Tiga Rupa dalam Secangkir Kopi_Ampas Bercerita; Catatan Pejalan Seorang Sawir

Oct 29, 2017 14:29
 Cover buku puisi esai karya Sawir Wirasto yang dikemas dalam bentuk puisi, lukisan dan fotografi. (Nana)
Cover buku puisi esai karya Sawir Wirasto yang dikemas dalam bentuk puisi, lukisan dan fotografi. (Nana)

MALANGTIMES – Kritik terhadap berbagai peristiwa hidup tidak hanya melulu dilakukan dengan teriakan di ruang-ruang terbuka. Mengepalkan tangan dan meriuhkannya dengan berbagai slogan, tuntutan. Apalagi sampai menuju titik anarkis dalam mencapai tujuan dari kritik itu sendiri.

Kritik bisa juga bersuara lantang melalui berbagai sikap kontemplatif manusia. Di tengah kesenyapan dirinya mendadah berbagai peristiwa yang mengoyak pikiran dan nurani. Puisi seringkali menjadi medium kritik sunyi yang tak pernah mati. Sejarah peradaban manusia telah mencatat dan menyimpannya dengan baik dalam berbagai ingatan.

Baca Juga : KITAB INGATAN 100

Pun, yang terjadi dengan seorang coffee-painting asal Dusun Santren, Desa Mangunrejo, Kecamatan Kepanjen, bernama Sawir Wirastho (38). Pecinta kopi yang seniman dengan berbagai aktivitas sosialnya.

Lewat Buku Puisi Esai Secangkir Kopi_Ampas Bercerita, Sawir menelaah ulang berbagai kegelisahannya sebagai seorang pribadi, manusia yang warga sekaligus hamba Tuhannya. Melalui tiga rupa pengabdiannya dalam kehidupan, yaitu puisi, lukisan dan fotografi, Sawir mencatat perjalanan spiritualnya sebagai manusia dalam menghadapi, melebur dan memberikan “subjektifitas kritiknya” terhadap berbagai peristiwa yang dialaminya dalam rentang tahun 2013-2017.

“Ini kisah perjalanan spiritual, kritik sosial, kritik politik, dan penggambaran abainya beberapa dinas pemerintah atas tugas dan tanggung jawabnya dari kaca mata seorang Sawir,” kata Sawir Wirastho kepada MalangTIMES, Minggu (29/10).

Sawir merangkum kegelisahanya dengan kemasan artistic puisi, lukisan dan fotografi yang dikumpulkannya dengan telaten. Dengan kesabaran seorang pelaku yang juga penyaksi dalam riuhnya intrik, konflik dan berbagai kepenatan yang diseret manusia. “…Ah sudahlah, mari kita tengok tengkuk sendiri// Jangan terburu berucap mustahil,// Gunakan cermin depan belakang seperti tukang pangkas rambut,// Bukan tukang pangkas APBN atau APBD…”

Lukisan kopi Sawir dalam buku Catatan Pejalan yang menggabungkan puisi, lukisan dan fotografi.

Berbagai lirik puisi dan ilustrasi lukisan khas Sawir dalam catatan perjalanannya yang ciamik, tidak terjebak sekedar caci maki belaka. “…Tak perlu rebut// karena nasi dan lauk pauk bukan berasal dari caci maki// dan tebasan pedang pada leher saudara sendiri// Namun nasi dan lauk pauk 

adalah buah-buah penanaman para petani dan pekerjaan para penggembala// bukan dari para srigala atau singa//.

Dalam buku yang akan terbit sekitar November-Desember 2017 ini, Sawir yang tergolong manusia lintas disipliner dalam berinteraksi sosialnya, tidak membatasi satu gaya penulisan dalam mengejawantahkan karyanya. Keacakan dalam penggunaan gaya bahasa dalam tulisan atau gaya tuturannya bisa ditemukan berserakan dalam berbagai puisinya. “Faktor kebiasaan saya menghadapi banyak orang dengan karakter beranekaragam. Dari kelas professional, guru, mahasiswa, pejabat sampai gelandangan dan PSK. Ini ternyata yang membuat gaya saya seperti itu,” ujar Sawir.

Baca Juga : KITAB INGATAN 99

Tema-tema yang diangkat Sawir sangatlah membumi. Misal dalam tulisan di tahun 2013 banyak bermunculan tema tentang dunia prostitusi atau pun kenakalan remaja. Menurutnya, kurun waktu itu dia sedang akrab dengan dunia tersebut. “Ada kesengajaan semacam penelitian dan upaya penanganan jika dimungkinkan terkait dengan kenakalan remaja. Terutama perempuan yang seringkali dirugikan ketika ada peristiwa seks bebas,” terang Sawir yang jauh waktu sebelumnya adalah seorang guru. 

“…lelaki dewasa itu aku// semalam tubuhmu perahu// ranjang ini adalah jeram// kau jual nikmat kubeli dua ratus ribu…// atau …//“temanku mucikari sedang guruku adalah pelacur” // berjuta teori moralitas dan etika terpahami omong kosong disini…// Dalam 02 Guru Makrifatku Mungkin Pelacur dalam Catatan Pejalan, Sawir mencoba untuk menguak lapisan tabir prostitusi.

Tema sawir semakin mendaki di periode 2013-2017. Berbagai persoalan sosial dan politik mulai meramaikan berbagai ragam karyanya. Dalam puisi kurun waktu tersebut, beberapa judul dengan keras menggugat kondisi Republik tercinta Indonesia. Misal dalam Ini Negara Berita Ataukah Indonesia, Negeri Agraris Meringis Di Ujung Kehendak Pabrikasi, Lupakan Siapa, Mari Bicara Indonesia, "Menolak Lupa" tentang konstruksi atau dekonstruksi serta yang lainnya.

Walau keras, gugatan yang disemaikan dalam Rahim puisi tetaplah tertangkap indah. Maka, adagium “puisi itu membasuh yang kotor” menjadi tepat dalam membaca puluhan kritik Sawir dalam Catatan Pejalannya ini. (*)

Topik
Catatan Pejalanpuisi esaiSawir WirasthoSecangkir Kopi Ampas Bercerita

Berita Lainnya

Berita

Terbaru