MALANGTIMES - Tiga bulan jelang tahun pilkada 2018, partai-partai politik (parpol) di Kota Malang masih menimbang jago yang bakal dicalonkan.

Termasuk Partai Golongan Karya (Golkar) yang masih menunggu November mendatang untuk menetapkan pilihan.

Tapi setidaknya, partai berlambang pohon beringin itu telah mengantongi tiga nama berdasarkan survei internal yang dilakukan. 

Ketua Departemen Pemenangan Pemilu Jawa III Partai Golkar Ridwan Hisjam mengungkapkan, hingga sekarang antar parpol masih saling mengintip dan menunggu pergerakan parpol lain. Namun dia menjamin Golkar tidak akan berlama-lama menentukan sikap.

"Sampai kapan akan terus saling intip, semoga November sudah fix, sudah ada yang turun (rekomendasi) dari Golkar," ujarnya saat ditemui MalangTIMES beberapa waktu lalu. 

Menurutnya saat ini partai harus bergerak cepat karena pendaftaran calon ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) bakal dimulai Januari mendatang. Untuk calon yang akan diusung Golkar di Kota Malang, Ridwan mengaku partai telah melakukan survei internal.

"Kami lihat dari survei, sekarang memang yang tertinggi masih petahana (Wali Kota Malang Moch Anton), posisi kedua wawali (Wakil Wali Kota Malang Sutiaji) dan ketiga Sofyan Edi (Ketua DPD Partai Golkar Kota Malang)," ujar Anggota Komisi X DPR RI itu. 

"Kami masih menimbang, Sofyan Edi ini kan calon internal. Nah, nanti bisa nomor satu (calon wali kota) atau nomor dua (calon wakil wali kota) dan berpasangan dengan siapa," tambahnya.

Lamanya masa penentuan sikap partai itu, lanjut Ridwan, karena saat ini suhu politik di Kota Malang tengah memanas pasca kedatangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) RI. 

Golkar juga terus melakukan konsolidasi politik mulai tingkat kota hingga pusat. Ridwan menguraikan, untuk tingkat kota pihaknya telah berkomunikasi dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) dan juga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), serta Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

"Saya juga komunikasi dengan PKB pusat. Yang jelas kami mengusung Sofyan Edi, tapi tidak mematok nomor satu. Kami cukup berhati-hati untuk pilkada Kota Malang ini," ujarnya.

Ridwan menegaskan bahwa Golkar bukan sekadar mendukung seseorang, melainkan juga mengukur lawan yang akan ditantang.

Menurutnya ada tiga aturan partai yang ttetap dijalankan menjelang Pilkada Serentak 2018. Pertama Golkar menang, kedua Golkar ikut menang, dan ketiga konsolidasi partai.

"Tiga aturan itu yang akan jadi pegangan kami. Kalau bisa Golkar menang, berarti ada kader yang ikut dalam pilkada," terangnya.

"Atau ikut memang seperti di Kota Batu, kami dukung calon partai lain yang memiliki kans kuat," tambahnya. Jika dua pilihan tersebut tidak memungkinkan, Golkar akan berkoalisi dengan partai lain hingga cukup memiliki kekuatan suara.

"Karena kalau hanya sekadar egosentris, sekarang mau menang atau sekadar menampilkan calon," pungkasnya.