Bupati Malang Dr Rendra Kresna saat ikut bersama turun ke sawah menanam padi di wilayah Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan. (Tupen Humas for MalangTIMES)
Bupati Malang Dr Rendra Kresna saat ikut bersama turun ke sawah menanam padi di wilayah Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan. (Tupen Humas for MalangTIMES)

MALANGTIMES – Komitmen Bupati Malang Dr H Rendra Kresna terhadap dunia pertanian tidak pernah pupus. Di berbagai kunjungan langsungnya kepada petani di berbagai wilayah Kabupaten Malang, Rendra selalu memberikan dukungan penuh dan motivasi. Seperti yang dilakukannya di Desa Kromengan, Kecamatan Kromengan, dalam acara Brigade Tanam Padi.

Di acara tersebut, bupati yang juga berasal dari keluarga petani itu tanpa canggung berbaur bersama petani di areal sawah dalam rangka tanam padi. Hal ini sebagai bentuk dukungan langsung dari orang nomor satu di Kabupaten Malang ini atas perjuangan para petani dalam mewujudkan ketahanan pangan.

Baca Juga : Viral Surat Stafsus Jokowi untuk Camat, Dicoreti Bak Skripsi hingga Berujung Minta Maaf

“Saya itu keluarga petani, sehingga memahami betapa berat perjuangan petani. Maka, di setiap kesempatan apa pun bersama petani, saya ingin memperlihatkan bahwa mereka tidak berjuang sendirian. Saya dan jajaran Pemerintahan Kabupaten Malang akan selalu berada di samping petani,” kata Rendra, Kamis (26/10) kepada MalangTIMES.

Pernyataan bupati Malang yang bercita-cita di wilayahnya akan terus tumbuh generasi baru petani tersebut didasari adanya berbagai keluhan petani yang disampaikan langsung kepadanya oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Maju Desa Kromengan, Kromengan, Rabu (25/10). Beberapa keluhan dari petani tersebut yang membuat Rendra secara langsung turun lapangan dan memberikan dukungan serta beberapa solusi untuk memecahkan permasalahan yang sedang dihadapi para petani, khususnya di Desa Kromengan.

Masiyo, ketua Gapoktan Maju, mengatakan bahwa kondisi pertanian padi di tahun ini memang cukup membuat mereka kecewa. Pasalnya, produktivitas hasil panen mereka mengalami penurunan dan tidak sesuai dengan ekspektasi para petani. “Cuaca ekstrem adalah salah satu penyebab turunnya hasil panen Gapoktan Maju. Selain permasalahan infrastruktur pertanian yang belum terselesaikan,” ujarnya yang juga menyampaikan di kelompoknya, lahan sawah yang digarap seluas 100 hektare.

Turunnya hasil panen petani tentunya juga berdampak pada pendapatan mereka yang menggantung hidupnya dengan bercocok tanam padi. Efeknya bisa juga membuat para petani beralih pada profesi lainnya. Hal inilah yang membuat Rendra dalam padatnya agenda kerja, langsung menghampiri para petani. Untuk menguatkan dan memberikan jalan keluar kepada para pejuang pangan ini. “Percayalah, kita membutuhkan petani. Saya hormat kepada profesi petani. Walau selalu ada kekhawatiran dalam diri saya,” ucap Rendra.

Kekhawatiran Rendra adalah apabila mereka tidak mau lagi menjadi petani. Padahal, terhadap perjuangan merekalah, ketahanan dan kedaulatan pangan dititipkannya. "Kalau itu terjadi kan bahaya. Bisa-bisa kita akan impor bahan makanan dari negara lain. Itu namanya kita kembali dijajah,” imbuhnya.

Bupati_Rendra_Kresna_tengah_menanam_padi_di_sawah_milik_Gapoktan_Maju_Desa_Kromengan_sebagai_wujud_dukungan_dan_motivasi_petani_agar_terus_berjuang_menjaga_ketahanan_panganBupati Rendra Kresna (tengah) menanam padi di sawah milik Gapoktan Maju Desa Kromengan sebagai wujud dukungan dan motivasi petani agar terus berjuang menjaga ketahanan pangan.

Mengingat pentingnya peranan petani tersebut, Rendra terus memberikan dukungan dan memompa semangat juang para petani. Berbagai hambatan yang terjadi di Gapoktan Maju Desa Kromengan yang juga dialami petani di wilayah Jawa Timur (Jatim), perlu segera untuk dipecahkan dan dicari solusinya secara bersama-sama. Semisal, permasalahan infrastruktur pertanian yang disampaikan oleh Masiyo mengenai penanganan saluran irigasi pertanian baik primer, sekunder dan tersier. 

‘’Menurut aturan untuk saluran tersier, pemerintah daerah tidak boleh ikut turun menangani. Tapi kalau dibiarkan terus juga kontra produktif. Hal ini yang kemudian kami laporkan ke Presiden Joko Widodo agar pemerintah daerah dipertimbangkan kembali bisa ikut menangani saluran tersier,” ujar Bupati.

Baca Juga : Viral Video Warga Beri Semangat kepada Pasien Positif Covid-19

Rendra juga menampung berbagai curhatan para petani dalam upaya meningkatkan produktfitas hasil panen petani yang di target tanam 90 ribu hektar sepanjang tahun 2017. Hingga bulan September target tanam baru 72 ribu hektar. Sementara, luas lahan pertanian di Kabupaten Malang ini hanya 46 hektare sehingga produktivitasnya harus dua kali lipat.

Beberapa curhat petani yang ditampung dan akan dicarikan solusi terbaiknya adalah mengenai  enam pintu air irigasi persawahan mengalami kerusakan dan tidak bisa dipakai. Selain pembangunan jalan usaha tani untuk memudahkan para petani ketika mengangkut hasil pertanian. “Karena saat ini, jalur usaha tani Gapoktan Maju masih tanah liat,” kata Masiyo. 

Masiyo juga menyampaikan untuk kebijakan pemerintah mengenai Kartu Tani, anggotanya membutuhkan adanya sosialisasi. “Agar petani mengerti tentang hal tersebut. Juga tentang berbagai rencana pembangunan infrastruktur yang masuk desa. Kita berharap ada koordinasi terlebih dahulu kepada desa dan masyarakat setempat agar tepat sasaran dengan kebutuhan masyarakat,” lanjut Masiyo.

Berbagai masukan tersebut tentunya secara responsive di tanggapi oleh Bupati Malang. Selain sebagai wujud pelaksanaan dari instruksi Presiden kepada para menteri, gubernur, bupati/walikota tentang permasalahan petani. Untuk mengetahui persoalan petani secara nyata di lapangan, sehingga tahu betul apa yang bisa dilakukan. “Jadi saya berterimakasih kepada petani atas masukannya semua itu. Sehingga saya bisa mengetahuinya,” ujar Bupati yang terus memberikan semangat kepada seluruh petani.

 ‘’Pemerintah akan terus mengoptimalkan bantuan terhadap petani. Jadi, jangan berkecil hati, kami akan terus ada di sisi kalian. Terus bekerja keras menjadikan daerah ini makmur dan kehidupan petani sejahtera,” tegas Rendra yang juga mengatakan bila sawah di Desa Kromengan 1 hektarnya bisa menghasilkan 12 ton padi per musimnya, dengan 100 hektare lahan yang digarap, maka bisa menghasilkan jumlah produksi 1200 ton. “Ini tentunya akan semakin menguatkan ketahanan dan kedaulatan pangan kita. Sekaligus akan meningkatkan taraf hidup petani,” pungkas Rendra. (*)