Meski di Pelosok Daerah, Dokter Ini Setia Abdikan Diri Merawat Masyarakat Kabupaten Malang

Oct 06, 2017 16:00
dr. T. Prayitno Notohusodo berjuang sejak tahun 1990 di berbagai pelosok Kabupaten Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)
dr. T. Prayitno Notohusodo berjuang sejak tahun 1990 di berbagai pelosok Kabupaten Malang (foto: Wahida Rahmania Arifah/ MalangTIMES)

MALANGTIMES - Mungkin di benak Anda menjalani profesi sebagai dokter tidak perlu repot karena sudah dibantu oleh tenaga perawat. 

Nyatanya dokter pun bukan profesi semudah yang dibayangkan. Apalagi bila harus berjuang di tengah masyarakat pedesaan di pelosok Kabupaten Malang. Perjuangan itu dialami oleh seorang dokter bernama dr. T. Prayitno Notohusodo.

Baca Juga : Glenn Fredly Meninggal Dunia Tepat setelah 40 Hari Kelahiran Anak Pertamanya

Dokter yang akrab disapa Prayit itu berjuang di pelosok desa sejak kurun waktu 1990-an. Kala itu, ia ditempatkan di puskesmas Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang.

"Waktu itu karena kami dokter kan harus ditempatkan di wilayah pedesaaan saya kebagian di Ampelgading. Sekitar tahun 1990 lalu pindah ke daerah Gedangan," cerita Prayit saat ditemui MALANGTIMES di Puskesmas Turen Jalan Panglima Sudirman Nomor 120 Turen Kabupaten Malang, Jum'at (6/10/2017).

Prayit mengenyam pendidikan dokter di Universitas Tarumanegara Jakarta. Ia memang lahir dan besar di Jakarta. Tahun 1990 ia mulai menapaki karir sebagai tenaga medis di Kabupaten Malang. 

Sempat berpindah-pindah, tahun 1996 hingga 2001 ia ditempatkan di pelayanan kesehatan Wonokerto, sebuah desa yang terletak di Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. 

Soal jarak, tentu Anda sudah bisa menebak puluhan kilometer yang setiap hari ditempuh sang dokter. Tetapi perjuangan itu bagi Prayit tidak masalah. Justru mengubah pola pikir masyarakat pedesaan yang buat ia ekstra sabar. 

Ia mengaku masyarakat pedesaan belum banyak menyadari pentingnya mengatur pola hidup sehat. Masyarakat pedesaan, kata Prayit, cenderung masih mengabaikan hal-hal penting seperti misalnya pola mandi dan BAB (Buang Air Besar) yang masih banyak dilakukan di sungai sekitar tempat tinggal mereka. 

"Bagi saya yang sulit itu merubah mindset masyarakat pedesaan. Mereka masih berpikir kalau sakit baru berobat. Padahal sebaiknya kan bagaimana mencegah agar tidak terjadi penyakit itu. Dan yang susah menyadarkan betapa pentingnya memanfaatkan fasilitas MCK (Mandi, Cuci, Kakus)," imbuh pria berkulit terang itu. 

Baca Juga : Disambut Hangat Warga, Sekda Didik Budi : Malang Hebat...

Ya, Prayit sudah banyak mendengar keluhan pasien menderita diare. Apalagi berdasarkan data terbaru, angka tertinggi penderita diare sebanyak 14 persen terjadi di wilayah Kecamatan Turen. 

"Ya itu, susah untuk mengajak mereka berubah. Mandi atau BAB (Buang Air Besar) jangan di kali. Itu berdampak bagi kesehatan. Nah itu yang sulit membuat warga sadar karena mereka masih menganggap air sungai itu bersih karena mengalir," papar Kepala Puskesmas Turen itu. 

Tetapi, Prayit tak kehabisan ide. Beberapa langkah ia lakukan termasuk mengumpulkan kader-kader kesehatan. Biasanya ia dibantu oleh tenaga medis dari berbagai instansi kesehatan untuk sosialisasi kepada masyarakat sekitar.

"Tahun 2019 target kami dan pemerintah Kabupaten Malang ialah masyarakat tidak lagi melakukan aktivitas MCK di sungai. Mereka kita upayakan terus mulai menggunakan fasilitas kamar mandi umum ataupun mulai membangun di masing-masing rumah," tandasnya. (*)

Topik
dokter Prayitno Notohusodopelosok Kabupaten Malang

Berita Lainnya

Berita

Terbaru