Teh Asli Malang, Kabarnya Kini (6)

Produksi dalam Negeri Menurun, Teh Semakin Jadi Tren di Kalangan Remaja Perkotaan

Oct 04, 2017 19:18
Asisten Manager Kebun Teh Wonosari PTPN XII Santika Permana saat dilokasi kebun teh, Rabu (05/10) (Imam Syafii/MalangTIMES)
Asisten Manager Kebun Teh Wonosari PTPN XII Santika Permana saat dilokasi kebun teh, Rabu (05/10) (Imam Syafii/MalangTIMES)

MALANGTIMES - Minuman teh dengan berbagai variasi rasa dan dijajakan melalui berbagai sistem franchise sedang mewabah di kalangan masyarakat Malang Raya.

Berbagai booth teh diserbu masyarakat dan dijadikan salah satu minuman favorit, khususnya para remaja di perkotaan.

Tapi, kondisi produk teh yang digandrungi oleh masyarakat, ternyata bahan bakunya mengalami penurunan produksi.

Hal ini terlihat dari data PT Perkebunan Nusantara XII yang terletak di Wonosari, Kecamatan Lawang sebagai salah satu wilayah penghasil teh terbaik di dunia.

Hal ini diperkuat dengan pernyataan  Manager Kebun Teh Wonosari PTPN XII, Budi Karyono melalui Santika Permana Asisten Manager yang menyatakan produk teh memang cenderung menurun di pasar Internasional maupun domestik.

"Teh masih kalah populer ketimbang kopi. Selain tentunya serbuan teh dari Kenya yang membanjiri pasar juga menjadi penyebab," kata Santika, Rabu (4/10/2016) kepada MalangTIMES.

Selain hal tersebut, harga teh dunia cenderung turun. Harga terakhir US$ 2,48 per kg dari sebelumnya sempat US$ 3 per kg. Merosotnya harga juga dikarenakan serbuan teh Kenya membuat pasar kelebihan produk.

Budaya minum teh di kalangan masyarakat pun, bila dibandingkan dengan kopi memang masih terbilang cukup jauh. Walaupun tren minum teh dengan racikan beragam rasa kini mulai mencuri perhatian masyarakat.

Teh, terutama di wilayah perdesaan, misal di Kabupaten Malang masih dianggap sebagai minuman biasa, kelasnya setara air putih. 

"Kalau di sini budaya minum teh ya dibilang tidak ada mas. Yang ada ya ngopi,"ujar Darmansyah (23) warga Gampingan, Pagak.

Di wilayah Lawang dan Singosari yang merupakan wilayah sentra perkebunan teh, masyarakatnya pun tidak jauh berbeda dengan lainnya. Teh, hanya dijadikan minuman sampingan dari kebiasaan minum kopi dan air putih.

"Minum teh paling-paling ya es teh. Itu pun tidak setiap hari. Kebiasaan saja, mas," terang Pramono, warga Lawang.

Lepas dari hal tersebut, minuman teh khususnya di perkotaan telah mengalami kenaikan. Menjadi trend baru di kalangan remaja.

Berbagai  produk teh dengan tagline teh asli malang dan lainnya bermunculan dan mencitrakan otentisitas bahan bakunya yang produk asli pribumi.

Tapi betulkah penurunan produksi tidak mempengaruhi penjualan teh di masyarakat?

Santika mengatakan untuk menambah produksi teh bagi pasar Eropa dan domestik, pihaknya memang terus melakukan berbagai strategi. Misalnya, mempercepat proses petik teh untuk meningkatkan produksi selama kemarau.

Berbagai desain produk komoditas teh Wonosari diproses orthodox dan CTC (Cutting, Tearing, dan Curling).

Produksi pun  dipacu hingga mencapai 1,7 ton per ha meski diakuinya selama kemarau terjadi penurunan produksi dari sebelumnya bisa mencapai rata-rata 2 ton per ha. 

"Walau ada trend penurunan, tapi pasar tetap menyerap produk teh kita. Untuk pasar lokal juga kita coba terus masuk,"ujar Santika yang menyebut beberapa produk tehnya yang dipasarkan di dalam negeri.

Topik
teh malangteh asli malangbisnis teh malangKebun Teh Wonosari

Berita Lainnya

Berita

Terbaru