Energi besar bernama gotong royong adalah kekuatan masyarakat Kabupaten Malang dalam menghadapi bencana. Warga dan pemerintahan daerah bahu membahu menghadapinya. (Dalam gambar) Camat Donomulyo Marendra Hengky Irawan saat turun langsung ke lokasi.

Energi besar bernama gotong royong adalah kekuatan masyarakat Kabupaten Malang dalam menghadapi bencana. Warga dan pemerintahan daerah bahu membahu menghadapinya. (Dalam gambar) Camat Donomulyo Marendra Hengky Irawan saat turun langsung ke lokasi.



MALANGTIMES – Bencana alam kerap melanda Kabupaten Malang. Selain dari sisi tofografi yang memang berada di wilayah yang dikellilingi pegunungan dan perbukitan, Kabupaten Malang juga merupakan wilayah yang dikelilingi sungai-sungai besar dan laut pantai selatan.

Banjir, longsor, angin puting beliung bahkan ancaman tsunami telah jadi bagian kehidupan masyarakat Kabupaten Malang di berbagai wilayah yang terdiri dari 33 kecamatan ini. Hal ini terlihat dari beberapa pekan lalu di Sitiarjo, Sumbermanjing Wetan (Sumawe) yang dilanda banjir dan longsor. Pun di Kecamatan Donomulyo yang terkena longsor dan memutus jalan antardesa di wilayah tersebut.

Wilayah Malang selatan memang termasuk daerah merah bencana alam karena faktor geografis dan tofografisnya. Selain tentunya juga dipengaruhi oleh ulah oknum manusia yang melakukan eksplorasi alam tanpa terkendali. Misalnya pengerukan pasir sungai maupun penebangan pohon-pohon berjenis keras di berbagai perbukitan yang ada di wilayah Malang Selatan tersebut.

Bahkan orang nomor satu di Kabupaten Malang Dr H Rendra Kresna pun tidak menampik bahwa kerusakan alam, khususnya di hutan dan perbukitan, terbilang cukup parah di wilayahnya. "Puluhan ribu hektare hutan kita rusak oleh penebangan liar dan pola bercocok tanam masyarakat. Ini yang menjadi penyebab wilayah kita kerap kena banjir dan longsor," kata bupati Malang beberapa pekan lalu kepada MalangTIMES.

Kerapnya masyarakat dihajar bencana alam tersebut, Pemerintah Kabupaten Malang melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang serta berbagai organisasi yang ada terus menguatkan berbagai program ketahanan dalam menghadapi bencana. Desa siaga bencana dan tangguh bencana pun terus bermunculan disertai dengan pelibatan seluruh elemen masyarakat yang ada dalam persoalan bencana alam tersebut.

Tapi, kekuatan terbesar dalam menghadapi bencana alam di Kabupaten Malang terletak pada pola interaksi masyarakat yang diserap dari nilai-nilai luhur masa lalu. Yaitu gotong royong dan keguyuban yang terus tumbuh walaupun pergeseran nilai-nilai kehidupan semakin deras mengubah perilaku berinteraksi dalam masyarakat saat ini.

Nilai-nilai guyub dan gotong royong masyarakat Kabupaten Malang inilah yang jadi energi terbesar dalam menghadapi bencana alam yang terjadi di berbagai wilayah terbesar kedua di Jawa Timur (Jatim) ini. Bahkan, nilai-nilai ini diikatkan erat dalam visi misi Kabupaten Malang, yaitu Madep Manteb Manetep. Artinya, nilai luhur adopsi leluhur diejawantahkan dalam setiap program kerja organisasi pemerintahan daerah (OPD) Kabupaten Malang di bawah kepemimpinan Rendra Kresna sebagai bupatinya.

Longsor batu besar di desa Ngliyep beberapa hari lalu yang memutus akses jalan menuju pantai ngliyep (Mahendra for MalangTIMES)

Hal ini terlihat jelas, misalnya di Desa Tlogosari, Kecamatan Donomulyo, dan Kecamatan Pagak yang terkena longsor dan memutus jalan penghubung dua desa. Atau saat longsor batuan besar di Dusun Ngliyep, Desa Ngliyep, Kecamatan Donomulyo, yang menutup akses jalan wisata menuju Pantai Ngliyep.

Gotong royong tampil dalam setiap bencana alam tersebut. Warga sekitar bersama-sama dengan Muspika Kecamatan Donomulyo serta para relawan bencana bahu-membahu membuka akses jalan yang terkena bencana tersebut. "Alhamdulillah gotong royong dan kepedulian sebagai nilai-nilai luhur kita masih terus terjaga. Di sini setiap kali terjadi bencana, tanpa diminta. warga langsung bergerak. Singsingkan lengan walau dalam kondisi apa pun," kata Marendra Hengky Irawan, camat Donomulyo, Minggu (29/10) kepada MalangTIMES.

Warga dengan peralatan sederhana, misalnya saat terjadi longsor batu besar di Ngliyep, langsung melakukan gerakan. Pihak Muspika Kecamatan Donomulyo pun, saat warga melaporkan kejadian, langsung bergerak ke lokasi kejadian. Mereka ikut serta membereskan permasalahan bersama warga. "Langsung bergerak setiap kali kita mendapat laporan warga. Ini sebagai bentuk kewajiban kami sebagai perangkat Pemerintahan daerah yang diinstruksikan secara langsung oleh Bapak Bupati dalam melayani masyarakat seoptimal mungkin," ujar Marendra.

Melalui kepekaan dan gotong royong dalam menghadapi bencana alam secara bersama-sama tanpa adanya perbedaan status inilah yang membuat Kabupaten Malang terus bertahan dan semakin kuat dalam menghadapi berbagai permasalahan tersebut. Energi besar  inilah yang menjadi kekuatan pemerintahan Kabupaten Malang di bawah komando Rendra Kresna untuk terus berjuang dan menaklukkan berbagai rintangan dan tantangan yang ada.

Menurut Rendra, kekuatan suatu wilayah tidak hanya berada di tangan para pengambil kebijakan saja. Tapi lebih pada bagaimana masyarakat yang dipimpinnya menjadi kuat, mandiri dan terus menggenggam nilai-nilai luhur masa lalu seperti gotong royong. "Kita berperan sebagai fasilitator. Mendorong dan memberikan wadah untuk nilai-nilai luhur yang terus hidup dalam masyarakat tersebut," ucapnya. (*)

End of content

No more pages to load