Melalui forum-forum kecil seperti Jagongan Gayeng Komik, para relawan berusaha mengembalikan masa kejayaan komik Teguh Santosa yang dulu telah mengangkat Kepanjen sebagai bagian industri perkomikan nasional bahkan dunia. (Sawir for MalangTIMES)
Melalui forum-forum kecil seperti Jagongan Gayeng Komik, para relawan berusaha mengembalikan masa kejayaan komik Teguh Santosa yang dulu telah mengangkat Kepanjen sebagai bagian industri perkomikan nasional bahkan dunia. (Sawir for MalangTIMES)

MALANGTIMES - Tidak bisa dipungkiri bahwa perubahan atas berbagai hal, semisal budaya baca komik dengan langsung membaca dari bukunya sendiri, mulai ditinggalkan. Era digitalisasi telah mengubah pola kebiasaan masyarakat, bahkan industri di dalamnya. Lepas dari pro kontra tentang sisi kelebihan dan kekurangannya dalam proses literasi masyarakat saat ini.

Tapi sejarah mengenai romantisme membaca buku komik yang pernah hadir dan jaya sekitar tahun 1970-an tetaplah selalu hangat. Walaupun hanya di lingkaran-lingkaran kecil. Seperti yang hidup di tubuh para relawan Jagongan Gayeng yang berusaha menghidupkan kembali semangat seorang komikus Indonesia sekaligus dunia kelahiran Gondanglegi, Kabupaten Malang, Teguh Santosa.

Baca Juga : HMI Kisip Brawijaya Salurkan Bantuan APD dan Handsanitizer ke RS Saiful Anwar

Dan Kepanjen yang kini menjadi pusat kotanya Kabupaten Malang adalah wilayah kreatif Teguh Santosa dalam melahirkan puluhan karya komik atau cerita bergambar yang mewarnai jagad perkomikan Indonesia, bahkan dunia.

"Di masanya Kepanjen adalah bagian dari sentra industri perkomikan yang diperhitungkan. Keberadaan Teguh Santosa telah menjadikan Kepanjen sebagai ruang kreatif bagi para komikus," kata Sawir Wirastho (38), coffee painting asal Kepanjen, Minggu (22/10) kepada MalangTIMES.

Lewat tangan terampilnya, Kepanjen pun terkenal di jagad komik yang dulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Saat teknologi televisi atau pun digital tidak seramai saat ini.

Terangkatnya Kepanjen saat itu, kata Sawir, berkat kepiawaian Teguh Santosa yang mampu menjembatani antara para kreator komik dengan pasar. "Beliau juga guru bagi para komikus Kepanjen. Sehingga bisa dikatakan saat itu Kepanjen cukup disegani dalam dunia perkomikan Indonesia," ujarnya.

Kepiawaian dan kejeniusannya dalam menorehkan tinta di dalam panel-panel sempit kertas komik. Bahkan pernah membuat sindikasi komik terkemuka Amerika Serikat dan Kanada yaitu Marvel Comics, terpincut dan mempekerjakannya.

 Ia juga jadi ink man, di Gauntlet Comics yang memublikasikan serial Conan, Spiderman, The Punisher. Teguh dipercaya menggarap serial Conan, Alibaba, dan Piranha untuk penerbit dunia itu. "Jejaknya tersebut secara langsung juga membawa nama Kepanjen di kancah perkomikan dunia," ujar Sawir.

Baca Juga : Peduli Covid-19, Hawai Grup Sumbang Ratusan APD ke Pemkot Malang

Sayangnya, sejak teknologi digital mewabah dengan segala perilakunya, dunia perkomikan semakin memasuki senja. Bahkan bisa terbilang mati suri. Kekayaan lokalitas dalam cerita komik, semakin bergeser dan menghilang. Para kreator komik dan artisan tetap ada, bahkan semakin banyak. "Tapi mereka lebih banyak  mengerjakan pesanan dari luar. Untuk produk komik dalam negeri terbilang minim. Ini tidak lepas dari pengaruh pasar saat ini," terang Sawir.

Di sisi lain, yaitu Pemerintahan Kabupaten Malang pun belum terlihat untuk ikut bergerak bersama para relawan dalam meneguhkan kembali semangat Teguh Santosa dalam konteks membumikan komik sebagai wahana pembelajaran. Atau sebagai peneguh kembali mengenai Kepanjen sebagai kota kreatif  industri komik atau cergam dalam konteks dunia kepariwisataan.

"Peran pemerintah tentunya sangat penting. Jika bisa diintegrasikan antara kreator dan pasar melalui kebijakan pemerintahan," ucap Sawir yang mencontohkan mengenai  bahan ajar dan buku di sekolahan PAUD misalnya. "Apabila ada sinergitas dengan pemerintahan, pasar ini bisa dibentuk. Bahan ajar dan buku dikerjakan para komikus dengan mengangkat lokal jenius melalui komik. Daripada dibanjiri tokoh luar," urai Sawir.

Pola-pola inilah yang terus dicoba para relawan dalam kembali mengusung semangat Teguh Santosa di masa yang gegap oleh teknologi digital saat ini. Tentunya sekali lagi peran pemerintah menjadi bagian yang tidak terpisah.

Saatnya Kepanjen dikembalikan ke masa kejayaannya dalam industri komik.