. Khususnya dalam upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga, melestarikan keberadaan sungai-sungai yang kini mengalami berbagai kerusakan akibat eksploitasi oknum.

"Kami rencanakan kembali sekolah sungai di pertengahan bulan ini. Lokasi  workshop di Sungai Panguluran Desa Sitiarjo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan," terang Bambang yang menyebut dalam sekolah aungai yang merupakan program nasional ini, nantinya juga akan dilakukan rekrutmen sukarelawan peduli bencana. "Semakin banyak warga peduli bencana, maka semakin tangguh kita menghadapinya," imbuhnya.  

Program sekolah sungai dalam menghadapi bencana hidrometeorologi menjadi tepat. Selain langsung menyasar sumber bencana, yaitu sungai yang mengalami kerusakan, juga untuk menumbuhkan kesadaran warga atas pentingnya menjaga lingkungan hidup yang ada. 

Baca Juga : Lari seperti Kesurupan, Pendaki Hilang di Gunung Buthak Panderman Batu

Karena itu, menurut Bambang, pemilihan lokasi sekolah sungai juga sangat penting dalam upaya meminimalisasi bencana hidrometeorologi. Sungai Panguluran yang dipilih sebagai lahan sekolah sungai tidak lepas dari kondisinya yang kerap menjadi pemicu banjir. 

"Dalam sekolah sungai tahap dua ini, berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan antara lain bersih-bersih sungai dan penanaman sekitar 10 ribu bibit pohon. Selain tentunya bagaimana menjaga sungai menjadi sahabat, bukan musuh masyarakat," pungkas Bambang. (*)

Topik
Bencana Alam Kabupaten Malang Hidrometeorologi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru