MALANGTIMES - Lirik-lirik kritik sosial, kisah pahit percintaan, hingga pengalaman diuber-uber petugas Satpol PP menggebrak panggung sederhana Lejoeng Conspirasy #7. Sebanyak 18 band lokal unjuk kemampuan musikal dalam gelaran parade band di Kampung Ngojel, RW 14 Kelurahan Bunulrejo.

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Karang Taruna setempat sebagai peringatan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap 28 Oktober. Ketua pelaksana acara Dery Bramesta Hadi mengungkapkan, Lejoeng Conspiracy merupakan agenda tahunan yang diinisiasi Karang Taruna RT 8-9-10 RW 14 Kelurahan Bunulrejo. 

Dery menuturkan, ajang tersebut diharapkan menjadi ruang alternatif band-band lokal yang belum mendapat kesempatan merasakan panggung-panggung besar. "Selain dalam rangkaian Sumpah Pemuda, kami ingin agar teman-teman mendapat ruang menampilkan karya mereka," ujar Dery. 

Dia menambahkan, Kota Malang pernah berpredikat sebagai barometer musik Rock Indonesia di era 1970-an hingga akhir 1980-an. Meski terkesan meredup di tahun 2000-an, minat para musikus muda Kota Malang belakangan ini semakin menggeliat bangkit.

"Mereka butuh panggung. Walaupun dibilang ini masih sebatas festival kampung, tetapi band-band besar pun tentu lahir dari panggung-panggung kecil," tambahnya.

Ajang tahunan ini, lanjut Dery, berawal dari kegemaran pemuda setempat dalam bermain band. Sebab banyak pemuda setempat memiliki band baik di lingkungan kerja, sekolah, hingga pertemanan. "Tapi saat ini pesertanya bukan hanya pemuda sini, tapi juga dari kelurahan-kelurahan lain," terangnya.

Selain itu, genre band yang tampil pun semakin beragam. Bukan hanya rock, tetapi juga pop, reggae, punk, dan lainnya. Beberapa band yang naik panggung di antaranya Slanky, Nendes Kombet, BSP, Ruang 23, Lampu Merah, Ocehan Orang To, Ras Tahu Tempe, Primitif, Duwek Lungset, Lafuerza Old School, SkyWay, MBC, Radio Kobong, dan lain-lain. 

Lirik-lirik lagu band-band lokal tersebut juga menarik disimak. Misalnya lirik karya Ruang 23 yang membawakan lagu-lagu punk dengan vokal growling and screaming. Mereka bercerita saat pengalaman mengamen dan digaruk Satpol PP.

Ada juga kritik soal lingkungan yang dinyanyikan band Ras Tahu Tempe. Bergenre reggae, dua vokalisnya membuat ratusan penonton berjoget asyik. "Polusi, erosi, lama-lama menghabisi, nuansa hijau tanah ini. Kini ku bermimpi, di mana rumput hijau dan berseri. Kuingin tak ada lagi, yang merusak keindahan ini," demikian liriknya. 

Ketua RW 14 Kelurahan Bunulrejo Harum Buchori menuturkan bahwa sejak awal gelaran parade band tersebut digelar agar anak-anak muda setempat memiliki kegiatan positif dan berkarya. Selain parade band, ada juga pembacaan teks Sumpah Pemuda dan pentas tari-tari tradisional oleh anak-anak setempat.

"Kegiatan ini semoga bisa memberi kontribusi bagi bangkitnya musik di Kota Malang. Bagi sebagian orang, musik band dianggap mengganggu. Padahal ini memang masa-masa mereka. Hanya bagaimana mengarahkan, bukan melarang," tuturnya.