Inisiator Hari Santri Nasional Gus Thoriq bin Ziyad (kiri) dan Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Husnul Hakim saat konfrensi pers di RM Nayamul, Kepanjen, Jumat (20/10) (Nana)
Inisiator Hari Santri Nasional Gus Thoriq bin Ziyad (kiri) dan Ketua GP Ansor Kabupaten Malang Husnul Hakim saat konfrensi pers di RM Nayamul, Kepanjen, Jumat (20/10) (Nana)

MALANGTIMES - Hari Santri Nasional (HSN) 2017 yang ketiga kalinya diperingati secara serentak, terus mengalami peningkatan kualitas dalam tema maupun kuantitas pesertanya.

Di Kabupaten Malang HSN 2017 yang digelar di Tumapel Singosari akan dilaksanakan tanggal 22 Oktober dengan beragam kegiatan yang telah dimulai sejak beberapa hari lalu.

Secara tematik pun HSN 2017 di Kabupaten Malang ini memiliki daya dukung kuat dalam mewarnai kondisi bangsa dan negara saat ini yang terus dirongrong oleh berbagai faham radikal yang mengarah kepada perpecahan bangsa dan negara.

"Salah satu yang akan kita angkat dalam HSN adalah dukungan penuh terhadap percepatan perubahan Perpu Ormas menjadi Undang-undang," kata Thoriq bin Ziyad inisiator HSN 2017 saat konferensi pers, Jumat (20/10).

Nantinya, lanjut Thoriq, bentuk dukungan tersebut akan disimbolisasikan dengan tanda tangan ribuan santri yang akan hadir di HSN dalam bentangan kain putih panjang.

Dari informasi Panitia Pelaksana HSN 2017, acara akan diikuti ribuan santri yang ada di  Malang Raya dan juga dari 16 Pondok Pesantren besar yang ada di Jawa Timur (Jatim). Ribuan santri Malang Raya inilah yang akan bersepakat untuk mendukung percepatan regulasi mengenai organisasi masyarakat (ormas) yang kini dinaungi oleh Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2017 menjadi Undang-Undang.

"Dasarnya jelas untuk stabilitas kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Jadi bagi mereka yang masih terus menolaknya, perbanyak berbaik sangka terhadap pemerintah," ujar pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Babussalam, Gondanglegi ini.

Di kesempatan yang sama, Ketua GP Ansor Kabupaten Malang juga bersepakat bahwa saatnya berbagai organisasi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai ke-Indonesiaan dan menjadikan radikalisme sebagai komando perjuangannya untuk segera ditertibkan.

"Melalui UU akan semakin tegas. Karena itu kami mendukung penuh adanya harapan seluruh santri Malang Raya untuk percepatan perubahan regulasi tersebut," ujar Husnul Hakim Sy Ketua GP Ansor Kabupaten Malang.

Gerakan santri tersebut juga menurut M Yusuf Azwar Anas Wakil Sekertaris PC NU Kabupaten Malang dalam upaya menegakkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Faham-faham yang akan merusak nilai demokratisasi dan menafikkan perbedaan yang merupakan keniscayaan sejarah Indonesia, menjadi musuh bersama bangsa ini.

"Karena kita hidup berbangsa maka pendekatan aturan positif yang wajib dikedepankan dalam meminimalisir faham tersebut," ucap Yunus. Karena, lanjutnya, faham-faham tersebut tidak bisa hilang begitu saja. 

"Dia akan bermetamorfosis dan terus ada. Maka pencegahannya adalah penguatan regulasi. Kami siap mendukung hal tersebut," tegas Yusuf.