Ilustrasi awan tebal di atas wilayah Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Ilustrasi awan tebal di atas wilayah Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang mengimbau agar masyarakat berhati-hati menghadapi musim pancaroba atau peralihan musim kemarau ke musim penghujan. Terlebih bencana seperti tanah longsor dan puting beliung kerap terjadi di musim peralihan. 

Bahkan, dua bencana tersebut mendominasi catatan kebencanaan Kota Malang dua tahun terakhir. Tahun ini, hingga September tercatat ada 85 kejadian berncana. Tertinggi ditempati tanah longsor dengan 36 kali kejadian. Disusul puting beliung dan angin kencang sebanyak 25 kejadian.

Baca Juga : Enam Gunung Erupsi Nyaris Bersamaan karena Cari Kestabilan Baru

Sementara itu, pada 2016 lalu kejadian tanah longsor tercatat sebanyak 55 kali. Sementara puting beliung dan angin kencang yanng mengakibatkan pohon tumbang terjadi 20 kali.

"Sekarang sudah turun beberapa kali hujan permulaan, kami mendapat informasi dari BMKG Karangploso bahwa Kota Malang sudah mulai masuk musim pancaroba," ujar Kepala BPBD Kota Malang J Hartono. 

Dia menegaskan agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Sebab musim pancaroba identik dengan angin kencang dan juga hujan deras yang mendadak.

Warga diminta mulai memperhatikan lingkungan sekitar. Misalnya kemungkinan pohon-pohon yang lapuk maupun bangunan-bangunan yang membahayakan.

"Kalau ada, bisa dilaporkan ke bagian pertamanan untuk dicek, kalau butuh dipangkas akan dipangkas agar tidak membahayakan," ujar Hartono. 

Mengenai tingginya angka tanah longsor, Hartono menguraikan bahwa hal tersebut merupakan kosekuensi karena Kota Malang dilintasi lima sungai besar. Menurutnya hampir semua bencana longsor terjadi di daerah aliran sungai (DAS).

Baca Juga : Kilas Balik Jejak Covid-19 di Kota Malang Hingga Pengajuan Status PSBB

"Makanya pemerintah selalu mengimbau agar masyarakat tidak mendirikan bangunan liar di bantaran sungai," ujarnya. 

Hartono menambahkan, bahwa peralihan musim ini diperkirakan akan berlangsung sampai akhir Oktober 2017. Sedangkan puncak musim hujan ajan terjadi mulai bulan Januari hingga Februari 2018 mendatang.

Wilayah Kota Malang dan sekitarnya diprediksi akan diguyur hujan lebat, angin kencang beserta petir. "Pada masa transisi musim ini hujannya tidak menentu dapat berubah sewaktu-waktu," jelas Hartono.

Ia pun mengimbau kepada masyarakat agar selalu waspada saat melakukan aktivitas di luar ruangan mengingat bencana alam seperti pohon tumbang dan longor selalu mengintai saat peralihan musim ini.

"Saya sarankan masyarakat melihat prakiraan cuaca yang dirilis BMKG, supaya dapat mengantisipasi cuaca di wilayahnya masing-masing," tandasnya.